Gambar 1
Teks Kutipan Atas (Tafsir Asy-Sya’rawi):
"Maka makna {istawa... (4)} [As-Sajdah] adalah: naik, dan duduk, serta menetap/berada. Semua makna ini sesuai dengan ayat tersebut, namun dalam koridor firman Allah Yang Mahabenar dan Mahatinggi: {Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia... (11)} [Asy-Syura]."
(Catatan: Kata "dan duduk" [وجلس] diberi kotak merah)
Teks pada Sampul Buku:
- Tafsir Asy-Sya’rawi
- Jilid Ke-16
- Akhbar Al-Youm (Penerbit)
Gambar 2
Teks Judul & Sampul:
- Tafsir Asy-Sya’rawi
- Jilid Pertama
Teks Isi:
Dan ketika Allah Yang Mahabenar berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari-Pada-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Surah As-Sajdah: 4)
Apakah duduknya Allah Yang Mahabenar seperti duduknya makhluk? Atau apakah kursi Sang Pencipta seperti kursi makhluk? Tentu saja tidak. Dan kita sebagai orang-orang beriman mengambil setiap sifat Allah dalam ranah penyucian (penyucian dari keserupaan/tanzih): Mahasuci Allah dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Maka 'istiwa' Allah tidak seperti 'istiwa' manusia, dan duduknya Allah Yang Mahabenar tidak seperti duduknya manusia.
Dan kita berikan perumpamaan ini — dan milik Allah-lah perumpamaan Yang Mahatinggi — bayangkan jika ada seorang temanmu mengundangmu untuk makan di tempatnya, kemudian salah satu tokoh besar mengundangmu untuk makan di tempatnya. Tentu kamu akan mendapati makanan tersebut bervariasi kualitas dan jenisnya di antara setiap hidangan dari orang yang mengundangmu. Jika manusia saja antar sesamanya berbeda-beda deskripsi keadaannya sesuai dengan kedudukan, kemampuan, dan potensi mereka, maka jika kamu naikkan sifat tersebut kepada Pencipta segala sesuatu, kamu akan yakin bahwa Dia Mahasuci dan terbebas dari segala selain-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar