Senin, 28 September 2026

Kenapa judulnya terlalu menantang? membedah buku karya Feby Indirani yang kontroversial

 Kasus terbaru yang sedang ramai dibahas dan ramai di media sosial adalah buku kumpulan cerpen berjudul "Memburu Muhammad" karya Feby Indirani.

Isu ini mencuat setelah acara diskusinya di Bogor sempat batal akibat adanya gelombang penolakan dari sebagian kelompok masyarakat. Ramai di media sosial (salah satunya narasi yang disebarkan akun Instagram) tuduhan bahwa buku tersebut beserta karya sang penulis sebelumnya (Bukan Perawan Maria) mengandung unsur dugaan penistaan agama.

Pihak kepolisian (Polda Metro Jaya) pun turun tangan untuk menelusuri dan mendalami informasi yang beredar di media sosial tersebut, termasuk mengusut potensi ancaman SARA atau narasi yang menyesatkan publik.

Kedua buku karya Feby Indirani tersebut—Bukan Perawan Maria (2017) dan Memburu Muhammad (2020)—merupakan bagian dari apa yang sang penulis sebut sebagai trilogi "Islamisme Magis".

Buku-buku ini bukan novel fiksi panjang tunggal, melainkan kumpulan cerita pendek (cerpen) yang mengusung gaya surealis, fantasi, dan satire. Penulis menggunakan humor, alegori, dan situasi konyol/absurd untuk mengkritik perilaku, kesucian palsu, serta fanatisme beragama masyarakat modern.

1. Bukan Perawan Maria (2017)

Buku ini berisi 19 cerita pendek yang menyoal fenomena sosial dan keagamaan sehari-hari dengan cara yang tidak biasa. Penulis mengusung pesan dasar: ajakan untuk rileks, merenungkan nilai esensial agama, dan tidak berlebihan meributkan hal-hal yang sifatnya luaran/simbolis semata.

Beberapa gambaran/cerita di dalamnya antara lain:

  • Penghentian Tugas Malaikat: Situasi absurd ketika para malaikat ingin mengajukan cuti karena pencatatan dosa dan pahala manusia kini bisa digantikan oleh teknologi canggih.
  • Iblis yang Ingin Pensiun: Iblis merasa frustrasi dan bosan karena tugasnya menggoda manusia sudah tidak lagi menantang—manusia modern dinilai sudah sangat mahir membuat dosa sendiri tanpa perlu digoda.
  • Babi yang Ingin Masuk Islam: Cerita satir tentang seekor babi (Baby) yang memohon untuk menguncapkan syahadat dan menjadi muslim, namun memicu perdebatan sengit di kalangan majelis agama tentang status keharamannya.
  • Judul Utama (Bukan Perawan Maria): Menyenggol persepsi masyarakat terhadap status kesucian, moralitas perempuan, dan stigmatisasi sosial di sekitar isu keagamaan.

2. Memburu Muhammad (2020)

Merupakan buku kedua dalam trilogi tersebut, berisi 19 cerpen yang kembali memakai pendekatan magical realism dan satire politik-religius.

Beberapa gagasan dan cerita utamanya mencakup:

  • Cerpen "Memburu Muhammad": Mengisahkan Abu Lahab yang mendatangi kantor Dukcapil di era modern untuk mencari sosok bernama "Muhammad". Ketika disodorkan nama-nama figur publik bernama Muhammad (seperti politisi atau pejabat korup), Abu Lahab menolaknya karena sosok yang dicarinya tidak munkar dan tidak haus kekuasaan. Cerita ini menjadi satire menohok bagi orang-orang yang membawa nama suci tetapi perilakunya jauh dari teladan sang nabi.
  • Cerpen "Rahasia Rumah Kami": Sebuah alegori tentang gosip dan pembicaraan buruk (ghibah). Seorang anak melihat orang tuanya dan masyarakat sekitar gemar memakan daging manusia secara harfiah saat menggunjingkan orang lain, merujuk pada perumpamaan dalam ajaran agama bahwa menggunjing bagaikan memakan daging saudaranya sendiri.
  • Kritik atas Pembatasan Perempuan: Mengangkat isu kekerasan atau kejahatan terhadap perempuan di mana solusinya sering kali justru membatasi ruang gerak perempuan, bukan menindak para pelakunya.

Mengapa Karya-Karya Ini Memicu Kontroversi?

Gaya penulisan satire dan pemakaian simbol-simbol yang sacrosanct (nama tokoh suci, malaikat, iblis, syahadat) sering kali dinilai sensitif oleh sebagian kalangan.

  • Perspektif Pendukung/Apresiasi: Menganggap buku ini sebagai bentuk otokritik yang cerdas dan jenaka terhadap kerapuhan moral, komodifikasi agama, dan sikap meributkan hal-hal superfisial.
  • Perspektif Penentang/Kritikus: Menilai judul, permisalan, dan analogi fantasi di dalamnya terlalu jauh serta berpotensi mencederai atau melecehkan simbol-simbol kesucian agama.

Tradisi menggunakan satire terhadap hal-hal yang dianggap suci (sacrosanct) memiliki sejarah panjang dan tidak tumbuh dari satu tempat saja, melainkan berkembang secara independen di berbagai belakangan peradaban dunia.

Jika ditinjau secara fakta sejarah, model penulisan satire keagamaan/situs suci yang ada hari ini—khususnya yang memengaruhi sastra modern—dapat ditelusuri dari dua akar sejarah utama:

1. Akar Tradisi Barat (Yunani Kuno & Era Pencerahan)

Di dunia modern, konvensi penulisan satire terhadap institusi dan dogma agama paling banyak mengadopsi model dari Barat (Eropa).

  • Yunani & Romawi Kuno (Abad ke-5 SM – Abad ke-1 M):
    • Drama satire Yunani Kuno (seperti karya Aristophanes) secara terbuka mengejek para dewa mitologi Olimpus (seperti Dionysus atau Zeus) serta para pendeta. Para dewa digambarkan memiliki sifat-sifat cela manusia seperti serakah, penakut, dan kekanak-kanakan.
    • Penyair Romawi seperti Horace dan Juvenal memformalkan bentuk satire menjadi genre sastra untuk membedah kebobrokan moral dan keagamaan.
  • Era Renaisans & Reformasi Gereja (Abad ke-15 – 16 M):
    • Erasmus dari Rotterdam menulis In Praise of Folly (1511), sebuah satire tajam yang mengejek tradisi ritual takhayul, korupsi para paus, dan para biarawan Gereja Katolik.
    • François Rabelais menulis Gargantua and Pantagruel yang menggunakan komedi absurd, grotesk, dan humor kasar untuk membongkar hipokrisi keagamaan.
  • Era Pencerahan / Enlightenment (Abad ke-18 M):
    • Voltaire melalui novelnya Candide (1759) mengejek kebiasaan gereja, dogma takdir, dan doktrin keagamaan yang dianggap menghentikan daya pikir kritis manusia. Model Voltaire inilah yang menjadi cetak biru (blueprint) satire institusi agama modern di dunia Barat.

2. Akar Tradisi Islam & Timur Tengah Kuno

Penggunaan humor, cerita absurd, dan otokritik terhadap pemahaman agama bukan hal yang sepenuhnya "diimpor dari Barat", melainkan juga memiliki akar fakta sejarah di dunia Timur/Islam.

  • Sastra Arab Klasik (Abad ke-8 – 11 M):
    • Al-Jahiz (Abad ke-9 M, era Kekhalifahan Abbasiyah) menulis karya-karya bertema satire sosial dan agama, seperti Kitab al-Bukhala (Buku Orang-Orang Kikir), yang menyindir ulama atau figur agama yang bertindak munafik.
    • Abu al-Ala al-Ma'arri (Abad ke-11 M) menulis Risalat al-Ghufran (Risalah Pengampunan). Dalam karya ini, ia menceritakan perjalanan imajiner ke surga dan neraka di mana ia bertemu dengan para penyair pagan dan ulama, serta mengejek fanatisme agama. Karya ini dianggap oleh para sejarawan sastra sebagai salah satu inspirasi utama dari karya legendaris Dante Alighieri, Divine Comedy.
  • Tradisi Humor Sufi & Hikayat (Abad ke-13 M):
    • Figur seperti Nasreddin Hoja (Abu Nawas / Nasruddin) menggunakan anekdot konyol dan situasi absurd untuk menyindir para kadi (hakim agama), raja, dan ahli fikih yang kaku atau sok tahu.

Perbedaan Pendekatan Modern

Meskipun satire agama ada di kedua tradisi, terdapat perbedaan dalam perkembangan sejarahnya:

  1. Di Barat: Sejak era Pencerahan, satire terhadap agama berkembang menjadi bagian dari hak kebebasan berekspresi (secular critique) dan kritik sistemik terhadap otoritas gereja.
  2. Di Dunia Islam/Timur: Satire klasik umumnya berfokus pada otokritik terhadap perilaku pemeluk agama (seperti sifat munafik, kesombongan spiritual, atau kekakuan memahami teks), bukan bertujuan menyerang zat Tuhan atau teks suci itu sendiri.

Penulis satire modern (seperti dalam gaya realisme magis yang dipelopori penulis Amerika Latin seperti Gabriel García Márquez, lalu diadaptasi ke dunia Timur) biasanya menggabungkan kedua pendekatan ini: menggunakan elemen fantasi absurd Barat sekaligus satir sosial-religius lokal.

Feby Indirani secara terbuka mengakui bahwa ia lahir dan besar sebagai seorang Muslim. Namun, gaya penulisan dan gagasan kritisnya kerap diasosiasikan dengan ideologi sekuler-liberal atau pemikiran keislaman progresif.

Secara gaya sastra dan pendekatan ideologis, model penulisan yang diusung oleh penulis ini menggabungkan beberapa sumber pengaruh:

1. Pengaruh Sastra: Model Realisme Magis (Magical Realism)

Istilah "Islamisme Magis" yang dicetuskan oleh Feby Indirani merupakan adaptasi langsung dari genre Realisme Magis (Magical Realism).

  • Genre ini sangat dipengaruhi oleh tradisi sastra Amerika Latin—seperti karya Gabriel García Márquez (100 Years of Solitude)—dan penulis Timur Tengah modern seperti Salman Rushdie atau Orhan Pamuk.
  • Model ini mencampurkan realitas sosial sehari-hari dengan elemen imajinasi/fantasi yang absurd, ajaib, atau tidak masuk akal untuk menyampaikan pesan kritik atau sindiran tanpa terkesan seperti ceramah langsung.

2. Pengaruh Model Kritik: Tradisi Satire Barat & Otokritik

Dalam hal menyentuh ranah sacrosanct (simbol-simbol suci):

  • Elemen Sekuler-Liberal (Kritik Institusi/Dogma): Penulis menggunakan kebebasan ekspresi individual dan rasionalisme untuk menguji dogma, ritual, atau doktrin keagamaan. Pendekatan ini merupakan ciri khas model satire keagamaan Barat yang menekankan hak individu untuk mempertanyakan atau mengkritik tradisi.
  • Elemen Otokritik Internal (Gaya Progresif): Dari kacamata penulis, ia tidak sedang memposisikan diri sebagai "orang luar" yang memusuhi agama, melainkan melakukan otokritik terhadap perilaku atau fenomena beragama di masyarakat.

Mengapa Publik Melihatnya Condong Sekuler-Liberal?

Kesan bahwa Feby condong ke arah sekuler-liberal muncul karena beberapa alasan:

  • Penilaian atas Otoritas Tradisional: Karya-karyanya kerap menggugat atau membongkar kepatuhan kaku terhadap figur otoritas agama (seperti kiai, institusi pesantren, atau aturan formal).
  • Penggunaan Dekonstruksi: Ia menempatkan nama-nama atau figur suci dalam situasi-situasi duniawi atau situasi konyol modern untuk memperlihatkan jarak antara esensi ajaran agama dan perilaku pemeluknya.
  • Pengusungan Isu Sensitif: Pendekatan yang menyenggol isu seksualitas, hak-hak perempuan, dan moralitas sosial menggunakan perspektif kebebasan individu sangat identik dengan gagasan-gagasan keislaman liberal atau progresif.

Sudut pandang tersebut memang menjadi salah satu poin krusial yang sering memicu perdebatan sengit dalam diskusi sastra maupun kritik sosial, khususnya ketika isu kesetaraan gender diangkat melalui media satire.

Dalam konteks karya-karya berunsur narasi kritis atau feminisme, keresahan mengenai penulisan yang terkesan "pria tidak punya hak" biasanya bersumber dari beberapa hal berikut:

1. Pola Narasi Antagonist vs. Victim (Laki-laki sebagai Antagonis)

Dalam banyak karya fiksi berperspektif feminis atau progresif, karakter pria kerap ditempatkan dalam posisi stereotipikal: sebagai pemegang kendali otoritas, figur patriarkis yang kaku, atau sumber penindasan.

  • Dampaknya: Pembaca (terutama pria) merasa narasi tersebut berat sebelah (one-sided). Hak-hak pria, beban psikologis, serta kompleksitas masalah yang dihadapi laki-laki dalam struktur masyarakat sering kali dikesampingkan atau tidak dianggap relevan.

2. Generalisasi Isu Sistemik

Satire sering menggunakan teknik eksagerasi (pembesaran masalah) untuk menyampaikan poin utama. Namun, ketika eksagerasi ini menyasar perilaku pria secara umum:

  • Muncul kesan bahwa seluruh laki-laki diposisikan sebagai pihak yang salah atau diuntungkan oleh sistem.
  • Hal ini menciptakan ketidaknyamanan karena mengabaikan kenyataan bahwa pria juga mengalami berbagai tekanan sosial, kewajiban berat, dan keterbatasan ruang berekspresi.

3. Benturan Nilai Budaya dan Keagamaan

Di masyarakat yang memegang teguh nilai tradisional atau agama, konsep peran gender sudah memiliki struktur hak dan kewajiban yang berimbang bagi laki-laki maupun perempuan. Ketika narasi feminisme masuk dengan kerangka berpikir Barat yang menuntut kesetaraan absolut tanpa mempertimbangkan pembagian peran bawaan tersebut, pendekatan ini sering dinilai terlalu menyudutkan posisi laki-laki dan merusak tatanan yang sudah ada.

Sastra satire memang dirancang untuk memicu reaksi dan ketidaknyamanan. Namun, batas antara kritik sosial yang membangun dengan generalisasi yang terkesan memojokkan satu kelompok selalu menjadi ruang perdebatan yang terbuka bagi para pembaca.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar