Minggu, 27 September 2026

Asy-'ariyyah dan Maturidiyyah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah 

 


Berikut adalah terjemahan langsung teks dari gambar tersebut ke dalam bahasa Indonesia:

[Bagian Atas]

2- Al-Juwaini berkata: (Fasal mengenai makna iman. Ketahuilah bahwa tujuan kita dalam fasal ini menuntut kita untuk memaparkan hakikat iman terlebih dahulu. Ini merupakan salah satu hal yang di dalamnya mazhab-mazhab umat Islam saling berselisih. Kaum Khawarij berpendapat bahwa iman adalah ketaatan, dan banyak dari kaum Mu'tazilah cenderung kepada pendapat tersebut, meski mazhab-mazhab mereka berbeda dalam penamaan amalan-amalan sunnah sebagai bagian dari iman. Ashabul Hadits berpendapat bahwa iman adalah pengetahuan/makrifat dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan. Sebagian ulama terdahulu berpendapat bahwa iman adalah makrifat dengan hati dan pengakuan dengannya. Kaum Karramiyyah berpendapat bahwa iman adalah pengakuan dengan lisan saja; barang siapa yang menyembunyikan kekafiran namun menampakkan iman, maka ia adalah seorang mukmin yang sejati menurut mereka, hanya saja ia berhak kekal di neraka. Sebaliknya, jika seseorang menyembunyikan iman namun tidak sempat menampakkannya, maka ia bukanlah seorang mukmin menurut mereka, padahal ia berhak kekal di surga. Adapun pendapat yang diridhai (dipilih) menurut kami adalah bahwa hakikat iman itu adalah pembenaran (at-tasdiq) kepada Allah Ta'ala; maka orang mukmin kepada Allah adalah orang yang membenarkan-Nya).

[Catatan Kaki Bagian Atas]

(1) ((Tamhid Al-Awa'il wa Talkhis Ad-Dala'il)) (hal. 389). (2) ((Al-Irsyad ila Qawathi' Al-Adillah fi Ushul Al-I'tiqad)) (hal. 415).

[Bagian Bawah]

Bab Pertama: Asy-'ariyah | Halaman 388

3- Asy-Syahrastani berkata: (Iman adalah pembenaran dengan hati (at-tasdiq bil-janan). Adapun ucapan dengan lisan dan amalan dengan anggota badan adalah cabang-cabangnya. Barang siapa yang membenarkan dengan hati—artinya: mengakui keesaan Allah Ta'ala dan mengakui para rasul dengan pembenaran bagi apa yang mereka bawa dari sisi Allah Ta'ala di dalam hati—maka iman orang tersebut sah. Bahkan jika ia meninggal saat itu juga, ia menjadi mukmin yang selamat dan tidak keluar dari iman kecuali dengan mengingkari salah satu dari hal tersebut).

4- Al-Ghazali berkata: (Iman adalah pembenaran murni (at-tasdiq al-mahdh), sedangkan lisan adalah penerjemah dari iman).

[Catatan Kaki Bagian Bawah]

(1) Rujukan yang sama. (2) Rujukan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar