#Ahmad_Al_Badawi_Di_Antara_Dongeng_dan_Sejarah: Sejak kelahirannya pada tahun 596 H hingga wafatnya pada tahun 675 H, bagaimana seorang sosok yang misterius bisa berubah menjadi pemilik makam paling terkenal di Tanta?!!!
Siapakah As-Sayyid Al-Badawi? Syaikh Ahmad Al-Badawi adalah pemilik makam terkenal di kota Tanta, Mesir. Banyak orang percaya bahwa beliau adalah seorang wali Allah, bahkan sebagian dari mereka berdoa kepadanya, meminta manfaat, serta memohon perlindungan dari bahaya. Namun, ketika riwayat hidupnya diteliti secara historis, kita menemukan misteri yang sangat besar di balik sosoknya. Riwayat hidupnya tidak pernah disebutkan dalam sumber-sumber tepercaya yang sezaman dengannya, melainkan baru ditulis oleh orang-orang yang datang berabad-abad setelahnya.
Dari Manakah Ahmad Al-Badawi Berasal? Nama aslinya adalah Ahmad Al-Badawi, dan dikatakan bahwa ia lahir di kota Fes, Maroko, pada tahun 596 H / 1199 M. Para penulis biografi dari kalangan generasi belakangan—seperti As-Suyuthi—menyebutkan bahwa ia lahir pada tahun 596 H di Fes, Maroko, kemudian ayahnya membawanya pindah ke Makkah dan ia tumbuh di sana. Setelah itu, ia melakukan perjalanan ke Irak, lalu menetap di Tanta, Mesir, hingga wafatnya pada tahun 675 H, sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthi dalam Husn Al-Muhadharah (1/521-522).
Ayahnya bernama Ali Al-Badawi dan saudaranya bernama Al-Hasan Ali. Ayahnya adalah seorang Alawi yang mengklaim sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib.
Sebelum datang ke Mesir, ia pergi ke Irak dan sering mengelilingi kuburan-kuburan, bahkan bertawaf sambil bersujud di sekitar kuburan Al-Hallaj. Setelah itu ia kembali ke Makkah, lalu berhijrah dan menetap di Mesir, tepatnya di wilayah Tanta saat ini, pada masa pemerintahan Sultan Al-Kamil Muhammad bin Al-Adil.
Al-Badawi memilih Tanta agar jauh dari jangkauan pandangan Sultan, dan menjadikannya sebagai markas untuk menyebarkan dakwahnya yang jahat. Ia berusaha mengembalikan kaum Syiah untuk memegang kekuasaan di Mesir, dan dongeng-dongeng yang diciptakan olehnya beserta para pengikutnya tidak lain hanyalah untuk mengelabui rencana mereka.
Namun di sini muncul pertanyaan penting: Jika Ahmad Al-Badawi hidup pada periode tersebut, mengapa para ulama besar yang hidup pada abad ke-7 dan ke-8 Hijriah tidak pernah menyebutkannya?
Padahal, Mesir pada masa itu dipenuhi oleh para ulama dan ahli hadis yang mencatat biografi setiap orang berharga dari kalangan orang-orang saleh dan ulama. Bagaimana mungkin mereka tidak menyebutkan seorang pria dengan kedudukan begitu agung yang diyakini masyarakat saat ini?
Oleh karena itu, Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata dalam buku Hukm Al-Jahiliyyah (hlm. 166):
"Kami ingin bertanya kepada para sejarawan mengenai sejarah Sayyid Ahmad Al-Badawi, apakah ia benar-benar ada? Karena orang-orang yang menulis tentangnya hidup jauh belakangan, dan orang paling awal yang menyebutkannya adalah As-Suyuthi, yang wafat pada tahun 911 H."
Bagaimana Kehidupannya?
Dari penjelasan orang-orang yang menulis biografinya, dapat dipahami bahwa ia adalah orang asing di Mesir. Ia datang sendirian dan tinggal di atap sebuah rumah di Tanta, selalu mengenakan cadar/penutup wajah (litham) sehingga wajahnya tidak pernah terlihat.
Al-Badawi membeli bagian atap rumah untuk ditinggali, dan pemilik rumah tersebut adalah seorang pedagang bernama Ruknuddin Abu Syahith. Setelah itu, ia tinggal di atas atap masjid.
As-Suyuthi berkata dalam Husn Al-Muhadharah (1/522):
"Ia dikenal dengan nama Al-Badawi karena selalu mengenakan cadar dan tidak pernah melepaskannya. Ketika ditawari untuk menikah, ia menolak. Kemudian ia tinggal di Tanta di atas atap rumah dan tidak pernah turun dari sana. Jika keadaannya kumat, ia akan berteriak secara terus-menerus..."
Al-Badawi dan para pengikutnya juluki As-Sutuhiyyah (orang-orang atap) karena mereka duduk sepanjang malam berteriak dan mengagungkan kalimat-kalimat syirik. Mereka juga buang air kecil dan buang air besar di sana, lalu melempar kotoran mereka dari atas atap.
Sayyid Al-Badawi mengenakan sorban merah, dan inilah alasan utama ia dinamai Al-Badawi, karena ia memakai sorban seperti orang Baduy.
Al-Badawi pernah berkata: "Satu pandangan kepadaku dibayar dengan nyawa seorang pria," artinya siapa pun yang melihat wajahku harus mati.
Al-Munawi berkata dalam Al-Kawakib Ad-Durriyyah (2/388):
"Jika ia memakai pakaian atau sorban, ia tidak akan melepasnya sampai lapuk, dan ia tidak pernah membuka cadar dari wajahnya. Seseorang pernah berkata kepadanya: 'Perlihatkan wajahmu kepadaku!', ia menjawab: 'Setiap pandangan dibayar dengan nyawa seorang pria!' Orang itu terus mendesaknya. Ketika ia membuka wajahnya, pria itu langsung mati seketika."
Ia tidak pernah melepaskan sorbannya sampai hancur/rusak, sebagaimana disebutkan oleh Asy-Sya'rani dalam bukunya. Maka bayangkan bau yang keluar darinya, dan inilah penyebab penyakit cacar yang menimpa wajahnya.
Riwayat Al-Maqrizi dan Abu Hayyan Al-Andalusi: Sejarawan besar Al-Maqrizi mengutip sebuah kejadian aneh di Tanta dari Al-Allamah Abu Hayyan Al-Andalusi, ia berkata dalam Durar Al-'Uqud (3/77):
"Aku pergi bersama beberapa orang untuk mengunjungi Syaikh Ahmad Al-Badawi di Tanta. Kami mendapati seorang pria yang tinggi. Orang-orang mendatanginya seraya berkata: 'Tolong perhatikan kambingku, tolong perhatikan tanamanku...' Hingga ketika waktu shalat tiba, ia masuk ke dalam masjid. Saat shalat ditegakkan, ia memasukkan kepalanya ke dalam bajunya, menyingkap auratnya, lalu kencing di tempatnya dan di atas tikar masjid, serta tidak melaksanakan shalat."
Riwayat tersebut juga menyebutkan bahwa Ahmad Al-Badawi tidak pernah shalat dan tidak pernah ruku' satu kali pun untuk Allah. Bahkan ia masuk ke masjid, menghadap kiblat, lalu kencing di sana, seraya mengangkat tangannya dan berkata:
"Aku memandang lalu naik, maka aku melambung tinggi dan mendapati-Nya di atas Kursi: Aku adalah Dia dan Dia adalah Aku."
Teks ini dinisbatkan ke kitab Asy-Sya'rani, dan menjadi salah satu hal yang dijadikan dalil atas tuduhan kekafiran yang nyata.
Ahmad Al-Badawi membujang tanpa menikah sepanjang hidupnya. Ia menolak menikah ketika dianjurkan oleh kakak lak-lakinya, Hasan, seraya berkata:
"Engkau menyuruhku menikah, padahal aku telah dijanjikan untuk tidak menikah kecuali dengan bidadari-bidadari surga yang jelita."
Apa Ilmu yang Ditinggalkannya? Apa ilmu, tafsir, atau hal-hal dari ilmu syariat yang ditinggalkan oleh Ahmad Al-Badawi?
Ia tidak meninggalkan apa pun selain khayalan dan takhayul, menurut pandangan kritis terhadap biografinya ini. Oleh karena itu muncul pertanyaan: Bagaimana mungkin ia adalah seorang wali di antara wali-wali Allah?
Apa artinya semua ini jika dibandingkan dengan Al-Bukhari, Muslim, Ibn Taimiyyah, Ibn Al-Qayyim, Ibn Katsir, dan para ulama muslim lainnya?
Apa yang Terjadi di Makamnya Saat Ini? Orang-orang pergi ke makamnya untuk bertawasul kepadanya, mengadu kepadanya, mengambil berkah dari kuburnya, serta meminta pertolongan dan bantuan darinya—wal 'iyadzu billah (kita berlindung kepada Allah dari hal itu).
Dan ini merupakan syirik besar (syirk akbar).
Maka barang siapa yang keadaannya seperti ini, tidak mungkin ia memiliki sifat sebagai seorang wali di antara wali-wali Allah. Bahkan dalam keadaan paling baik pun, hanya bisa dikatakan bahwa ia adalah seorang pria yang sedang tertimpa cobaan atau orang gila.
Kesimpulan: Semua karamah dan keadaan aneh yang diriwayatkan tentang Ahmad Al-Badawi berasal dari riwayat-riwayat belakangan yang tidak tepercaya, dan tidak ada satu pun ulama tepercaya sezamannya yang menyebutkannya. Oleh karena itu, sosoknya misterius dan tidak terbukti secara historis, serta ia tidak dikenal memiliki ilmu, kepemimpinan agama (imamah), maupun peninggalan yang diakui dalam agama.
Di antara buku-buku modern yang membahas topik ini:
- Al-Sayyid Al-Badawi Syaikh wa Thariqah, karya Dr. Said Abdel Fattah Asy-Syu'ur.
- Al-Sayyid Al-Badawi Dirasah Naqdiyyah, karya Dr. Abdullah Sabir.
Maka kewajiban kita adalah meneliti kebenaran, dan tidak mengikuti cerita serta mitos-mitos tanpa dalil.
Allah Ta'ala berfirman:
﴿قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ﴾ (Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.")
Sumber yang disebutkan: Multaqa Ahl Al-Hadits – Al-Wajh Al-Akhar li Al-Sayyid Al-Badawi, As-Suyuthi – Husn Al-Muhadharah, Al-Munawi – Al-Kawakib Ad-Durriyyah, Al-Maqrizi – Durar Al-'Uqud, dan kitab Hukm Al-Jahiliyyah karya Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah.
#AsSayyid_AlBadawi_Fakta_Sejarah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar