Minggu, 27 September 2026

Menjawab pernyataan Gus Wafi


 Klaim mengenai pernyataan Qatadah as-Sadusi ini memang sering muncul dalam perdebatan teologi (kalam) antara kelompok Asy'ariyah dan Salafiyah/Atsariyah.

1. Titik Dinukilnya Riwayat dalam Tafsir at-Thabari

Pernyataan yang dimaksud terdapat dalam Tafsir at-Thabari (Jami' al-Bayan), khususnya saat menjelaskan ayat-ayat terkait Nuzul (turunnya Allah) atau kedatangan Allah pada hari kiamat, serta interpretasi frasa al-Istiwa atau perbuatan Allah.

Di antara nukilan yang sering dirujuk adalah riwayat Qatadah mengenai firman Allah:

"Apakah mereka tidak menanti-nanti melainkan datangnya Allah dalam naungan awan..." (QS. Al-Baqarah: 210)

Dalam menjelaskan makna "datangnya Allah" atau sifat-sifat perbuatan (Sifat al-Fi'liyyah), dinukilkan ucapan/pemahaman dari sebagian Salaf (termasuk ucapan yang dinisbatkan kepada Qatadah):

\text{"Allah datang sebagaimana yang Dia kehendaki, tanpa berpindah (intiqal) dan tanpa berubah (tghayyur)."}

2. Bagaimana Kelompok Asy'ariyah Menggunakannya

Kelompok Asy'ariyah/Maturidiyah menggunakan nukilan ini sebagai argumen utama untuk mendukung metodologi tanzih (mensucikan Allah dari sifat-sifat makhluk):

  • Bantahan terhadap Tajsim/Tasybih: Asy'ariyah berargumen bahwa berpindah tempat (intiqal), bergerak (harakah), dan berubah (taghayyur) adalah sifat mendasar dari materi/makhuk (hadits).
  • Bukti Salaf Murni Tanzih: Menurut mereka, fakta bahwa seorang Tabi'in senior seperti Qatadah menegaskan "Allah tidak berpindah/berubah" membuktikan bahwa ajaran untuk menafikan sifat gerak/pindah dari Allah bukanlah "bid'ah filsafat", melainkan sudah ada di zaman Tabi'in.

3. Tanggapan Kelompok Atsariyah / Salafiyah

Kelompok Salafiyah/Atsariyah memiliki sudut pandang dan bantahan tersendiri terhadap klaim tersebut:

  1. Validasi Sanad & Matan:
    • Sebagian ulama Atsariyah meneliti sanad riwayat tersebut dalam Tafsir at-Thabari dan menilai ada silsilah perawi yang dha'if (lemahn/bermasalah) atau terjadi pencampuran antara redaksi ucapan Qatadah dengan penafsiran mufassir/perawi belakangan.
  2. Kaidah Itsbat tanpa Kayfiah (Konsep Bila Kayf):
    • Pandangan utama Atsariyah adalah mengimani sifat Nuzul (turun) dan Maji' (datang) secara hakiki sesuai keagungan Allah, tanpa mempermasalahkan "apakah berpindah atau tidak".
    • Menurut mereka, istilah seperti intiqal (pindah), harakah (gerak), atau sukun (diam) adalah istilah kalam yang mujmal (kabur/tidak ada dalam Al-Qur'an dan Sunnah). Oleh karena itu, Salafiyah menolak menetapkan (itsbat) maupun meniadakan (nafy) istilah-istilah yang tidak disebutkan tegas oleh nash.
  3. Konstruksi Makna Menurut Salafiyah:
    • Jika riwayat Qatadah tersebut shahih, Salafiyah memaknainya sebagai: "Allah turun/datang dengan cara yang tidak sama seperti turunnya makhluk (yang membutuhkan tempat, kehampaan ruang, dan perubahan fisik)." Bukan berarti meniadakan sifat perbuatan (Sifat al-Fi'liyyah) Allah itu sendiri.

Kesimpulan Kedudukan Masalah

  • Fakta Tekstual: Riwayat yang menisbatkan penfian intiqal (pindah) dan taghayyur (berubah) pada Qatadah emang tercantum dalam perbendaharaan riwayat klasik dan dinukil oleh Imam at-Thabari.
  • Perbedaan Perlakuan Teks:
    • Asy'ariyah menjadikannya sebagai fondasi bahwa akidah tanzih (menolak pergerakan/ruang bagi Allah) adalah manhaj para Tabi'in.
    • Salafiyah/Atsariyah memandangnya dari sudut kritik sanad, atau menilainya sebagai bentuk penyucian dari kesamaan dengan sifat fisik makhluk (tasybih), tanpa harus meniadakan sifat nuzul dan maji' yang shahih dari Nabi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar