Minggu, 27 September 2026

Asy-'ariyyah dan Maturidiyyah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah - Bab Iman



 Berikut adalah terjemahan teks dari gambar tersebut ke dalam bahasa Indonesia:

[Informasi Kitab di Sisi Kiri] Asy-'ariyyah dan Maturidiyyah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah Disusun oleh: Divisi Ilmiah Yayasan Ad-Dorar As-Saniyyah Pengawasan: Alawi bin Abdil Qadir As-Saqqaf

[Bagian Atas] Sub-Bab Pertama: Definisi Iman menurut Asy-'ariyah

Di antara masalah-masalah yang padanya terdapat perbedaan pendapat mengenai riwayat dari Abu Al-Hasan Al-Asy'ari adalah masalah iman. Dalam kitabnya "Al-Ibanah", terdapat penegasan bahwa iman adalah perkataan dan perbuatan, karena mengikuti mazhab Salaf. Namun, para pengikutnya dan selain mereka meriwayatkan darinya pendapat bahwa iman adalah at-tasshdiq (pembenaran dalam hati). Sebagian mereka juga meriwayatkan bahwa Abu Al-Hasan memiliki dua pendapat mengenai iman.

[Catatan Kaki (1 - 3)] (1) Lihat: ((Syarh As-Sunnah)) (1/177–180). (2) ((Al-Hujjah fi Bayan Al-Mahajjah)) (1/140). (3) ((Al-Awashim wal Qawasim fi Adz-Dzabbi 'an Sunnati Abil Qasim)) (5/75).

[Bagian Bawah] Bab Pertama: Asy-'ariyah | Halaman 386

Maka yang tampak (zhahir) adalah bahwa pendapat terakhirnya merupakan pendapat yang padanya ia kembali kepada mazhab Ahlus Sunnah; sebab kitabnya "Al-Ibanah" termasuk karya tulisnya yang paling akhir. Meskipun demikian, pendapat yang masyhur dalam mazhab Asy-'ariyah adalah bahwa iman itu adalah at-tasdiq (pembenaran hati).

Qawam As-Sunnah Al-Ashbahani berkata: (Iman menurut syariat adalah ungkapan dari seluruh ketaatan lahir dan batin, sedangkan Asy-'ariyah berkata: Iman adalah pembenaran (at-tasdiq), sementara perbuatan-perbuatan dan perkataan-perkaitan adalah syariat-syariat dari iman, bukan bagian dari esensi iman itu sendiri).

Faedah dari perbedaan ini adalah: Bahwa barang siapa yang cacat dalam perbuatan (amal) dan melakukan hal-hal yang dilarang, maka sebutan mukmin tidak lepas darinya secara mutlak. Lalu dikatakan: 'Ia adalah orang yang kurang imannya'; karena ia cacat dalam sebagian ketaatan. Namun menurut Asy-'ariyah, sebutan mukmin tetap berlaku baginya secara mutlak; karena iman menurut mereka merupakan ungkapan dari pembenaran hati (at-tasdiq), dan ia telah melakukannya.

[Catatan Kaki] (1) Lihat rujukan sebelumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar