Senin, 21 September 2026

Sejarah hitam daulah syiah safawiyah iran



Iran atau negeri Persia, sejak dimasuki oleh kaum muslimin yang menaklukkannya, telah menjadi wilayah vital bagi dunia Islam serta pusat peradaban dan geografi yang menghubungkan bagian-bagian umat. Di sana berdiri dinasti-dinasti Islam lokal seperti Tahiriyah, Samaniyah, dan Saffariyah. Meskipun sempat berada di bawah kekuasaan Buwaihi yang berpaham Syiah, tatanan sosialnya tetap mempertahankan keislaman yang berhaluan Sunni. Iran juga telah dilintasi oleh Dinasti Seljuk dan Khwarezmia sebelum akhirnya diinvasi oleh bangsa Mongol yang kemudian mendirikan dinasti mereka di sana.

Persia juga memuat pusat-pusat peradaban Islam seperti Rayy, Tus, dan Nishapur. Kota-kota ini menjadi pusat kejayaan Islam dengan lahirnya para ulama Sunni terkemuka dan para imam besar, seperti Muslim, Ibn Majah, al-Hakim an-Nisaburi, Abu Dawud, dan lainnya dari kalangan penyusun kitab-kitab Sunnah dan Hadis. Mereka semua berasal dari etnis Persia dan berakidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Oleh karena itu, Persia pada mulanya adalah negeri berhaluan Sunni seperti halnya negeri-negeri muslim lainnya, sebelum berdirinya Dinasti Safawiyah pada tahun 907 H / 1501 M yang membawa perubahan drastis dalam sejarah negeri tersebut. Pendirinya, Ismail as-Safawi, mendedikasikan dirinya untuk memerangi umat Islam Sunni, membasmi mereka, dan menggantikannya dengan mazhab Syiah Dua Belas Imam (Itsna Asyariyah) Rafidhah di Iran.

Maka berdirilah Dinasti Safawiyah Syiah Rafidhah yang dipimpin oleh Shah Ismail yang fanatik dan haus darah. Ia datang dari Ardabil di Azerbaijan sebagai pemimpin kelompok sufi ekstrim Syiah (Ghulat asy-Syiah). Ia memanfaatkan perpecahan politik di negeri Persia untuk menyingkirkan emirat-emirat Turkmenistan yang tersebar di Dataran Tinggi Iran, lalu mendirikan negara Syiah Imamiyah yang menaruh dendam mendalam terhadap umat Islam (Sunni).

Ismail as-Safawi memulai kebijakan-kebijakannya untuk memaksakan paham Syiah di negeri tersebut. Ia menyebarkan akidah dan mazhabnya dengan mata pedang, serta membantai sejumlah besar penduduk Sunni yang diperkirakan mencapai puluhan hingga ratusan ribu jiwa. Shah Ismail dikenal dengan kekejamannya yang luar biasa dan penindasan keras terhadap para penentangnya, bahkan hingga membunuh ibunya sendiri. Metode penyiksaannya sangat barbar; ia biasa menggali kembali mayat musuh-musuhnya lalu membakarnya demi melampiaskan dendam dan pembalasannya.

Melalui tindakan tersebut, ia berhasil mengubah Iran yang tadinya berhaluan Sunni menjadi negeri yang ber mazhab Syiah Rafidhah. Secara sosial dan politik, negara Persia menjadi sebuah anomali di tengah lingkungan Islamnya di Asia Tengah. Penduduk Ahlus Sunnah di sana pun berubah dari mayoritas yang dominan menjadi minoritas kecil yang tertindas

Dan kejahatan Safawiyah Ismail tidak terbatas pada Iran saja, melainkan meluas ke luar wilayahnya. Ia menyerang Irak, menduduki Baghdad, serta membantai penduduk Sunninya. Ia juga memerangi Kesultanan Utsmaniyah dan mengacaukan perjuangan jihadnya di Eropa, serta berkonspirasi dengan kekuatan Salibis Eropa melawan Utsmaniyah. Selain itu, ia berekspansi ke arah Khurasan dan memerangi Uzbek Sunni di wilayah Transoxiana hingga melemahkan negara tersebut, yang menjadikannya mangsa empuk bagi kemajuan bangsa Rusia setelahnya.

Ismail as-Safawi meninggal dunia pada tahun 930 H, dan para penerusnya dari Dinasti Safawiyah melanjutkan jalan kejahatannya terhadap Iran dan Persia.

Bahkan setelah runtuhnya Dinasti Safawiyah pada tahun 1148 H / 1736 M, Dinasti Qajar mewarisi masyarakat Syiah yang memusuhi umat Islam Sunni. Kemudian Persia mengalami dominasi sekularisme yang dipaksakan oleh rezim Pahlavi pada abad ke-20. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama ketika kebangkitan Safawiyah muncul kembali dalam Revolusi 1979 M yang dibungkus dengan corak Syiah Imamiyah dan nasionalisme Persia.

Republik Iran Khomeini berdiri untuk memulihkan Dinasti Safawiyah dan Kekaisaran Persia kuno. Saat ini, mereka mempraktikkan kebencian dan permusuhan yang mendalam terhadap Ahlus Sunnah, serta secara praktis melakukan invasi internal terhadap dunia Islam. Mereka kembali ke karakter Safawiyah historisnya dengan berkonspirasi melawan Afganistan, serta campur tangan di Irak, Yaman, Lebanon, dan Suriah. Mereka juga tidak ragu merintangi berbagai revolusi dan gerakan pembebasan, serta memanfaatkan sebagian di antaranya untuk menyebarkan Syiah dan memaksakan hegemoni regionalnya.

.. Dikutip oleh Munawir Sulaiman .. Twitter: @mnaw7

Sumber:

  • Muhammad Suhail Taqqush, Tarikud Daulah as-Safawiyah (Sejarah Dinasti Safawiyah), Cetakan Pertama, Dar an-Nafaes, Beirut, 1430 H / 2009 M.
  • Husain Mu'nis, Atlas Tarikh al-Islam (Atlas Sejarah Islam), Cetakan Pertama, az-Zahra untuk Media Arab, Kairo, 1407 H / 1987 M.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar