Sabtu, 26 September 2026

Diskusi dan debat salafi vs aswaja

 9 8 Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil alamin wasallallahu wasallam wabarak ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa ashabihi ajmain. Allahummaimna ma yanfauna wfna bimaamtanaidna ilman wa fiqhan wa ikhlasan yuqorbunaika ya alamin. Allahumma arinal haqqa haqqan fanattabiah wa arinal batila bailan fajtanibah wala taj'alhu alaina mutasyabihan fanattabial hawa waun maana haitsu kunna bit taufiqi wal hidayati warayah minal bidayati ilan nihayah wad alhamdulillahilladzi jamaana fi hadil umsiyah mubarakah alhamdulillah yang telah mengumpulkan kita pada malam hari yang insyaallah penuh barokah ini. Yang kami muliakan para asatizah, para guru, para tokoh, dan khususnya pemirsa dan sahabat-sahabat sekalian yang menyaksikan dialog ukhuwah di mana pun antum berada. sebuah ruang yang mudah-mudahan mudah-mudahan bukan sekedar mempertemukan dua pandangan, tetapi juga mempertemukan kita semua dengan ilmu, adab, kejujuran dalam mencari kebenaran. Hadirin yang kami muliakan, pemirsa sekalian yang melihat di MRBJ TV. Hari ini kita akan menyaksikan sebuah dialog yang begitu penting, diskusi ilmiah yang insyaallah dipenuhi dengan mahabbah, kecintaan kita kepada ilmu, kecintaan kita kepada Allah Subhanahu wa taala, dan kecintaan kita kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Oke, pada malam hari ini kita akan membahas tentang tauhid uluhiyah, rububiyah, dan asmaus sifat. Sebuah pembahasan yang begitu fundamental yang harus diketahui oleh seluruh muslim. Karena ini bertentangan dengan Rabb kita, Tuhan kita. Jadi dengan mengetahui pembahasan ini lebih dalam, maka kita akan mengetahui lebih dalam juga siapa Rabb kita, siapa Tuhan kita yang kita yakini selama ini, siapa Rabb kita yang kita sembah dan bagaimana kita mengenal Allah Subhanahu wa taala. Maka dari itu, pembahasan tentang akidah, tentang tauhid, tentang bagaimana seorang hamba mengenal serta menghambakan dirinya kepada Allah merupakan suatu pembahasan yang begitu penting. Maka sangat wajar jika tema ini kita bahas dengan begitu serius. Namun kita juga berharap keseriusan dalam membahas akidah tidak membuat kita kehilangan adab dan ukhuwah. pemirsa di mana pun antum berada. Perkenalkan nama saya Ahmad Rajih yang pada kesempatan ini diamanahi sebagai moderator dalam dialog ukhuwah. Dan di sebelah kanan kami telah hadir narasumber pertama yaitu e Gus Muhammad Fuad Abdul Wafi. Ahlan Gus. Sehat Gus ya? Alhamdulillah. Alhamdulillah. Kemudian di sebelah kiri alfqir ada Ustaz Maulid Ustaz. Ya, sehat, Ustaz? Ya, alhamdulillah. Kepada kedua narasumber kami mengucapkan begitu besarnya terima kasih kita atas kesediaannya hadir dan memberikan pandangan dalam forum ini. Semoga yang disampaikan hari ini merupakan bagian daripada ikhtiar kita bersama untuk memahami persoalan agama dengan lebih jernih. Ayu asati dan pemirsa yang kami muliakan. Sebelum masuk ke pembacaan dan tata tertib diskusi, izinkan saya sebagai moderator untuk menyapai menyampaikan sedikit pesan dari Imam Abu Hanifah tentang adab diskusi ilmiah. Ketika beliau menegur putra beliau seraya berkata, "Kunna nunadir wana alusinir makfata anyazilla shahibuna. Wa antum tunadirun shahibikum waman arada ayibuhu faqad arada ay yakfur waman arakfuribuhu faqad kafar qla yakfibuh." Dahulu kami berdiskusi, kata Imam Abu Hanifah, seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung karena kami khawatir saudara kami tergelincir. Sedangkan kalian banyak ketika itu yang berdiskusi dengan tujuan untuk mencari kesalahan saudara kalian. Waliadubillah. Barang siapa yang menginginkan saudaranya tergelincir dalam kesalahan, maka sesungguhnya ia telah menginginkan saudaranya menjadi kafir. Dan barang siapa yang menginginkan saudaranya menjadi kafir, maka sungguh ia telah kafir sebelum saudaranya menjadi kafir. Waliadzubillah. Kita boleh berbeda dalam kesimpulan, tetapi jangan sampai berbeda dalam adab. Karena ilmu yang tinggi seharusnya melahirkan ketawaduan, bukan kesombongan. Dan perdebatan yang ilmiah seharusnya membawa kita semakin dekat kepada kebenaran, bukan semakin jauh dari persaudaraan. Sebelum diskusi ilmiah, izinkan saya sebagai moderator untuk membacakan aturan dan tata tertib diskusi pada malam hari ini. Yang pertama kita tekankan tujuan diskusi bahwa forum ini bukan arena untuk mencari siapa yang paling menang. Bukan pula tempat untuk mempermalukan pihak lain. Kita hadir untuk mencari titik terang, memperjelas perbedaan pandangan, dan memberikan pemahaman yang lebih utuh kepada masyarakat. Oleh karena itu, kami berharap kedua narasumber dapat menyampaikan argumentasinya berdasarkan ilmu, dalil, referensi, dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Yang kedua, kesempatan berbicara. Kedua belah pihak insyaallah akan mendapatkan waktu yang seimbang dan tidak diperkenankan memotong pihak lain sebelum waktu yang diberikan itu selesai. Kecuali moderator memberikan izin untuk melakukan klarifikasi atau tanggapan singkat. Maka dengan demikian insyaallah masing-masing bisa mendapatkan ruangnya untuk ber memberikan klarifikasi atau memotong perkataan daripada pihak yang lain. Kemudian yang ketiga yang sangat penting adalah pembagian waktu. Jadi pada dialog ukhuwah malam ini kita akan membagi menjadi dua seri. Yang pertama adalah seri uluhiyah dan rububiyah. Dan yang kedua adalah seri yang membahas tentang al-asma was sifat. Di sesi pertama tentang mukadimah uluhiyah dan rububiyah, masing-masing narasumber insyaallah kita akan berikan 30 menit untuk menyampaikan menyampaikan presentasinya masing-masing. Dan 30 menit ini bersifat tabungan. Jadi nanti semisal ee Gus Wafi atau Ustaz Thayib menggunakan kesempatan pertamanya untuk menjelaskan mempresentasikan ee uluhiyah dan rububiyah 10 menit atau 15 menit misalkan, maka beliau masih punya simpanan waktu 15 menit. Jadi boleh 15 15 menit itu digunakan semaksimal mungkin. Jadi semua total itu 30 menit setiap narasumber. Untuk sesi kedua adalah sesi yang membahas tentang asma sifat. Di sesi kedua ini nanti ada tiga putaran. Putaran pertama Ustaz Thayib opening 7 menit, kemudian Gus Wafi 7 menit. Kemudian Ustaz Thayib kembali menjawab 5 menit. Gus ee Gus Wawafi ee 5 menit juga menjawab. Dan kemudian Ustaz Thayib juga menjawab ee selama 5 menit. Kemudian di putaran kedua, giliran Gus Wafi membuka dahulu 7 menit, Ustaz Thayib 7 menit. Dijawab Ustaz Thayib 7 menit kemudian di jawab lagi Gus Wafi 5 menit. Dijawab lagi ditanggapi oleh Ustaz Ahmad Thayib 5 menit. Kemudian yang terakhir Gus Wafi 5 menit. Dan di putaran ketiga nanti ada saling tanggap atau tektok ya bisa dikatakan. Dan setiap peserta nanti mendapatkan waktu selama 20 menit. Jadi total 20 menit itu bisa digunakan untuk ee menyampaikan pendapatnya dan menyampaikan argumentasinya. Nah, seperti itu kira-kira dan nanti ee untuk interupsi dan lain-lain harus menunggu daripada moderator mengatakan silakan atau tafadol baru diperbolehkan untuk ee menjelaskan apa yang ingin dijelaskan. Nah, kemudian di terakhir insyaallah kita akan tutup dengan closing statement selama 5 menit. Ustaz Ahmad Thayib 5 menit dan juga Ustaz eh Gus Wafi Afwan 5 menit juga. Pada bagian ini kami berharap kedua narasumber dapat menutup dialog dengan pesan yang meneguhkan ukhuwah, persaudaraan, dan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Kami fokus dalam ee argumentasi dan substansi. Kemudian tidak diperkenankan diperkenankan untuk menggunakan kata-kata merendahkan, tidak boleh menuduh tanpa dasar, tidak boleh menyudutkan pribadi ee pribadi lawan diskusi dan juga tidak menggunakan bahasa yang provokatif. Dalil dan referensi disampaikan dengan ayat-ayat Al-Qur'an, hadis, dan juga perkataan para ulama dari kitab-kitab yang sudah dan harusnya disebutkan. Nah, kemudian hak moderator jika semisal terjadi ee dalam diskusi itu melebar ke mana-mana misalkan, maka moderator berhak untuk memotong perkataan tersebut dan kembali kepada substansi yang kita bahas. Dan ketika waktu habis 30 detik sebelum 30 detik nanti kita akan memberikan kode. Kalau 30 detik saya seperti ini, 10 detik saya seperti ini. Nanti kalau sudah selesai saya akan tegur selesai. Dan ee terakhir kita sampaikan bahwa diskusi atau dialog ukhuwah ini tidak harus berakhir dengan kesepakatan. Karena diskusi ini ditujukan untuk agar kita bisa lebih mengetahui bagaimana sudut pandang daripada masing-masing narasumber. Dan kita tidak harus sepakat dalam hasil, namun tetap kita harus saling menghormati. Kira-kira dari aturan dan tata tertib bisa dipaham? Gus Wi, Ustaz Tayib. Insyaallah. Alhamdulillah kita langsung mulai diskusi pada malam hari ini dengan sesi pertama yaitu sesi tentang uluhiyah dan rububiyah. Yang pertama akan menyampaikan presentasinya tentang uluhiyah dan rububiyah. Kami persilakan Ustaz Thayib untuk mempresentasikan tentang uluhiyah dan rububiyah selama 30 menit. Fadol Ustaz, asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillahiabbil alamin. Wasalatu wasalamu ala rasulillahi Muhammadin wa ala alihi wasohbihi waman tabiahum biihsanin ila yaumiddin. Allahumma inna nas'aluka ilman nafia'h wa rizqan thyibah wa amalan mutaqbalah. Amma ba'd. Yang saya hormati ya Gus Wafi ya hafidahullahu taala. Kemudian yang saya hormati juga ee moderator ya kan hafidahullahu taala beserta semua tim yang telah bekerja hingga mensukseskan acara ini yang tujuannya adalah tidak lain menyikapi perbedaan dengan dewasa. ee disclaimer ya. Jadi saya di sini ya berdialog dengan Gus Wafi ya. Ee atas pribadi ya atas nama pribadi saya sendiri tidak mewakili instansi dan ormas apapun ya. Saya tidak mewakili instansi pendidikan apapun. Murni ini dari saya pribadi gitu ya. Jadi khawatir nanti ada hal-hal yang ee kurang berkenan. Maka saya sampaikan disklaimernya adalah saya di sini murni secara pribadi tidak mewakili ustaz siapapun, instansi ee pendidikan apapun atau ormas apapun. Kemudian selanjutnya ya ee al eh taquul qidah ya kan alikhtilafu sunatun kauniah wa daf'uhu ya wfu hadal ikhtilaf ya sunatun syariah. Jadi memang secara kauni ya ee apa menciptakan kita berbeda ya kan ada khilaf di situ. Namun ee secara syari memang Allah memerintahkan kita untuk bersatu ya tetap ukhuwah kita jalin bersama walaupun di situ ada khilaf yang mungkin tidak bisa dihindari begitu. Kemudian saya pribadi menerima kebenaran dari siapapun. Karena kebenaran itu la yurod, tidak boleh ditolak. Dan saya pribadi akan menolak kebatilan apapun karena kebatilan itu la yuqbal, tidak diterima. Kemudian jika terdapat kebenaran ya pada diri saya itu adalah mahdu fadlin minallahi azza waalla. Jadi ketika saya mendapati kebenaran maka kebenaran itu datangnya dari Allah Subhanahu wa taala. Namun ketika ada kebatilan yang saya sampaikan, maka itu adalah murni tergelincirnya dari diri saya pribadi. Kemudian tujuan diskusi ilmiah ini adalah tiada lain hanya menyampaikan argumen, ya kan. Kita harus dewasa menyikapi ee khilaf atau perbedaan ya. yang mana nanti masyarakat juga secara dewasa akan memilih mana di antara pendapat kami yang ee menurut mereka itu betul. Ya. Kemudian memang kita mengetahui ya ada setidaknya ada dua madrasah yaitu ahlul arar kemudian yang kedua yaitu Ahlul Kalam. Jadi memang ee kedua madrasah ini kita tidak bisa me ee apa namanya me sepertinya tidak bisa menggabungkan karena memang ee di situ ada ee perbedaan begitu. Kemudian usulu iktiqadi ahlisunahti wal jamaah ya kan. Jadi yang pertama kita ya atau saya ya saya pribadi sumber akidahnya adalah Al-Qur'an dan Asunatus Shahih. Apapun yang ada dalam Al-Qur'an dan Asunat Shahi maka itulah yang menjadi landasan ee saya pribadi. Kemudian yang kedua, kita tidak bisa memahami kedua dalil dari Al-Qur'an maupun Asunatus Sahihi tersebut. kecuali sesuai dengan pemahaman asalafus saleh. Itu poin yang kedua. Kemudian poin yang ketiga, ya saya pribadi harus menutup akal dan menaruh akal ketika hal tersebut atau ee dalil tersebut masuk ke ranah ghaibiyat. masuk ke ranah ghaibiyat khususnya yaitu berkaitan dengan sifat Allah azza wa jalla. Kemudian berkaitan dengan tauhid ee uluhiyah, rububiyah ya kan dan asma was sifat ya kita ya kan berlandaskan istilahat atau istiqra ya kan atau apapun yang muncul dari ee ahlul ilm maka di situ terbagilah tauhid itu menjadi rububiah. uluhiyah dan al-asma was sifat. Ya, tauhid rububiyah ialah kita ya mentauhidkan Allah subhanahu wa taala dari sisi af'alillah ya. ya, dari sisi perbuatan Allah Subhanahu wa taala yaitu di antaranya adalah arraziq, kemudian almuhyi, almumit dan lain sebagainya. Karena Allahlah subhanahu wa taala yang memberikan kita hidup, memberikan kita rezeki, ya kan, memberikan kita berkah hidup di dunia itu murni semata-mata dari Allah subhanahu wa taala. Kemudian yang kedua, tauhid uluhiyah ya kan yaitu kita mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala dari sisi ibadah kita, dari sisi doa kita ya, dari sisi hidup kita dan mati kita ya. Sebagaimana firmannya, qul inna shati wausuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Itulah tauhid rububiyah. Ee itulah tauhid uluhiyah yang mana kita harus melakukan semua aspek ibadah kita. Kita semata-mata dipersembahkan hanya kepada Allah subhanahu wa taala. Kemudian tauhid yang ketiga yaitu tauhidul asmai was sifat. Kita beriman kepada Allah Subhanahu wa taala dengan nama-namanya yang Allah cantumkan ee dalam Al-Qur'an dan Asunnatus Shihah. Kemudian kita beriman juga dengan semua sifat Allah Subhanahu wa taala yang Allah cantumkan dalam Al-Qur'an dan asunatus shahihah bila tahrifin tanpa kita memalingkan maknanya. walain tanpa kita mengingkari ya kan. Kemudian bila tamsilin ya wala tasbihin wala tafwidin. Nah, itulah ee tiga tauhid yang diimani oleh ahlusunah wal jamaah ala fahmi salafi saleh. Kemudian ee tauhid itu sebetulnya ragam ya menurut al-istilahat, menurut istiqra ya. Seandainya tauhid itu ya dibagi menjadi 100 pun itu sebetulnya tidak ada masalah. Kami tidak mempermasalahkan taksimut tauhid. Yang penting secara istilah pembagian tauhid itu masing-masing ditumpu atau bertumpu kepada dalil. Namun ya itulah ya kan ada tiga tauhid yang memang ee saya pribadi imani yaitu apa ee rububiyah, uluhiyah, tauhid asma was sifat. Itu saja mungkin yang bisa saya sampaikan. Wallahuam. Baik, terima terima kasih Ustaz Thayib. Ee masih 20 menit ya, Ustaz. Nanti kalau semisal mau dilanjutkan masih menyisakan waktu 20 menit. Kemudian kita beranjak ke Gus Wi. Sudah siap, Gus? Siap, dong. Silakan, Gus. Bismillah. Ini ditampilkan, Habib slide-nya, ya. Bismillahirrahmanirrahim. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullah. Alhamdulillah wasalatu wassalamu ala rasulillah sayyidina Muhammad ibni abdillah wa ala alihi wasohbihi wa manwalah. Amma ba'ad. Yang saya hormati, yang saya takzimi yang pertama narasumber kita Al Ustaz Thayyib Maulidi yang sangat saya banggakan. Karena dengan tujuan izharul haq untuk menampakkan kebenaran dan persaudaraan ukhuwah islamiah, kita duduk di sini sebagai sama-sama umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Sallallahu alaihi wasam. Yang kedua di sini juga ada Al Ustaz Rajih yang telah menjadi moderator kita. Semoga acara pada malam hari ini sesuai dengan apa yang kita harapkan tanpa ada caci maki selanjutnya. Karena tidak lain kita duduk di sini untuk meneruskan perjuangan para ulama. Para ulama sejak dulu berdiskusi untuk menampakkan kebenaran bahwa ini yang hak dan ini yang batil. Dan tak lupa pula kepada seluruh teman-teman yang sudah mensukseskan mensukseskan acara pada malam hari ini dari panitia, tim kamera semuanya. Alfakir mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Semoga semuanya dinilai sebagai ibadah yang makbul indallah. Amin ya rabbal alamin. Dan di sini Alfqir juga hadir atas nama pribadi, bukan atas nama instansi manapun. Sebagai ahlusunah wal jamaah, alfakir menganggap wajib untuk menyampaikan apa yang telah apa yang telah disampaikan oleh para ulama. Di samping Al-FQIR ada puluhan kitab, ada lebih dari 10 kitab yang insyaallah akan kita tampilkan data secara maksimal bahwa yang kita yakini selama ini sudah sesuai dengan salafus saleh, sesuai dengan ajaran para ulama yang sanadnya sambung hingga kepada Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nah, untuk tema pada malam hari ini yang pertama adalah tauhid uluhiyah dan rububiyah. Apakah saya menolak tauhid uluhiyah dan rububiyah? Jelas tidak. Karena semua umat Islam harus beriman kepada tauhid uluhiyah dan rubiyah. Uluhiyah artinya bahwa Allah yang berhak disembah. Rububiyah artinya sesuai yang disampaikan oleh Al Ustaz ee Thayib barusan, almuhyi, Arraazzaq, Alwahab, Almani', arrafi' dan lain sebagainya. Semua yang mengatur itu adalah rububiyah. Tetapi yang perlu menjadi catatan utama adalah cara memahaminya sama apa tidak. Begitu. Itu yang akan kita bahas pada konteks malam hari ini. Yang pertama ini sudah ditampilkan. Sebelum kita membahas Al-Qur'an dan hadis secara maksimal, kita harus tahu bahwa Al-Qur'an diturunkan oleh Allah dengan bahasa Arab. Anzalna quranan arabiyan. Karena bahasa Arab, maka kita harus tahu kaidah-kaidah di dalam bahasa Arab. Jangan dikira bahasa Arab itu hanya min aina anta, man ana. Bukan. Tetapi untuk memahami bahasa Arab, banyak ilmu-ilmu untuk didalami seorang pelajar. Maka yang pertama akan Alfqir tampilkan adalah dari para ulama lughah. Karena ini yang dibahas oleh adalah bahasa Arab ya, bukan bahasa Suryani. Waqal Azhariyu. Al Imam Alazhari mengatakan fi tahzibil lghah di dalam kitabnya tahzibul lghah ba'da kalamihi ala maddati wa lam ha. Setelah Imam alhari di dalam kitabnya Tahzibul Lhah menjelaskan tentang tema wau lam dan ha juz 6 halaman 24. Waqala Abul Haitam. Beliau mengutip perkataan Imam Abul Haitam. Faasluhu ilahun. Kalimatnya awalnya adalah ilahun. Qallah jalla waz. Allah Subhanahu wa taala berfirman, matakallahu min waladin wana maahu min ilahin ladzahaba kullu ilahin bima khalaqo. Q mengatakan wala yakunu ilahan. Tidaklah disebut sebagai ilah. ini ya. Ini ulama lughah yang mengatakan ulama ahli bahasa Arab wala yakunu ilahan tidaklah disebut sebagai ilah. Hatta yakuna ma'budan sampai dia yang berhak untuk disembah. Jadi kalau disebut ilah berarti dia harus berhak disembah. Wa hatta yakuna liibadihi khaliqan. Dan dialah sang penciptanya. Waroiqon. Dan dialah yang memberi rezeki. Waudabbiron. Dia yang mengaturai mutadiram yakunalik falaisa biilah. Kalau tidak punya ciri-ciri yang demikian, maka enggak pantas disebut dengan ilah. Wa ubidulman. Sekalipun dia disembah secara zalim, dia tidak pantas hakikatnya disebut sebagai ilah. Bal hua makhluk wa mutaabbad. Tetapi yang pantas disematkan kepada sesuatu yang enggak ada ciri-cirinya barusan adalah makhluk. Sebutannya hanya makhluk. wa mutaabbad. Nah, ini terjemahannya sudah saya terjemahkan dan ini ilah ya. Yang kedua, pendapat Imam Al-Azhari di dalam kitab Tahzibul Lughah juga waqala. Ketika beliau membahas tentang Rabb di dalam kitabnya tadi, Arrab huallahu tabaraka wa taala. Arrab adalah Allah wahua rbuaiin. Dialah Tuhan segala sesuatu. Aik. Dialah sang pemiliknya. Walahur rububiyah. Dia memiliki sifat rububiyah ala jamiil khalqi. Atas seluruh makhluk. La syarikalahu. Tidak ada yang menyekutukannya. Tidak ada yang sebanding dengan dia. Nah, ini perkataan Imam Al-Azhari. Dan beliau menguatkan pendapatnya dengan mengutip pendapat Al Imam Ibnu Anbari. Beliau ulama besar. Arbu yangqosimu ala aqsam yakunuruburbu yang pertama arrab itu adalah almalik maknanya yang kedua adalah arraabbus sayidul asayyidal mut yaitu pemimpin yang ditaati ya. Kemudian yang ketiga adalah arrabbu adalah almuslih yang memperbaiki atau memelihara. Jadi Imam al-Azhari mengutip pendapat salah satu ulama. Saya tampilkan dua pendapat di sini. Di sini juga saya tampilkan menurut Al Imam Ibnu Manzur di dalam kitabnya Lisanul Arab ketika membahas alif lam hawa pemahamannya mirip sama seperti Al Imam Alzhari barusan. Kenapa ilah itu adalah Allah? Yaitu karena liqadihim annal ibadah tahuqulaha. Karena ya jadi begini ilah itu artinya umum Tuhan. Nah, orang-orang kafir menyebut mereka ilah karena mereka mengiraqhimal ibadahah mengira bahwa ibadah pantas untuk mereka padahal dia bukan Allah. Maka ini dibantah oleh Imam Ibnu Ibnu Manzur dan Imam Al-Azhari di dalam kitab lghahnya. Begitu juga Ibnu Manzur di dalam kitab Lisanul Arab ketika membahas lafaz rab yutl filh alal malik wasayid wal mudabbir wal murabbi wal wal qayyim wal munim. Sama seperti yang ustaz ee Thayib Maulidi sampaikan. Nah, yang alfakir ingin bahas di sini sebenarnya dalam sisi lghah sepertinya saya dengan Ustaz Thayib enggak ada masalah pembahasan tentang lghah karena kita sama-sama baca kamus, kita sama-sama belajar bahasa Arab. Sama yang kita tanyakan saat ini adalah setelah saya menonton video-video Ustaz Thayib berkali-kali beliau iktimad ala quuli Ibn Taimiyah rahimahullah menyandarkan pendapatnya dengan perkataan Imam Ibnu Taimiyah. Jadi Imam Ibnu Taimiyah ini dijadikan sebagai landasan dalil. Itu berkali-kali saya lihat di video TikTok beliau. Nah, dalil yang paling kuat tentang pemahaman Rabb dan Ilah, Imam Ibnu Taimiyah ini yang paling kuat. Enggak ada yang lebih kuat dari dalil ini, yaitu tentang surah Annas. Qulzubirabbinas malikinas ilahinas. Nah, ada rabbun ada ilah yang dibedakan di dua tempat. Saya ingin Ustaz Thyib menjelaskan istidlal dan istimbatul hukmi ala anna hadis surah. Bahwa surah Annas bisa dijadikan sebagai pembeda antara rububiyah dan uluhiyah. Sesuai pemahaman Imam Ibnu Taimiyah al-Harrani rahimahullahu taala. Itu yang pertama. Saya pengin mendengarkan sejauh mana Imam Ibnu Taimiyah dan pengikutnya memahami surah Annas. Baik dalam ilmu nahwu sharf, ilmul balagah, mantik. Andaikan mau pakai mantik, ushul fikih boleh jelaskan kepada kita agar kita yang ahlusunah wal jamaah yang berpendapat bahwa uluhiyah dan rububiyah itu sama talazum bainahuma. Itu yang pertama. Yang kedua yang ingin saya dengarkan dari Ustaz Thayib adalah ketika uluhiyah dan Rab dijadikan landasan bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid daripada kita yang bertawasul dan beristighatah. Itu itu dasarnya di mana? Karena Ustaz Thayib tadi mengatakan beliau akan berpendapat dengan Al-Qur'an dengan sunah shah dan salafus saleh. Saya pengin tahu salafus saleh yang mana yang mengatakan Abu Lahab dan Abu Jahal beriman dalam rububiyah tapi enggak beriman dalam uluhiyah. Salafus saleh yang mana? Ee sampaikan dasarnya di kitab apa akan kita baca. Itu yang pertama adalah tentang surah an-Nas. Cara beristimbat dan istidlal Ibnu Taimiyah pengin saya mendengarkan secara maksimal nanti akan kita tanggapi. Sekian terima kasih. Terima kasih Gus Wafi atas pemaparannya. Mungkin ee ada tanggapan e Ustaz Tayyib dipersilakan. Ee belum belum ada. Oh belum belum ada. Tadi ada dua ee hal yang ditekankan oleh Gus Wafi. Yang pertama tentang istidlal dan istinbatul hukum ee surat nas. ee apakah ada dari kalangan salaf sebagaimana yang dipahami oleh Ibnu Taimiyah, apakah ada orang salaf yang memahami sebagaimana pemahaman Ibnu Taimiyah dan ee pengikut-pengikut Ibnu Taimiyah. Dan kemudian yang kedua tentang ee uluhiyah ya Gus Wafi. Uluhiyah yang izin moderator. Untuk surah an-nas saya ingin mendengarkan dari Ustaz Thayib penjelasan nahwu sharf, ushul fikih, balagah, dan terserahlah sehingga bisa dijadikan dasar pembeda antara uluhiyah dan rububiyah. Karena itu dalilnya Ibnu Taimiyah rahimahullah. Yang kedua, salafus saleh yang mana yang mengatakan orang kafir Quraisy itu bertauhid rububiyah, tapi enggak bertauhid uluhiyah. Sekian. Hm. Iya, silakan Ustaz Thayub jika ingin ditanggapi. Alhamdulillahi rabbil alamin. Amma ba'd ya. Jadi ee sepemahaman saya ya, sepemahaman saya pada surah an-Nas ya. Apa tadi, Gus? Perbedaan antara surah Annas. Jadi, Ibnu Taimiyah rahimahullah berdalil surah Annas bahwa surah ini yang mengatakan rububiyah dan uluhiyah memiliki perbedaan. Karena ada rabbun, ada ilahun. Qulubirabbinnas pakai rabbun. Malikinnas. Kemudian ilahinnas ada ilah. Sekian. Iya. Jadi, Rabb itu ya seperti pengertian rububiyah ya, seperti pengertian rububiyah yaitu Rabb itu alkhaliq, almudzabbir ya kan. Adapun ilah yaitu tafsirannya ya lailahaillallah ya kan itu la ma'buda bihaqqin illallah. Jadi antara Rabb dan ilah ini sebetulnya jjtamaa ikhtalafa ya ittafaqo ya itu kaidahnya iftarqo iftarqo afwan jjtamaa iftaraqo waidzaqo ijtamaa itu kaidahnya siap baik ee Ee bagaimana Gus Dofi? Apakah yang perlu dipertanyakan lagi? Yang kedua. Oh iya. Tentang em uluhiyah dan eh ulihahnya Abu Jaha. Salafus saleh mana? Salafus saleh mana yang mengatakan bahwa orang kafir itu bertauhid rububiyah tapi tidak uluhiyah. Rubiah. Oh iya. Silakan Ustaz I tanggapi. Jadi kalau kita melihat pada alqawaidul Arba yaah karya ee Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab rahimahullahu taala, beliau tidak mengatakan bertauhid. Tapi orang kafir Quraisy itu bukan hanya kafir Quraisy ya yang saya maksud, bahkan iblis pun ya kan muqirrun bukan muwahidun muqirrun ya biannallaha huwal khaliq arroziq almudzabbir ya kan dan lain ee sebagainya dan dan yang lainnya. Jadi kalau kita merujuk kepada kitabnya Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab rahimahullahu taala, beliau tidak mengatakan bertauhid Gus. Tapi iblis pun ya kan jangankan Abu Lahab Abu Jahal, iblis pun hua muqirrun biannallaha kholiquhu. Ah, jadi begitu Gus. Itu tanggapan saya ya. Wallahuam. Terima kasih, Ustaz Thayib. Silakan Gus Wafi jika ingin menanggapi. Iya. Bismillahirrahmanirrahim. Yang pertama sebenarnya saya pengin mendengarkan secara maksimal tentang surah Annas-nya, Ustaz. Karena Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani berpendapat ketika membedakan antara konteks uluhiyah dan rububiyah menggunakan surah Annas. Ini dalil yang utama. Setelah itu banyak dalil-dalil yang lain. Itu yang pertama. Saya pengin tahu kita membahas dari nahwu sharfnya dulu. Nahorof ilahinnas jadi apa? Qul azubirabbinnas itu jadi apa? Itu yang pengin saya dengar. Karena dengan kita membahas nahwu sharfnya saja kita tahu bahwa Imam Ibnul ee Imam Ibnu Taimiyah itu kurang tepat dalam memahami rububiyah dan uluhiyah. Itu yang pertama. Yang kedua, Ustaz, kalau kata Ustaz Thyib barusan bahwa lafal ilah dengan rbun itu idtamaa iftarqo waidarqo ijtamaa memang Syekh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan demikian, Ustaz. Tetapi para pengikut beliau berarti konsekuensinya begini, Ustaz. Konsekuensinya begini. Seperti Syekh Bin Bas ini saya tampilkan di layar. bisa ditampilkan di layar. Dalam kitab Majemu Fatawa Wal Maqalat Mutanawiah karya Syekh bin Bas ya, juz 2 halaman 71. Beliau secara tegas mengatakan bahwa amma kaunuhu subhanahu jami. Allah Subhanahu wa taala sebagai Tuhannya segala sesuatu. pencipta makhlukum dan yang ngasih rezeki wahu lam yaqilaf wal umamal jamiul musyrikin min quraisyin wirihim mukirruna bihi ini ya mukirrun ya mengaku tetapi kalau kita lihat pendapat Muhammad bin Ahmad Basmil beliau mengatakan bahwa pengakuan itu menyebabkan Abu Jahal dan Abu Lahab lebih bertauhid daripada kita yang beristighah. Ustaz, itu yang kita beratkan, Ustaz. Mungkin nanti jenengan bisa klarifikasi ke e teman-teman yang ada di sana. Abu Jahal wa Abu Lahab waman alaim minal musyrikinu yminuna billah wahidunahu rububiyah. beriman kepada Allah dan mentauhidkan. Nah, Syekh Bin Bas juga ketika mengatakan mukirun ya, beliau menyematkan perkataannya w waq inkari firun wubiahukabar yamu fi nafsihi annahu mubtil. Jadi sebenarnya Firaun itu cuma ngaku-ngaku saja kan begitu tapi tahu kalau dirinya itu sedang ada dalam kebatilan. Dan banyak pendapat dari teman-teman dari kalangan ulama salafi yang mengatakan bahwa yang beristighafah itu lebih ee lebih rendah tauhidnya daripada Abu Lahab dan Abu Jahal. Karena orang-orang Quraisy ketika ditanyakan layakallah mereka mengatakan siapa yang kamu sembah? Siapa yang memberikan kamu rezeki? Mereka menjawab Allah. Nah, itu gimana tanggapannya? Yang pertama yang surah Annas, Ustaz mungkin dibahas nahwu sharfnya biar kita tahu Imam Ibnu Taimiyah sedang tidak tepat dalam memahami rububiyah dan uluhiyah dipisah. Begitu sekian. Baik, silakan Ustaz Thayib. Iya. Jadi saya pribadi afon Gus ya tidak terlalu mendalami mengenai dengan ee nahwu sharfnya di situ ya. Tapi begini, dalam ayat Al-Qur'an Allah Subhanahu wa taala ya berfirman, "Wa analajida lillah fala tad'u fala tad'u maallahi ahada." Kemudian dari ayat ini, Gus, lahirlah sebuah kaidah di antaranya ya, man daa ghairallahi man daa ghairallahi dua masalatin ya duaa masalah fil amrilladzi la yaqdiru alaihi illallah Ya fasyirkun ya man daa ghairallahi dua masalah ya fil amrilladzi la yaqdiru alaihi illallah fahua syirkun fahadza syirkun ya jadi barang siapa yang berdoa minta kepada selain Allah azza waalla ya di dalam perkara yang tidak bisa ia kabulkan kecuali Allah subhanahu wa taala, maka dia jatuh ya ke kotoran kesyirikan. Waliyadzubillah. Nah, sekarang ya itulah dia ya kan ketika ada seseorang ya kan di sebuah negara misalkan ya dia minta rezeki kepada ashabul kubur ya kan. Apakah ashabul kubur ini bisa mengabulkan? Nah, jadi poinnya di situ ya kan mungkin itu saja Gus ya yang bisa saya sampaikan ya. Wallahuam itu di antaranya. Kenapa? Karena dalam hadis Nabi sallallahu alaihi wasallam aduau hual ibadah. Adduau hual ibadah. Terus bagaimana ketika kita meminta berdoa kepada orang yang dia bisa mampu kabulkan? Ya kan? Maka kita tidak ada bahasan di situ. Yang kita bahas adalah ibadah. Contohnya doa. Ya kan? Contohnya doa. Dia meminta kepada ashabul kubur misalkan ya di sebuah negara yang mana ashabul kubur itu dia tidak bisa mengabulkan kecuali ini ranahnya Allah azza waalla maka dia telah masuk ke fala tadu maallahi ahada. ahada nakirah fiakin nahyih kaidah usulnya mengatakan wqiratu fiqin nahyi tufidul umum ya kan wallahuam ya terima kasih Ustaz Tyib silakan Gus wafi untuk menanggap oke saya persingkat Ustaz Anda meyakini enggak kalau orang kafir Quraisy itu bertauhid rububiyah yakin enggak silakan muqirrun iya Ya gak pertanyaan saya orang kafir Quraisy ketika mukirun ya mukirun apakah mereka memiliki tauhid rububiyah dalam dirinya ya di apakah dia mukhirun bahwasanya Allah roziquuh iya ya sudahudah itu. Nah, begini. Berarti Ustaz Thayyib meyakini dalam diri orang-orang kafir itu ada rububiyah. Tetapi di awal beliau sependapat dengan pendapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. I jamaa iftaroqo waid farqo ijtamaa. Ini blunder, Ustaz. Kenapa saya katakan blunder? Begini, Ustaz. Lafal ilah dan rabbun. Makanya saya di awal mengawali dengan surah An-Nas itu biar kita bahas kedudukan Rabbunas dan ilahunas apa. Biar ke sini nanti rentetannya. Ke sini. Kalau kita meyakini orang kafir itu memiliki sifat rububiyah di dalam dirinya, maksudnya mukirun, percaya bahwa Allah itu yang memiliki rezeki sehingga diberikan kepada mereka. Fatalnya jenengan sudah percaya kepada pendapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Kenapa fatal? Karena berarti orang-orang kafir itu benar-benar bertauhid secara sempurna, Ustaz. Kenapa saya katakan bertauhid secara sempurna? Karena Anda berpendapat ilah dan Rabb itu talazum, memiliki makna yang sama. Sedangkan Anda menisbatkan mengecap orang kafir Quraisy itu meyakini Allah itu pemberi rezeki secara otomatis juga meyakini Allah yang di yang disembah gitu, Ustaz. Karena kalau jenengan berpendapat yang talazum fatal ini berarti orang kafir Quraisy itu muslim semua, beriman semua, Ustaz. Begitu. Kalau jenengan berpendapat seperti Imam Ibnu Taimiyah misalnya, ketika memiliki ee istidlal surah Annas, jenengan aman. Ternyata jenengan memilih pendapat yang Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Kalau memiliki ee apa? Memilih pendapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, berarti orang kafir Quraisy Islam semua. Punya dua tauhid sekaligus. Sekali dia mukirun bir rububiyah, dia langsung mukirun bil uluhiyah. Karena maknanya sama gitu. Monggo silakan, Ustaz. Jadi gini, idtamaa iftarqo waidarqo ijtamaa. Jadi ee taksimut tauhid tiga itu rabbnya sama. Iya kan? Jadi orang kafir ee Quraisy begitu kan ya, bahkan iblis pun hua yukir hua yukir. Ee pertanyaan saya kepada Gus ee Gus Wafi ya kan buktikan bahwasanya orang kafir Quraisy mengikuti syariatnya Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam di ranah uluhiyah bukan rububiyah seperti doa seperti salat. E buktikan kepada saya, berikan bahwasanya orang kafir Quraisy ya kan salatnya mereka mengikuti syariatnya Nabi sallallahu alaihi wasallam. Mereka tidak menjadikan berhala. Karena kenapa? Karena Nabi sallallahu alaihi wasallam melarang hal itu ya. Nah, buktikan kepada saya bahwasanya Iblis atau Abu Lahab atau Abu Jahal ya kan melakukan apa yang semua Nabi sallallahu alaihi wasallam perintahkan kepada kita dari sisi uluhiyah. Begitu, Ustaz. Silakan. Silakan Gus. Ya. Bismillahirrahmanirrahim. Gini gini, Ustaz. Saya ee sampaikan pelan-pelan pertanyaan jenengan. Apakah ada data orang kafir pernah melakukan syariat yang berbentuk uluhiyah gitu kan? Seperti salat contohnya kan. Ini yang jelas enggak ada, Ustaz. Enggak ada. Enggak ada. Memang karena yang kita bahas bukan ibadahnya, keyakinannya. Yang kita bahas kan pemahaman keyakinannya, Ustaz. Bukan dia salatnya. Kalau kita nyari data orang kafir Quraisy salat Jumat misalnya, ya enggak ada, Ustaz. Enggak ada gitu. Yang kita pahami adalah di awal jenengan setuju, Ustaz. Ini saya pelan-pelan ngomongnya di awal saya. Jenengan setuju bahwa rububiyah dan uluhiyah itu talazum, saling terkait. Setuju nih? Berarti kalau percaya uluhiyah secara otomatis percaya rububiyah. Kalau percaya rububiyah otomatis percaya uluhiyah. Otomatis plek jadi satu. Jenengan mengikuti pendapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Nah, ketika saya tanya nih, apakah orang kafir mengakui bahwa Allah yang memberi rezeki mereka? Iya, kata jenengan kalau mereka mengakui rububiyah, ini pengakuan, Ustaz. Bukan ibadahnya, bukan pengakuan. Kalau mengakui berarti mereka juga mengakui uluhiyah secara otomatis karena talazum maknanya gitu loh, Ustaz. Itu fatalnya, Ustaz. Kita tidak sedang membahas orang kafir ee apa namanya itu mau salat Jumat kek, mau wudu kek, terserah, terserah mereka. Bukan itu yang kita bahas. Tapi keyakinan orang kafir. Ustaz Thayyib sudah mengatakan di awal dia orang kafir Quraisy mengakui tauhid rububiyah. Allah yang mengatur, Allah yang ngasih rezeki, Allah yang mematikan, Allah yang menghidupkan. Dipercayai oleh kafir Quraisy, kata Ustaz Thayib. Tetapi makna rububiyahnya talazum berarti melekat uluhiyah sama melububiyah. Secara tidak langsung kafir Quraisy muslim semua berarti beriman semua berarti begitu Ustaz monggo ditanggapi boleh silakan Ustaz mungkin ee kalau mungkin ada klarifikasi tentang talazum tadi iya ini iya mungkin Ustazib bisa mengarifikasi itu tauhiduna lillahi azza waall b'alihi itu rububiyah paham Gus ya tauhiduna Illahillah itu rububiyah. Apakah orang kafir Quraisy mukir? Mukir. Jangan kafir Quraisy. Iblis pun yukir biallaha hua khquhu satu. Kemudian tauhiduna wa ibadatuna lillahi b'alina. Ini far ini membedakan Gus tauhiduna lillahi azza waalla tauhid kita dan ibadah kita lillahi azza wa jalla b'alina ini uluhiyah ini idtamaa iftaraqo waqo ijtamaa kenapa ijtama iftaraqo karena istilahnya berbeda waftar ijtama kenapa karena rabbnya wahid wahuallah nah sekarang Sekarang pertanyaan saya gini, Gus. Buktikan Gus data ke saya bahwasanya Iblis dan Abu Lahab dan Abu Jahal mengakui tauhiduhum tauhiduhum lillahi azza waalla b'alihim. Itu saya minta datanya mana? Iya. Iya. I iya kan? Kalau enggak ada berarti ya sudah enggak perlu di berarti antum paham sebetulnya. itu kaidahnya. Wallahuam. Baik, terima kasih Ustaz Thyib. Silakan Gus Wafi. Apakah ada tanggapan lagi? Kita tampilkan datanya ya, Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Langsung tampilkan datanya biar enggak salah paham, Teman-teman. Gini, ini salah satu yang mengutip adalah Syekh Saleh bin Abdul Aziz Alus Syekh dalam karyanya At-Tamhid. Nah, pada halaman 416 dan 417 beliau mengatakan, "Falihadza qyaikhu rahimahullahu hinama suil." Syekh Muhammad bin Abdul Wahab ketika ditanya ya tentang uluhiyah rububiyah, beliau menjawab ini ya. Aluluhiyah war rububiyah kalimatbi wal ilah minal alfad alladzi allati jtamaat iftarqot. Jadi murni lafaz ustaz Syekh Muhammad bin Abdul Wahab itu membahas lafaznya dulu belum ke af'alnya dulu, lafaznya dulu gitu loh. Ilah dan rab segi lafaz kalau berkumpul maknanya beda. Hm. Waar ijat kalau berbeda di apa beda tempatnya maka maknanya kumpul. Jadi kalau ilah ya bermakna rab, kalau rab ya bermakna ilah gitu kalau beda. Nah yakni kata beliau kalafil fakir wal miskin seperti lafaz alfakir wal miskin. Lafaznya beliau menggunakan alfakir wal miskin. Wal islam wal iman wahwihima. Kata beliau. Kenapa? ilaha yutl kata ilah diucapkan alal ma'bud ini murni lafaz bukan enggak ada kaitannya dengan fi'luhu jadi kita bahas lafaz dulu nah wajaa fi nususin kiroh dan telah sampai kepada kita banyak nas-nas itlabi alal ma'budakarna bahwa lafal itu juga bermakna makbud. Kalau antum minta data kepada saya, minta data nih kepada saya bahwa kalau berkeyakinan uluhiyah ya harus salat dulu, harus ada bukti ibadah salat dulu, ikut syariat dulu baru apa gunanya talazum di sini bahwa satu kata bermakna dua. Apa gunanya? Bahkan beliau mengatakan itl alal ma'bud. Lafal rabbun, Ustaz, itu juga bisa bermakna ilah. Berarti bisa ditanya gini juga, kalau orang kafir percaya rububiyah, buktikan bahwa mereka juga salat. Karena rububiyah sudah bermakna uluhiyah. Otomatis kan? Kan otomatis, Ustaz. Begitu. Jadi pertanyaan jenengan itu, mohon maaf enggak nyambung, Ustaz. Enggak nyambung. Karena kalau jenengan nanya ilah uluhiyah, otomatis lafaznya masuk Rabb. Kalau jenengan bahas Arab, otomatis masuk ilah. Jadi jenengan meminta kepada saya, buktikan orang kafir pernah ikut syariat, ikut salat. Ya berarti ketika mereka meyakini rububiyah juga buktikan mereka juga ikut salat. Karena lafal rububiyah juga yutlaku alal ma'bud. Kata Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Begitu, Ustaz. Sekian terima kasih. Baik, silakan Ustaz Tayib. Iya, silakan tanggapi. Bismillah. Alhamdulillahbilamin. Amma ba. Pertanyaan saya kepada Gus ee Gus Wafi ya kan. Apa yang membuat iblis masuk neraka? Yang kita tahu ya kan iblis yuqir biannallaha hua kholiquhu. Apa yang membuat Abu Lahab masuk neraka? yang kita tahu bahwasanya Abu Lahab yuqir ya ee apa iqrar beriqrar bahwasanya Allahu Allah khaliquhu roziquh apa yang membuat siapa lagi Abu Lahab Abu Jahal masuk neraka padahal dia yuqir biallaha hua khquhuquh tolong dijawab Gus Silakan Gus waktu disilakan. Iya. Bismillahirrahmanirrahim. Di dalam kitab-kitab tafsir, kenapa iblis dikeluarkan oleh Allah di ee dari surga ke dari surga lalu dikeluarkan. Fafasaqo an amribih. Kan begitu ayatnya kan jelas. Fafasaqo an amribih. Dia fasik terhadap perintah Tuhannya. tidak melakukan tidak melakukan perintah Tuhannya ketika disuruh sujud kepada Nabi Adam alaihalam dan iblis mengatakan ana khairum minhu khalaqtani minarin wqtahu minin kan begitu sampai iblis mengatakan anirni ila yaumi yubatun nah karena iblis itu sombong tidak mau melakukan perintahnya fasaqo an amribihi maka dia dikeluarkan begitu alasannya ustaz cuma ee gini ini ustaz bedakan pembahasan makanya kita bahas lughah dulu jangan ke syariat dulu, lghah dulu. Di awal saya tampilkan pendapat ulama lghah, Ustaz, agar kita paham lghahnya dulu. Bukan ke salatnya dulu, ke perintah-perintah Allah dulu. Bahasanya dulu kita bahas, Ustaz. Bahasa selesai, selesai masalah gitu. Kalau rbun bermakna ilahun dan ilahun bermakna rbun, berarti orang kafir percaya rabbun juga percaya ilahun. Otomatis kan sudah dua-duanya talazum arqo ijtamaa ijtama iftarqo gitu loh ustaz. Are you understand? Yes. Silakan Ustaz Thaib. Jadi ee mungkin ya lebih ke pembahasan bahasanya terlebih dahulu. Silakan Ustaz. Ini siapa nih? Antum. Antum. Iya. Jadi jawaban Gus Wafi ya hafidahullahu taala ya bahwasanya ya kan iblis ya kan Abu Lahab Abu Jahal itu kafir ya betul enggak sih? Jelas betul ya kan? Nah ranah perintah ini masuk ke mana? Rububiyah apa uluhiyah? Ranah perintah Allah Subhanahu wa taala untuk mentauhidkannya untuk mengikuti syariat nabinya itu masuk ranah mana, Gus? Lah kan talazum, Ustaz. Iya rububiyah. Rububiyah juga Ustaz. Sebentar. Iya. Lanjut. Kalau talazum ya kan kenapa iblis itu nyemplung ke neraka? Itu aja berarti kan beda. H iya kan? Beda. Harusnya harusnya iblis masuk surga dong ya kan? Iya. Kenapa? Karena dia mentauhidkan Allah Subhanahu wa taala dan dia mengakui iblis yukir ya kan. bahwasanya apa kata iblis yang Allah tuangkan dalam Al-Qur'an? Khalaqtani minar walaqtahu minin. Tapi tetap Allah masukkan iblis kepada neraka. Abu Lahab tetap Allah masukkan iblis ke neraka. Abu Jahal tetap Allah masukkan iblis ke neraka. Apa sebabnya ini, Gus? Itu aja sih pertanyaan saya. Silakan, Gus. Baik. Sebentar. Em ini sepertinya ada sedikit perbedaan sudut pandang, ya. dari Gus Wafi. Ee tadi talazum yang dimaksud Gus Wafi kan ee merujuk kepada lafaz iya. Lafaz yang mana itu konsekuensi daripada apa yang Ustaz Thayib sampaikan. Iya. Dan Ustaz Thayib membahas tentang maknanya. Jadi mungkin kita bahas sedikit tentang lafaznya dulu Ustaz Thayib. Apakah uluhiyah dan rububiyah itu sama menurut antum atau berbeda? Kemudian ee nanti akan ditanggapi lagi oleh ee Gus Wafi lah. Ini bagian saya kan, Ustaz? Oh, iya. Silakan antum dulu. Sebenarnya tidak perlu ditanyakan lagi karena di awal Ustaz Thyib sudah ee mengikuti pendapat Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Mungkin beliau mau klarifikasi, Gus. Iya. Karena gini, Ustaz. Kita belum bahas ibadahnya, Ustaz. Belum. Keyakinan. Keyakinan, Ustaz. Lafaz dilafaz. Makanya lafaz ini rbun dan ilahun talazum apa tidak? Gitu aja dulu. Kalau sama karena yang kita bahas itu Allah, Ustaz. Yang kita bahas itu Allah. Masa Allah itu punya rububiyah tapi enggak uluhiyah atau punya uluhiyah tapi enggak rububiyah? Kan enggak. Yang kita bahas itu Allahu Subhanahu wa taala memiliki segalanya. Tiga. Tauhid itu semuanya ada pada diri Allah. Nah, kita bahas nih sekarang lafaznya. Saya bertanya di awal, orang kafir Quraisy percaya enggak rububiyah Allah? Percaya. Rububiyah Allah percaya. Kalau percaya rububiyah Allah kita ber karena gini, saya menentang Ustaz. Saya menentang orang kafir itu percaya kepada rububiyah Allah. Saya menentang itu. Dan pertentangan saya itu bukan kata saya, Ustaz. Tapi kata Syekh bin Bas sendiri ketika Firaun mengaku-ngaku itu dia itu sebenarnya cuma ngaku-ngaku saja. Ini ya saya tampilkan ya. Tadi kan sudah saya jelaskan di layar ini ya di yang saya tebalkan itu. W waqoa min inkari firaun wadiai arububiyah famukabaroh ylamu fi nafsihi annahu mubtil. Ngaku-ngaku saja. Jadi saya kadang heran sama teman-teman yang lain yang juga berkeyakinan sama seperti Ustaz Thayib. Kok bisa perkataan orang kafir dijadikan dalil? Kok bisa, Ustaz? Kan orang kafir ngaku kan ya? Win sa'altahum. Kalau mereka ditanya nih, siapa yang menciptakan, yang mematikan? Yang menghidupkan laquulunallah. Mereka mengakui bahwa Allahlah. Nah, berdasarkan ayat ini, Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani berpendapat bahwa orang kafir mengakui rububiyah. Padahal iman itu kan enggak cukup ngaku, Ustaz. Kan enggak cukup ngaku iman itu. Nah, itu dibantah oleh para ulama tafsir. Banyak ayatnya. Ayatnya sangat banyak sekali nanti bahwa mereka itu berbohong. Mereka berbohong tidak sedang mengakui rububiyah. Mereka itu cuma alasan saja. Buktinya mereka sama kata jenengan enggak ikut salat. Buktinya mereka enggak ngaku rububiyah, mereka enggak ikut Rasulullah dalam hal mengibadahi Allah. Kan gitu. Itu bukti, Ustaz. Bukti mereka enggak beriman kepada rububiyah, cuma lisan saja. Tapi sebenarnya mereka adalah musyrikin 100% adalah mereka tidak mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam. Nah, jauh sebelum kita bahas itu, makanya saya awali lafaznya dulu. Talazum enggak gitu. Kalau talazum, saya pribadi saya bisa menampilkan datanya banyak. Orang kafir musyrik, orang kafir Quraisy dan siapapun tidak punya rububiyah, tidak punya uluhiyah dalam dirinya. Pengakuannya faqat minal lisan. Hanya terjadi di lisan. Aman, Ustaz. Gak ada rububiyah, gak ada uluhiyah, aman orang kafir. Buktinya mereka gak salat. Buktinya mereka enggak begini. Tetapi kalau kita mengakui ada sifat rububiyahnya, percaya ke rububiyahnya, ini yang bahaya. Karena talazum sama ilahun gitu loh, Ustaz Fadol ya. Jadi ee talazum itu ya kan ee apa namanya? Ketika dia Rabbnya satu ya, Rabbnya satu memang Allah ya kan. ijtamaa iftarqo wa iftarqo ijtamaa. Jika kita gabungkan antara rububiyah dan uluhiyah, maka itu yang dimaksud adalah rabbun wahid, yaitu Allah subhanahu wa taala. Jadi apa namanya? Ee ketika iblis subh ee iblis ya kan Allah Subhanahu wa taala ee cantumkan perkataannya dalam Al-Qur'an. khalaqtani minar walaqtahu minin itu iblis dia mengikrar ya kan mengikrar ya kan dan apa masa masa Allah tidak tahu begitu kan ya kan bahwasanya iblis ini berbohong tidak ada ya kan tidak ada di sini tafsil ya karena kaidahnya tarkul istifsal fi maqomil ihtimal munazzalun manzilatal umumi fil maqol. Jadi ketika ee Allah Subhanahu wa taala menuangkan tentang keyakinan iblis ya khalaqani ya sudah iblis itu beriqrar bahwasanya Allah Subhanahu wa taala yang menciptakannya ya kan. Tapi pertanyaannya apa yang membuat iblis itu masuk neraka? Begitu kan dia kafir ya kan? Kalau ada talazum ya kan? Kalau ada talazum ya kenapa dia harus masuk ke neraka? Jadi begitu Gus tidak ada tafsil di sini Gus tidak ada tafsil dan kaidahnya mengatakan alhaqiqat syariah muqdamatunal haqqiqwati taarudah gitu ya. Jadi itu kalau ada taarud antara kalau ada kontradiktif antara hakikat syariah dengan hakikat lghawiyah maka yang dikedepankan, yang dikedepankan adalah hakikat syariah. Secara syari eh iblis yuqir bianallaha khquu dan tarqallahu fi hadil ayah attafsil. Allah tidak mentafsil. Dan kaidahnya mengatakan istif maqil ihtimal munazzalun manzilatal umumi fil maq. Wallahuam. Eh sedikit mengingatkan Gusfi tinggal 3 menit ya dan Ustaz Thayib tinggal 6 menit. Silakan Gusi. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. bisa ditampilkan di layar ini. Data ini, Ustaz jenengan pakai kaidah kalau ada pertentangan antara lghah dengan syariat, jelas di ee dikedepankan syariat. Kaidahnya benar tapi cara pahamnya saya enggak setuju gitu loh, Ustaz. Gini ini ya. Yang pertama, Ustaz di dalam surah Shad ayat 5 Quran ini. Aja'al aliha ilahan wahida inna hadza lasaiun ujaba. Mengapa Muhammad menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar sesuatu hal yang sangat mengherankan. Kata kafir Quraisy, suatu hal yang sangat mengherankan. Di dalam tafsir Athabari dikatakan waquuh ajaalhan wah yaqul waqil kafirun. Orang-orang kafir itu mengatakan alladina Muhammadirzab. Muhammad itu adalah penyihir pembohong. Ajaala Muhammad al maudat kaha wahid. Apakah Muhammad akan menjadikan yang disembah cuma satu saja? Yasmana jamiana yang mendengarkan doa kita semuanya. Orang kafir berkeyakinan rububiyah pun bukan kepada selain Allah subhanahu wa taala. Yasma doa jamiana. Hanya Allah satu saja. Wamu ibada kulli abidin abahu minna. Masa kita berdoa sangat banyak cuma Tuhan satu yang mau mengabulkan. Ini keyakinan orang-orang kafir bahwa rububiyah itu tak terjadi di dalam diri mereka. Tidak ada, Ustaz. Dan di dalam surah Sad ini jelas orang kafir meyakun meyakini doa-doa mereka dikabulkan oleh pihak-pihak lain seperti berhala dan lain sebagainya. Sekian dijawab, Ustaz. Silakan Ustaz. Tayib. Jadi ada kaidah mengatakan kaidah tauhid ya. Asyirku fir rububiyah muqaddamatun ee ee apa? Muqadamatun eh minasyirki fil uluhiyah. Asyirku fir rububiyah muqaddamatun minasyirki fil uluhiyah. Syirik dalam tauhid rububiyah itu awal mula syirik pada tauhid uluhiyah. I kan ya. Kenapa ya kenapa orang musyrik itu mempersembahkan ibadatuhum? azza ya Gus ya paham sini ya karena kenapa karena mereka meyakini bahwasanya berhala yang mereka sembah itu memiliki khasais seperti Allah azza waalla ya. Jadi itu Gus kenapa kenapa ada seseorang di sebuah negara ya meminta kepada kuburan dari sisi uluhiyah begitu ya. Kenapa? Karena mereka meyakini bahwasanya ashabul kubur dia bisa mengabulkan. Bisa mengabulkan ya. Kenapa? Bentar duluus. Iya. Kenapa seseorang misalkan ya dia menyembah ya meminta kepada hewan karena dia meyakini bahwasanya hewan itu punya sifat rububiyah sebagaimana Allah azza wa jalla. Jadi begitu Gus ya. Jadi ee apa namanya? Ketika orang kafir Quraisy ini dia ee mempersembahkan ibadahnya, doanya kepada berhala, maka itu sebab musabab ya. Dia menjadi sebab awal mula dia diyakini berhala itu punya sifat rububiyah. Wallahuam. Silakan Bu Gus Sofi tanggapannya. Oke. Kaidahnya ustaz, syirkur rububiyah muqaddamah ala syirkin uluhiyah. Nah, ini menentang pendapat jenengan yang di awal nanti, Ustaz. Roboh pendapat jenengan seolah-olah beda nanti. Padahal di awal kita sudah sepakat ilah sama rebun sama. Kalau kumpul sama, kalau enggak kumpul beda gitu. Kalau sampean pakai kaidah itu, sampean nyerang diri jenengan sendiri. gitu ustaz. Jangan ustaz jangan nyerang diri sendiri gitu. Jadi begini ustaz di dalam surah Azzuhruf ayat 9. Balhum fi syakki yalabun bisa ditampilkan. Balhum fi syakki yalabun. Bahkan mereka dalam keraguan yang bermain-main. Apa maksudnya? Al Imam Thabari menjelaskan abunakin mereka enggak yakin firunahu apa yang mereka tampakkan minal iman seolah-olah beriman wal iqr fiubihim dan mereka sebenarnya enggak apa namanya ya ragu terhadap iror mereka jadi irrornya ditolak oleh Quran, Ustaz yang nolak irrornya Quran. Jadi jenengan mengatakan bahwa mereka mukirun fi tauhid rububiyah ditolak oleh Al-Qur'an balum fiqiun hak gitu. Sekian terima kasih. Silakan Ustaz Thayib untuk menanggapi. Jadi ee kenapa ya kan orang kafir Quraisy itu mereka ee apa namanya ee meminta kepada selain Allah Gus ya kan? Kenapa mereka meminta kepada selain Allah? Karena dia meyakini bahwasanya berhala itu memiliki khasais rububiyah. Begitu ya. Itu yang harus kita Antum paham di sini, Gus? Ya, paham di sini ya. Jadi kenapa ya kan kenapa ee ka apa namanya? Iblis itu dia menjadi ashabunar, menjadi penghuni neraka. Karena kenapa? Karena dia ya kafir, tidak mengikuti apa yang Allah perintahkan ya kan. hukum asalnya yang ketika Allah memerintahkan dia sujud, maka dia wajib, ya kan? Dia wajib. Harusnya dia dari sisi ini iblis itu dia mengikuti apa yang Allah perintahkan gitu. Kalau misalkan ya kan ee orang menyembah atau meminta kepada ashabul kubur ya tidak punya keyakinan dari sisi rububiyah, saya yakin dia tidak mungkin meminta kepada ashabul kubur. Begitu Gus ya. Adapun keraguan-keraguan ya kan keraguan yang antum e sampaikan tadi ya mereka meragukan Allah Subhanahu wa taala gitu kan. Mereka meragukan Allah Subhanahu wa taala bahwasanya Allah subhanahu wa taala hua arraziq ee alma'bud ya kan begitu. Kalau seandainya mereka tidak ragu ya, bahwasanya Allah Subhanahu wa taala yang memberikan rezeki kepada mereka, tentu mereka tidak menyekutukan Allah Subhanahu wa taala. Wallahuam. Bufi masih punya 8 detik kalau mau dipakai. Iya, langsung penutupan aja wis anu. Awas closing statement masing-masing gitu. Silakan, Gus. Bismillah. Closing statement-nya saya dulu. Iya. Berapa menit? 1 menit ya. Bentar ini ini soalnya masih di mukadimah yang pertama, Gus. Jadi kalau closing statementnya nanti. Oh, saya kira anu, Ustaz eh apa di tema yang ini ada closing statement di tema? Oh, enggak ada ya? Tidak ada. Tidak ada. Kalau mau dipakai 8 detik silakan Gus. Kalau semisal kita apa? Pindah ke sesi juga tidak apa-apa. Iya, saya pakai bentar aja. Oh, iya. Siap. Iya. 1 2 3. Bismillah. Bismillahirrahmanirrahim. Saya tambahkan dalil di dalam surah Attur ayat 36. Apakah ketika mereka ditanyakan siapa yang apa siapa yang menciptakan langit dan bumi? Orang kafir tidak meyakini. Jadi salah ketika ada orang yang mengatakan orang kafir mukirrun bir rububiyah. Hak. Sekian terima kasih. Nah, terima kasih. Silakan Ustaz Thayib jika ada eh closing statement tentang sesi pertama ini. Silakan. Alhamdulillahiabbil alamin. Amma ba'd. Orang kafir memang tidak ee meyakini. Kenapa? Karena mereka kufur gitu kan ee mereka ingkar kepada Allah azza waalla bahwasanya Allah itu ee arraziq, almudabbir, alkhaliq. Apalagi ketika Allah dari sisi uluhiyah Allah perintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah, mereka juga kafir kepada Allah azza wa jalla. Wallahuam. Wallahuam. Terima kasih para narasumber. Untuk sesi pertama tentang uluhiyah dan rububiyah sudah kita selesaikan. Maka setelah ini kita akan beranjak ke sesi kedua tentang pembahasan asma was sifat. Asma was sifat. Jadi untuk putan putaran pertama nanti dimulai dengan Ustaz Thayib 7 menit dilanjutkan oleh Gus ee Wafi 7 menit dilanjutkan lagi Ustaz Ahmad Thayib 5 menit dan dijawab lagi 7 menit oleh Gus Wafi dan terakhir juga Ustaz Ahmad 5 menit Ustaz Thayib afwan. Kemudian nanti per putaran kedua kita mulai dari Gus Wafi 7 menit dijawab lagi Ustaz Thyib 7 menit Gus Wafi lagi 5 menit Ustaz Thayib lagi 7 menit dan terakhir Gus Wafi 5 menit dan putaran ketiga nanti ada sesi saling tanggap ya antara Gus Wafi dan Ustaz Ahmad Thayib dan waktunya masing-masing nanti yang terakhir 20 menit. Nah, bisa kita mulai Gus ee Afwan, Ustaz Thayib bisa dimulai. Alhamdulillahi wahdahu wasalatu wassalamu ala man la nabiya ba'dahu amma ba'd. Kaidah mengatakan ya la majala lil aqli fil ghaibiyat. Tidak ada ruang bagi akal di ranah ghaibiyat khususnya di ranah sifat Allah azza wa jalla. Ya, jadi kita ya kan sebagai hamba Allah Subhanahu wa taala tidak boleh menggunakan akal kita untuk mengejar kaifiah tentang sifat Allah Subhanahu wa taala. Karena kenapa? Akal kita sangat terbatas dan ruang gaib itu sangatlah luas. Maka akal kita harus tunduk dan tidak boleh mengkaifiahkan, membagaimanakan sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala. Lebih-lebih kita jatuh kepada tamsil ya kan antara sifat Allah azza waalla yang kamilatun min kulli. dengan sifat makhluk yang naqisatun min kulliai liannal qiasa maal fariq batilun. Kemudian yang kedua, la yuqasul gaibu alahidi fi babil gaibiyat. Tidak boleh kita mengkiaskan, menyamakan, mentamsilkan antara sifat Allah Subhanahu wa taala dengan sifat makhluknya di ranah ghaib. Karena ini ranah ghaib ya. Karena Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala dalam Majmuk Fatawanya mengatakan kaidah almuattilu musyabbihun atau mumilun. Wal mumilu muattilun. Ya, tidaklah Allah ee tidaklah makhluk ya kan tidaklah seseorang dia menyamakan sifat Allah Subhanahu wa taala dengan sifat makhluknya kecuali dia pasti akan jatuh ke qaditi taatil. Ya. Dan tidaklah ee ee seseorang ya ee mengingkari keumuman dalil ya tentang fala tadribu lillahil amsal ya laisa kamlihi ya kecuali dia jatuh kepada tamil. Maka kaidah Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala mengatakan, "Almumatilu muattilun wal muattilu yattil nusus ammah kecuali dia pasti mumilun." Wallahuam. Baik, terima kasih Ustaz Thayib. Silakan Gus Wafi waktu 7 menit disilakan. Sudah 7 menit beliau? Belum. Belum. Beliau tadi 3 menit tapi sudah di disilakan untuk antum menanggapi. Oh ya iya betul Ustaz sudah dipersilakan. I oke bisa ditampilkan di layar. Bismillahirrahmanirrahim. Kita kalau bahas asma was sifat kita bahas secara tetap kita akan kembalikan secara lghah lagi. Karena yang kita bahas Al-Qur'an gitu loh. Yang kita bahas Al-Qur'an maka tidak akan lepas dari ilmu lghah. Karena Al-Qur'an bahasa Arab. Kalau Al-Qur'an bahasa Suryani, wah saya enggak tahu Suryani, Ustaz. Yang saya tahu Surya 16 gitu. Saya enggak paham. Nah, karena bahasa Arab maka selalu pakai ka-kaid lughah. Ayat yang kita pakai itu sepakat kan ustaz ya. Laisa kamli kan sepakat itu kan sebenarnya kan umum dia. Iya. Laisa kamli wahu samiul bir pertama perbedaan istilah nit syakel syebeh, musawi dan mitl. Q Imam Alfiruz Zabadi fiirwi tamyiz wahua yakni lafzul matal aul alf almauduah lil musyabahah. Jadi lafaz ml itu lafaz yang paling umum untuk segala jenis bentuk kata penyerupaan. Jadi niddun sakel sybeh, musawi itu masih di bawahnya misl. Mislil itu sudah umum gitu. Mislil itu sudah umum. Nah, kemudian karena yang kita bahas adalah Allah Subhanahu wa taala, tentu saya yakin Ustaz Thayib dan saya niatnya sama, sama-sama ingin mensucikan Allah Subhanahu wa taala cuma berbeda pendapat. Nah, ini yang kita akan kita bahas. Nah, jisim itu apa? Nah, gini. Jisim itu menurut para ulama saya tampilkan di sini menurut al Imam Ibnu Faris jasama adalah tajammuusai sesuatu yang berkumpul. Gambar gampangannya seperti itu. Sesuatu yang bergradasi bertarkib berbadan itu jisim. Nah enggak sama seperti itu. Kita sepakat Allah enggak sama seperti itu dan enggak boleh sama. Mirip saja enggak boleh, apalagi sama. Nah, Imam Al-Azhari di dalam kitab eh lughahnya tahzibul lughah, jismun adalah yajmaul badan wa minanas. Kumpulnya badan dan anggota tubuh dari manusia. Wal ibil wadwab wahwialik. Dan apapun itu yang ada di dunia cakrawala ini itu masuk kepada jisim karena punya badan, punya a'd dan lain sebagainya. Di dalam kitab Lisanul Arab juga begitu sama wafiul muhid begitu. Nah, al Imam Ibnu Taimiyah al-Harrani sepakat dengan definisi jisim para ulama. Di sini beliau mengatakan bahwa anal ajzam cuma yang perlu kita garis bawahi ini ya. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan begini. Analjzam ajsam bainaha qodrun musytarak wahua jinsul miqdar. Di sini Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani mengawali perkataannya dengan qadrun musytarak minimal samanya di apa kan begitu. Nah, ternyata Imam Ibnu Taimiyah tidak selalu menolak tadi di awal Ustaz Thayib mengatakan ee tafwid itu enggak mau. Beliau enggak mau sama tafwid. Nanti kita cek bahwa kitab-kitab Ibnu Taimiyah juga ada yang pro kepada hal-hal yang demikian. Nah, begitu. Nah, jadi enggak ada beda ya antara definisi jisim ahlul lughah dengan Imam Ibnu Taimiyah dan yang lain enggak ada beda. Cuma Imam Ibnu Taimiyah hanya pakai lafal qadrun musytarak minimal penyamaannya. Nah, dalil aqli ya kalau kata Ustaz Thayib kan pakai kaidah la majala fil aqli fil ghaibiyat ya. Tidak ada akal itu enggak dipakai dalam hal ghaibiyat. Nah, berbeda dengan saya nantinya, Ustaz. Ya, ini dasarnya yang pertama di layar sudah kita tampilkan. Al Imam Albaihaqi fi kitabihi altqad di dalam kitabnya altiqad apa kata beliau? Kalau Allah sang pencipta alam mirip dengan alam, sedikit saja miripnya dari satu sisi, maka dia akan mirip di satu sisi itu dengan alam. Whal. Dan itu adalah perkara yang muhal. Kenapa? Ayyakunal qadim muhdat. Enggak ada perkara qadim ini yang muhdat. Enggak ada. Kalau satu sisi sama dengan alam, berarti akan menyebabkan satu sisi itu sama dengan berbagai ee faedahnya. Alam itu wajibnya apa, mustahilnya apa, jaiznya apa. Dan ini disepakati oleh Imam Ibnu Taimiyah al-Harrani. Kalau ada yang sama dalam satu sisi, mewajibkan wajib, mustahil dan ee apa nam? Jaiz juga akan sama dalam satu sisi. Itu kata siapa? Kata Imam Ibnu Taimiyah Alharani, jadi sepakat Imam Baihaqi sama beliau, "Wakun qodiman min jihatin hadisan min jihatin." Dan mustahil Allah itu qadim dalam satu sisi tapi baru dalam satu sisi. Enggak mungkin. Allah itu qadim semuanya. Ya. Jadi yang ingin saya tanggapi, Ustaz, kaidah la majala fil ghaibiyat fil aqli. La majalah fil aqli fil ghaibiyat itu dalilnya apa? Otomatis kalau kaidah melalui istiqra kan. Nah, istimbatul hukminya itu dari mana kaidah itu? Itu yang pertama. Yang kedua, saya pengin tahu tentang Anda, Ustaz, memahami ayat-ayat sifat di dalam Al-Qur'an, ya. Memahami ayat-ayat sifat itu bagaimana? Coba dijelaskan. Sekian. Terima kasih. Ya, terima kasih Gusafi. Kita persilakan Ustaz Ahmad Thayib 5 menit untuk menjawab. Silakan, Ustaz. Kaidah Alhamdulillahiabbil alamin amma ba'd. Kaidah ya hasil dari istiqra yaitu la majala lil aqli fil ghaibiyat. Ya, tidak ada ruang bagi akal di ranah ghaibiyat ini adalah hasil ya kan ee daripada ya almassil yaitu menyamakan Allah subhanahu wa taala. dengan sifat makhluknya. Kemudian mereka lari kepada taktil ya kan? Kemudian mereka lari kepada taktil ya, yaitu mentakwil atau mentahrif sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang seharusnya kita beriman kepada zahiru hadihin nusus gitu kan. mereka ya mengakali ya kan yaitu mentamsili, mentasybihi ya sifat Allah Subhanahu wa taala ya yaitu sifat ghaibiyah ya dengan ee sifat makhluknya yang bukan ghaibiyah begitu. Nah kemudian mereka setelah mentasybihi itu jatuhlah kepada taktil. Kenapa? Ya, karena mereka akalnya masuk karena ghaibiyat. Ghaibiyat. Kemudian disamakan dengan musyahadat. Disamakan dengan musyahadat. Nah, lawazim ee mereka seperti ini ya itu melahirkan ee sebuah kaidah bahwasanya la majala lil aqli fil ghaibiyat. Begitu Gus. Sudah Ustaz? Sudah. Sudah. Yang kedua tentang Oh, yang kedua tentang memahami ayat-ayat sifat. Mungkin bisa dijelaskan. Ee mungkin bisa diulang Gus pertanyaan Gus. Iya. Silakan Gus. Bagaimana jenengan cara memahami ayat-ayat sifat seperti istiwa misalnya Fadol? Ya, silakan. Alhamdulillahi rabbil alamin. Kaidah mengatakan nususus sifat muhkamatun bittibari ma'aniha wa mutasyabihatun biibari kaifiyatiha. Jadi nas-nas sifat ya kan itu muhkamah maklumatul makna ya. Maknanya kita pahami gitu kan. Jadi muhkamah dari sisi makna nas-nas sifat Allah itu bagi saya itu mafhumah maklumah kita ketahui dari sisi makna. Oleh karena itu kita tidak mengimani tafwid ya. Dan mutasyabihah yaitu ghairu maklumah dari sisi kaifiahnya. Dari sisi kaifiahnya. Kenapa? Ya, karena kaifiahnya itu kita enggak tahu. Allah Subhanahu wa taala ya ee menyampaikan tentang sifat-sifatnya pada nusus asyariah ya pada annusus asyariyah itu agar supaya kita tahu maknanya bukan kaifiahnya bukan membagaimanakannya. Jadi istiwa ya secara makna kita paham sebagaimana eh suila Imam Malik ya wausal kaifiyatus sifatiikun ajabahum bilati maklumatul makna kata e Imam Malik rahimahullahu taalaumatul makna sifatubina majhulatul kaifi fabad kira-kira begitu ya. Nah, jadi gitu. Jadi kita ee terhadap sifat-sifat Allah Subhanahu wa taala yang ada pada annusus asahihah, kita beriman pada maknanya. Kita paham maknanya. Yang kita tidak imani adalah kaifiahnya. Kaifiahnya kenapa? Karena kita tidak tahu. Wallahuam. Sudah, Ustaz. TIB sudah sudah em silakan Gus Wafi untuk menanggapi waktunya 5 menit dimulai dari sekarang. Bismillah Fadol. Oke. Terima kasih Ustaz Thayib telah e memberikan penjelasannya. Saat ini kita ehemasuki sesi eh Ustaz Afon, Gus Wafi sekarang akan menanggapi dengan waktu 5 menit Gus. Dimulai dari sekarang disilakan. Bismillah. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Yang pertama saya ingin bertanya, Ustaz, kepada Anda ketika mengatakan bahwa ayat-ayat sifat itu harus diketahui maknanya. Ini ulama salaf yang mana yang ngomong, Ustaz? Coba ditampilkan data saya di anu di layar. ini terlalu bertentangan dengan pendapat Imam Ahmad gitu loh. Karena Imam Ibnu Taimiyah saja ketakwil aja membenarkan. Beliau ketakwil membenarkan, Ustaz. Ibnu Taimiyah Alharani ke takwil saja membenarkan. Nah, waqha tafidil Imam Ahmad haitu qusus sifat. Telah sahih sanadnya tentang perkataan Imam Ahmad mengenai tafwid di dalam memahami sifat-sifat Allah. Kita percaya beriman tanpa KF juga enggak enggak tahu maknanya. Jadi kita ini, saya melihat di video Ustaz Thyib bahwa orang yang mentafwid itu berarti muattil. Nah, kita bukan muattil, Ustaz. Muattil itu menafikan. Kita enggak enggak menafikan. Misal saya contoh, HP ini tidak ada baru menafikan. Tapi kalau saya bilang HP ini ada di toko, itu ada cuma di toko gitu loh. Makanya Imam Ahmad dan para ulama salaf kenapa memilih metode tafwid? Karena menyerahkan maknanya kepada Allah. Maknanya ada apa enggak? Ada. Tapi kita enggak berani ngomong, takut salah gitu loh. Karena Allah sudah mengatakan la ya'lamu takwilahu illallah. Enggak ada yang tahu artinya kecuali hanya Allah. Maka para ulama salaf mengatakan, "Nusoddiqu biha wala kaifa wala makna." Nah, tentang kaidah bahwa ayat muhkamat itu maklumun fil makna wa mutasyabihat eh fil kaif. Itu ulama salaf siapa yang ngomong, Ustaz? Jadi pertanyaan saya pertama ya, pertanyaan saya pertama ini ulama salaf siapa yang mengatakan bahwa mutasyabihat itu maklum fil makna majhul fil kaif? Itu yang pertama. Yang kedua, Ustaz, kapan ulama salaf mengatakan bahwa memahami Al-Qur'an itu ya memang harus diketahui maknanya. Ulama salaf mana yang mengatakan seperti itu? Dalam konteks nususus sifat. Nusus sifat, ya. Sifat-sifat harus diketahui maknanya. Ulama salaf yang mana, Ustaz? Pengin tahu saya. Nah, bahkan Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani ini di dalam kitab namanya Minhatul Bari saya bawa ini ya. Binaqdiqati Bas bin Bas ala Fathil Bari. Jadi Syekh bin Bas itu mentaklik kitab Fathul Bari. Nah, di kitab ini adalah rad ya, Rad kepada bin Bas. Ibnu Taimiyah ternyata kepada takwil saja pro begitu. Ibnuah rahimahullahu taala mubarmwa. Nah, ini nasnya nasnya Ibnu Taimiyah tafsir ayah tafsirul ayah bala mufir minalna makna ya yang dibahas makna loh mau bihi waj ahsanik tafsir almuh. Jadi, Ibnu Taimiyah saja ketika melihat para salaf mentafsir wajah ya di dalam ayat wajah dan para mufassirin juga menafsirkan lafaz wajah didukung oleh Imam Ibnu Taimiyah al-Harrani. Dan Imam Ahmad sebagai ulama salaf memilih metode tafwid dan tafwid ini dipilih oleh mayoritas ulama salaf, Ustaz. Mendiamkan bukan memberikan makna. Jadi pertanyaan saya ibarat bahwa mutasyabihat itu ee maklum fil makna itu ulama salaf siapa? Kalau dikatakan Imam Malik, Ustaz ini gini ayat tentang Imam Malik ditanyakan alistiwa maklum atau giru ma'qul wal kaif majhul kemudian wasualu anhu bidah kan begitu kan. Nah, kenapa tadi di awal antum sudah mengatakan selama itu Al-Qur'an dan hadis sahih, saya akan mengikutinya, kata jenengan. H dan riwayatnya sahih dari para ulama, saya akan mengikutinya. Padahal yang lebih sahih daripada itu ketika Imam Malik mengatakan kama wasofa nafsah. Ketika ditanyakan arrahmanu alal arsistawa kaifa istawa. Kan begitu muridnya kan. Gimana istawa? Karena pertanyaannya gimana? Maka Imam Malik mengatakan kama wasaah. Sekian yfi. Sekarang ee tanggapan terakhir dari Ustaz Thyib. Silakan, Ustaz. Dipersilakan. Ee ini ya di kitab Muwafaqatu Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah. Saya kira antum sudah tahu, Gus. Masalah kitab ini. Ya sudah khatam. Sudah khatam ya. Antum pasti baca ini. Sudah khatam. Sudah baca, sudah khatam itu saya. Oke nih. Faqod asbata Ibnu Umar radhiallahu anhuma. Alyad lillahi haqqiqatan. Ini maklumatul makna ya kan. Jadi gini, kira-kira Allah azza waalla iya kan ketika mengatakan dalam ayatnya, bal yadahu mabsutatan ya secara secara lghah ya kan kita paham enggak makna yat gitu. Jangan sampai kita contoh lain ya, contoh lain. Kira-kira kalau ada orang mengatakan di sana ada kambing, apakah kita paham di situ ada sapi secara lghatan? Nah, ini contoh lain ya. Ini contoh lain. Ketika ada orang mengatakan di sana ada kambing, apakah dalam benak kita di situ ada kuda? Paham makna kambing? Kambing makna paham ya secara makna ya. secara bahasa kita paham makna kambing ya, enggak mungkin kayak kuda gitu karena bahasanya secara makna dia berbeda. Ketika Allah mengatakan dalam ayatnya, "Ya bal yadaahu bal yadahu mabsutatan." Paham enggak makna yat? Lghatan lghatan. Paham enggak? Paham enggak? Jadi Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur'an kepada kita agar supaya kita mentadabburi dengan memahami maknanya salalgotan itu maqasidul Quran Gus. Secara makna ya kan Allah Subhanahu wa taala menurunkan Al-Qur'an kepada kita likaiama ma'ani eh ayatihi. Yaah begitu ya. Itu secara secara bahasa begitu. Maklumatul makna majhulatul kaifiah. Jadi nusus sifat ya sebagaimana kaidahnya saya katakan nususus sifat muhkamah bittibari ma'aniha. Muhkamah itu maklumah paham wadihah zahirah secara makna kita paham gitu kan. Tapi mutasyabihah biktibari kaifiyat kaifiahnya membagaimanakannya kita tidak tahu. Kecuali kita samakan dengan makhluk maka muskil musykilatu. Kalau kita tamsil, qiaskan ya kan kemudian kita ttil disebabkan ee tamsil tadi antara sifat Allah dengan sifat makhluk maka itu musykilatu. Wallahuam. Jadi saya sampaikan ya bahwasanya ada salaf ya kan dari Ibnu Umar. Ibnu Umar Gus bukan ulama-ulama mutakhirin Ibnu Umar ya ee apa kata beliau radhiallahu anhuma. Faqbata Ibnu Umar radhiallahu anhuma alyad lillahiqotan. Ah gitu, Guys. Wallahuam. Sudah, Ustaz. Tib sudah. Terima kasih, Ustaz Tayib. Kemudian kita ke putaran kedua Gus eh Gus Wafi. Ee kami beri waktu 7 menit untuk memberikan statement. Kemudian nanti dilanjutkan Ustaz Thayib dan dilanjutkan lagi antum 5 menit. 5 menit. 5 menit. Saya 7 menit. Antum 7 menit pertama ini. Bismillah. Iya, Afan. Saya belum pernah melemparkan pertanyaan Kak Gus. Belum nanti insyaallah. Iya. Setelah ini, setelah ini ya, setelah ini akan diberikan pertanyaan nanti. Silakan, Gus Wafi. Bismillah. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Di awal saya bertanya tentang istiwa, Ustaz. Awalnya kan saya bertanya tentang istiwa, tapi Ustaz Thyib lari ke balyadahu mabsutotan. Nanti yadun itu bisa kita bahas, Ustaz. Aman itu. Dan ee kitab ee tentang Muwafaqatu Ibnu Taimiyah itu insyaallah sudah selesai. Insyaallah al-fqir sudah selesai bacanya tiga jilid. Nah, yang pertanyaan saya itu adalah tentang ee istiwa sebenarnya. Kenapa antum menggunakan dalil Imam Malik yang al-istiwa maklum atau giriu makul? Kenapa kok ndak pakai yang lebih sahih lebih aman? Kama wasofa nafsah. Itu lebih sahih lebih aman dari segala jalur. Kama wasofa nafsah. Sebagaimana Allah mensifati dirinya sendiri. Kita enggak boleh ikut campur. Nah, kalau kita mengatakan bahwa memahami ayat sifat itu dengan lghahnya, maka kita akan mujassim. Terjadi tajsim kepada diri kita. terjadi tajsim nanti menyamakan Allah seperti makhluk. Padahal Allah sudah mengatakan la yalamu takwilahu illallah. Sisi hebatnya Al-Qur'an di mana nanti kalau kita semua bisa memaknai secara lughah. Apa bedanya Quran dengan skripsi nantinya? Lebih hebat skripsi dong bisa dipahami hanya untuk orang yang sudah kuliah. Lah kalau Al-Qur'an bisa dipahami secara terjemahan hanya dengan bahasa lghah saja, apa hebatnya Al-Qur'an nanti, Ustaz? Begitu. Makanya Allah mengatakan dalam ayat mutasyabihat, yama la ylamu takwilahu illallah. Nah, inilah maksud para ulama mentafwid. Saya punya kitab di sini namanyau waraddu ala man nasaba lillahil haq. Ya, ini di dalam kitab ini kalau ini kalau saya baca gak cukup waktunya. 70 lebih ulama salaf ya mengatakan Allah itu ada tanpa had, tanpa batas, enggak sama dengan jisim, enggak sama seperti apapun. Kalau kita mengatakan bahwa tangan hakikah, Allah punya tangan, Ustaz. Tapi di Nafyul Kaif, apa bedanya dengan begini? Kamu kayak babi tapi gak kayak babi-babi yang lain. Kan tetap babi, Ustaz. Motor Honda dengan motor Supra. Eh, gak Supra Honda juga nanti. Motor Honda dengan Yamaha itu sama-sama motor. KF-nya beda, Ustaz. Spionnya beda, apa nam mesinnya beda, joknya beda, sayapnya beda, rodanya beda dari pabrik yang beda. Semua KF-nya beda antara Yamaha dengan Honda. Tapi sama-sama motor. Kalau saya mengatakan Allah punya tangan, Allah punya wajah, tapi wajahnya enggak sama kayak saya. Maka kita telah menetapkan qadrul musytarak yang a'dom. Penyamaan hakikatnya sama. Kaif itu cuma cabang, Ustaz. KF itu cuma cabang. Kayak kaifal istiwa? Istiwa bil julus. Kata ulama salafi dari kalangan teman-teman Wahabi, ada saya punya datanya bil julus. Kalau Allah duduk lalu mengatakan tapi duduknya enggak sama dengan kita. Lah apa bedanya dengan contoh saya yang tadi? Kamu seperti monyet tapi enggak seperti monyet yang lain. Kamu lebih ganteng. Ya tetap monyet, Ustaz. Tetap monyet begitu. Karena hakikatnya sama, mahiahnya sama. hanya KF-nya yang berbeda. Ah, ini yang tidak bisa kita ee terima dari pemahaman ulama-ulama dari kalangan Wahabi seperti Bin Bas. Nanti saya tampilkan itu duduk seperti duduk orang gitu. Kemudian Imam Ibnu Taimiyah juga Syekh Ibnu Utsaimin. Semuanya semuanya mengatakan bahwa saya punya riwayat-riwayatnya ketika punya tangan ya tangan hisi hakikatan memang tangan gitu bukan tangan bermakna menguasai bukan. Nah, maka apa bedanya dengan kita mengatakan seperti yang saya katakan tadi, motor Honda dan Yamaha sama-sama motor, tapi KF-nya semuanya berbeda. Ya, itu penjelasan dari saya. Sekian, terima kasih. Terima kasih, Gus Wafi. Sebenarnya tadi masih ada 2 menit, Gus. Tapi kalau sudah kita ee lempar ke Ustaz Thayib untuk menanggapi waktu juga 7 menit, Ustaz. Iya. Ini bukan nanggapi, tapi bertanya, ya. Eh, silakan. Jika ada kaidah Gus mengatakan aluslu alaslu alaslu umurilu alal adillah hukum asalnya ya kan dalam ranah ghaibiyat terutama dalam pengistilahan kepada sifat-sifat Allah itu harus berlandaskan dalil. Pertanyaan saya kepada Gus Wawafi, mana dalil yang mengatakan bahwasanya Allah itu ee apa memiliki jisim? Mana dalil berikan kepada saya? Bahwasanya Allah Subhanahu wa taala memiliki jisim. Yang saya tahu dalam dalil Allah memiliki nafs dan zat. Dari nafas dan zat itu turunlah sifat. Sebagaimana kita memiliki nafs dan zat. Dari nafas dan zat kita turunlah sifat tangan kita. Kita turun ya kan kita miliki wajah. I kan kita miliki saq ya kan itu dari mana? Dari zat dan nafas itu ada dalilnya kita mengimani ya kan ya. Ta'lamu ma fi nafsi inni haramtudulma ala nafsi kata Allah azza waalla kita beriman bahwasanya Allah memiliki nafs dan zat. Dari nafs dan zat Allah itu turun sifat. Pertanyaan saya, mana dalil yang mengatakan bahwasanya Allah azza waalla mengatakan kalimat jism? Kemudian muncul stempel mujassim kepada orang yang beriman kepada zahirun nusus. Silakan Gus. Sudah cukup Ustaz? Sudah cukup. Silakan Gus Fafi menanggapi waktu 5 menit. Dipersilakan. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Begini Ustaz. Kalau kita makanya gini saya jelaskan secara detail, pelan-pelan. Kalau kita menuntut dalil ya khusus di Al-Qur'an dari awal sampai akhir bahwa Allah itu jisim ya enggak ada, Ustaz atau disebut dengan jism ya enggak ada, Ustaz. Tapi cara bertanya seperti itu tuh salah Ustaz, gitu. Cara bertanya seperti itu tuh tidak tepat. Makanya di awal saya tampilkan ulama lghah dulu. Apa itu jisim, apa itu badan. A'd, saya tampilkan lghah. Karena yang kita bahas Al-Qur'an, Ustaz. Memahami Al-Qur'an itu kalau cuma dengan terjemahannya istiwa, duduk tangan berarti ya sudah tangan ya. Apa hebatnya Al-Qur'an kalau seperti itu? Gak punya mutasyabihat sama sekali. Nanti Allah ini enggak berbeda. Berarti bedanya cuma KF. Kaif itu kan perbedaan cabang. Hakiqatul mahiyah kan yang sebenarnya harus berbeda kan. Hakikatnya yang harus berbeda. Kalau ditanya mana ada lafal jisim? Ya enggak ada, Ustaz gitu. Tidak ada dalil lah. Enggak ada. Allah jisim di Al-Qur'an itu enggak ada. Tapi cara nanya seperti itu tuh enggak tepat. Kenapa? Gini, Ustaz. Para ulama salaf dari dulu kenapa kok membahas jisim? Apakah para ulama salaf enggak tahu kepada istilah jisim? Ya tahu. Ibnul Faris hidup di abad ke berapa? Kan setelah salaf. Abad keempat atau kelima beliau mengarang kitab Tahdziibul Lughah. Ibnul Manzur punya kitab Lisanul Arab membahas jisim lalu mengaitkan kemudian para ulama dengan Allah Subhanahu wa taala. Bukan gitu? Jadi dalil bagi kita masodirut tasyri itu satu Al-Qur'an, dua sunah, ketiga ijmak. keempat kias. Nah, Allah bukan jisim itu ijma para ulama itu dalil juga di kita gak harus ada ayatnya di Al-Qur'an enggak harus. Yang menolak Allah itu bukan jisim itu ya mujassimah, musyabbihah. Wama asbahazalik minal hasyawiyah w giriha. Begitu. Nah, sehingga kalau nanyanya antum itu harus ada lafaznya kayak tanya, "Kamu maulid nabi kan?" Iya. Di mana ada maulid ayatnya maulid nabi di dalam Quran? Ya enggak ada, Saudara. Di mana cara membaca Al-Qur'an, mad thobi'i di dalam Al-Qur'an? Ya enggak ada mad thobi'i, enggak ada gitu. Makanya masodirut tasri, sumber pengambilan hukum di dalam ushul fikih itu yang pertama Al-Qur'an, sunah, ijma, iias lah. Allah tidak boleh berjisim. Itu ijmak, Ustaz. Makanya saya tampilkan kitab ini, alu waru ala man nasaba lillahil. Kitab ini 70 lebih ulama salaf mengatakan Allah itu enggak boleh berjisim. Dan ratusan ulama ulama khalaf berarti yang setelah hidup di abad ke setelah selanjutnya setelah salaf itu Allah itu tidak boleh ada batas gak boleh berjisim dan begitu karena kita pahami secara lghah jisim itu mirip seperti manusia dan Allah sudah mengatakan laisa kamlihi saai. Apa gunanya mengatakan laisa kamli syai kalau ternyata masih mirip? Oh mirip. Miripnya kan hakikat, enggak miripnya itu kaifiat. Lah saya kan sudah mengatakan di awal almu a'zomu. Lafal mlu itu adalah penyerupaan paling a'zom daripada niddu, daripada syibhu, daripada yang lain. Mlu makanya Allah langsung pakai mlu ditaukiti dengan lafal kaf huruf jar kaf kamitli. Ditaukiti lagi. Maka mlu yang bermakna umum ditaukiti lagi dengan kaf. begitu. Maka sudah gak boleh sama dalam segi apapun. Bukan Kaif-nya saja. Saya tidak pernah menemukan ulama salaf satuun ya, bahwa Allah enggak sama dengan makhluk. Hanya segi Kaif saja mengatakan hanya segi Kaif saja. Enggak. Enggak ada, Ustaz. Seperti itu. Sekian terima kasih. Terima kasih, Ustaz Thayib. Eh Ustaz Agus Wafi Afwan. Sekarang tanggapan dari Ustaz Thayib 5 menit waktunya, Ustaz. Silakan. Begini Gus. Pertanyaan saya. Antum beriman sama zat Allah? Beriman. Antum beriman dengan nafas Allah? Beriman. Iya kan? Itu tidak sama. Sama enggak nafas Allah dengan nafas makhluk? Gak sama. Gak sama. Ya kan? Kemudian turun sifat ya. Turun dari nafas dan zat Allah itu yang antum ee apa namanya? Antum imani tidak sama ya kan? Turun sifat sama enggak? Sifatnya seperti yat. Seperti wajah. Ini langsung tiktok kanan rupanya. Belum. Belum, belum, belum. Monggo, monggo, Ustaz. Sudah, sudah, sudah lah. Waktu jenengan lama, Mas. Masih 4 menit lagi, Ustaz. Ulangi lagi. Antum beriman bahwasanya Allah itu punya zat. I kan antum beriman bahwasanya Allah itu punya nafs. Ta'lamu ma fi nafsi wala a'lamu ma fi nafsik. Ya kan? Dari nafas dan ya kan itu turun sifat Gus ya. Ya. Oke. Loh, terus karena ini bukan sesi tiktokan gitu loh. Iya. Jadi dari nafas dan zat ya kan itu turun sifat ketika kita beriman bahwasanya Allah memiliki nafs tidak sama dengan nafs makhluknya. Ketika kita beriman bahwasanya Allah memiliki zat tidak sama dengan sifat makhluknya. Tapi kenapa ketika Allah memiliki sifat dari nafs dan zat itu kalian takwil atau tak tahrif? Itu saja cukup Ustaz Thayib. Cukup. Silakan Gus Wafi. Ini ee tanggapan terakhir di putaran kedua. Setelah ini insyaallah tektokan. Insyaallah. Oke. Ditampilkan data di layar. Kalau kalau kita ikut ijma, Ustaz, ijmaul ulama salaf enggak ada. Makanya saya tanya dari tadi kan jenengan belum menyebutkan satuun kan maksudnya muhkamat eh maksudnya mutasyabihat itu maklum fil makna wal majhul fil itu kan enggak ada kan. Ternyata kan ulama salaf yang ngomong seperti itu enggak ada. ulama ee khalaf ya mungkin dari kalangan Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani dan para muhibbinnya. Kalau Anda di awal konsisten, Ustaz ikut Quran, ikut sunah yang sahih, ikut pendapat ulama salaf, yo enggak ada yang mengatakan mutasyabihat maklum fil makna itu enggak ada. Enggak mungkin nemu jenengan, Ustaz. Sampai Dajjal keluar dua kali enggak nemu jenengan, gitu. Enggak ada, Ustaz. Tapi kalau kita mau pakai ulama salaf seperti ini, contohnya Imam Athawi mengatakan di dalam akidahnya, "Man wasofallahu biman min ma'anil basyar faqod kafar." Barang siapa yang mensifati Allah dengan makna dari beberapa makna manusia seperti yat, itu ya jelas kafir kata Imam Thahawi di dalam kitab akidahnya. Nah, sedangkan ulama-ulama salaf itu enggak ada ya. Kalau Ibnu Utsimin misalnya ini Ibnu Utsim Allah dan makhluk hanya berbeda dalam kaif saja. Ini yang diyakini oleh teman-teman dari kalangan salafi bahwa perbedaan makhluk ya kullu maujudin falabudda ayakuna bainahuma qodrun mustar. Kata Imam Ibnu Utsaimin, yastabihani fihi watamayyazu wahidin bima yahtasu bihi w yumayizuhu bihi kaifiah. Jadi cuma kaifiah saja yang beda kata Imam Ibnu Qutimin. Jadi hakikatnya sama berarti Allah itu sama kayak dewa kayak gitu, Ustaz. Dewa Zeus, Krishna. Apa bedanya kita nanti sama orang-orang Yahudi? Imam Ibnu Taimiyah sampai membela kitab Yahudi hanya karena ingin berpendapat ya bahwa Allah itu seperti makhluk. Ustaz ini ya saya punya datanya ini. Ini ya bayangkan ini Ibnu Taimiyah membela Yahudi. Saudara bayangkan amaliah kita biasanya ustaz selalu ditanyakan oleh teman-teman jenengan mana dalil sahihnya? Mana Al-Qur'annya? Mana ulama salafnya? Selalu ditanya itu kan sampai ke akar-akarnya kan. Giliran Imam Ibnu Taimiyah panutan teman-temannya Ustaz Thayib enggak nemu hadis sahih, enggak nemu ulama salaf, gak nemu di Al-Qur'an langsung pakai kitab orang Yahudi untuk membela pemahamannya Allah seperti makhluk. Allah duduk di arsy. Ingat, Ustaz, orang pertama kali yang mengatakan Allah duduk di arsy istiqar, istiwa bil istiqrar itu adalah orang Yahudi. Itu di kitabnya, Ustaz. Dan saya bawa data lengkap bahwa orang-orang Yahudi itu tajsim. Karena di ee video jenengan mengatakan kapan Rasulullah mengatakan Yahudi tajsim. Saya bawa datanya sangat lengkap sekali, Ustaz. Begitu. Kapan Yahudi tajsim dan kapan perubahan tajsim itu? Seperti yang disampaikan oleh Imam Ibnu Taimiyah. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa di kitab orang Yahudi memang Allah duduk di Arsy. Ya sudah berarti ini sesuai dengan pemahaman saya. Kata Imam Ibnu Taimiyah Al-Harani, bayangkan hadis sahih enggak nemu, ulama salaf enggak nemu, Al-Qur'an enggak nemu, langsung pakai kitab orang Yahudi. Jadi apa ini seperti itu? Sudah habis waktunya belum, ya? Nah, kalau perlu kita ketahui teman-teman, saya dari tahun 2019, Ustaz, itu sudah biasa berdiskusi dengan Yahudi dan Kristen dan saya pelajari bahasa Ibrani, bahasa Yunani itu saya pelajari dari kitab-kitab mereka. Mereka itu tajsimnya istadda, Ustaz. Mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa taala memang punya tangan, memang punya jubah. Ketika bertemu dengan Nabi Musa Alaih Salam kelihatan sisi belakangnya itu pertama kali dinisbatkan kepada Yahudi dan tertulis dalam kitab mereka. Sehingga ketika ada salah satu orang ulama yang merubah pemahaman Tajsim itu namanya Rabi R Mosye bin Maimun. Beliau orang Mesir. Rabi Mosye bin Maimun atau Rambam. Beliau belajar kepada ulama kita namanya Imam Ibnu Rusy. Belajar kepada ulama kita Imam alfarabi belajar kepada ulama kita namanya Imam Ibnu Sina. Sampai terpapar pemahaman Islam. Akhirnya beliau mengatakan Allah tidak sama dengan makhluk. Dan bukunya kitabnya Rabi Musir bin Maimun di Mesir itu yang bernama kitab Dalailul Hairin. Petunjuk memahami Allah bagi orang yang bingung. Nah, itu disebar ke seluruh dunia. Dan akhirnya sampai detik ini Yahudi pahamnya sama dengan kita yaitu Allah tanzih gak boleh sama dengan makhluk sampai ada rukun iman Yahudi namanya selosa asal iarim selosa itu artinya tiga. Asar artinya puluhan cukup ya. Sekian terima kasih. Cukup terima kasih. Alhamdulillah tadi putaran kedua sudah selesai dan sekarang kita masuk ke putaran terakhir ya. Putaran ketiga saling tanggap nanti dan kita insyaallah akan mulai dari Gus Waaf. Kita beri waktu tadi total 20 menit. Kalau semisal ada interupsi nanti silakan ee Ustaz Thyib mengangkat tangan dan kami persilakan terlebih dahulu. Siap. Siap. Ya, kita persilakan. Waktu 20 menit total Fadal. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Saya ingin bertanya Ustaz tentang istidlal Imam Ibnu Taimiyah. Ternyata beliau itu istidlalnya mengatakan sifat-sifat Allah sama seperti lghah dan lain sebagainya. Harus yadun ya harus yadun. Haki itu ternyata dari kitab-kitab orang Yahudi. Nah, ini sudah jelas ya. Ini di dalam kitab beliau fi Bayani Talbis. Di dalam kitab Bayanut Talbis. Bagaimana tanggapan jenengan dan mohon jelaskan. Sekian. Baik, silakan Ustaz Thayib. Jadi gini sebagaimana kaidah yang saya sampaikan tadi ya kan bahwasanya nususus sifat ya kan muhkamah. Iat iya iat gitu kan. Kita beriman sama Allah itu memiliki tangan. Yat maklumah. Alyat bittibari lughah maklumah muhkamah. Kita beriman ya kan. Syaru manqoblana syarun lana ya kan. Syariatnya orang Yahudi itu menjadi syariatnya Nabi Muhammad. Maam yukhalif sarana selama dia tidak menyelisihi syariat kita. Jadi orang Yahudi mengatakan Allah memiliki iat di Al-Qur'an ya Allah miliki yat gitu kan ya kan. Apakah Al-Qur'an itu ya kan Allah turunkan kepada kita litafwid atau litadabbur likai yakuna nahnu na'rifu ma'aniha gitu kan. Coba bisa enggak mentadaburi daripada tafwid? Enggak akan pernah bisa. Bisa bisa enggak kita mentadaburi ayat-ayat Al-Qur'an tapi kita tafwid gitu kan? Seperti iyat. Masa iyat kita maknai kaki gitu. Yadun tangan yad. Oh enggak, enggak ngerti saya enggak ngerti makna yat lghatan. Masa kita manai kaki enggak mungkin. I pasti yat gitu kan. Tapi kaifiahnya wallahuam. Kaifiahnya wallahuam. Kalau Yahudi ya beriman dengan maani nusus e nususi sifat dan ee apa ya mengingkari kaifiahnya berarti sama kita sama orang Yahudi. Oke mantap. Eh pertanyaan ini ya kalau orang Yahudi, Gus ya kalau orang Yahudi dia beriman secara makna sifat-sifat Allah dan mengingkari secara kaifiahnya berarti apa yang membedakan? Apa yang membedakan? ya kan? Tapi pertanyaannya apakah Yahudi? Pertanyaannya yang saya balik ke Gus Gusafi ya. Apakah Yahudi juga ee mengkaifiahkan sifat Allah? Apakah orang Yahudi itu mengkaifiahkan sifat Allah? Itu pertanyaannya. Iya. Kemudian yang ee tadi antum mengatakan tidak ada. Mana ulama salaf kan saya mengatakan majhulai. Kemudian yang tadi salaf ya kan Ibnu Umar radhiallahu anhuma mengatakan eh eh yadullahiqatanqatan itu sebetulnya banyak tapi kan saya enggak bisa menampilkan semua gitu kan antum sudah membaca itu muwafaqohah jadi ketika antum sudah mengetahui dan sudah khatam kitab muwafaqah ya di situ aqwalus salaf gitu kan bahwasanya mereka mengisidbat sifat Allah maknan La kaifiyatan. Wallahuam. Silakan, Gus, tanggapannya. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Yang pertama dalil tentang Imam Malik sudah saya jawab. Itu bermasalah, Ustaz. Kalau pakai ee karena gini, Imam Malik itu bukan mengatakan maklum maknanya, enggak. Imam Malik gak mengatakan maknal istiwa maklum, gak. Tapi Imam Malik mengatakan alistiwa maklum pemahaman kita bukan maklum maknanya tapi maklum annahu warid fil Quran. Maklum memang istiwa itu ada di dalam Al-Qur'an. Loh, kok bisa dimaknai begitu? Kita memahami Imam Malik itu, Ustaz, harus dari berbagai versi ketika memahami ayat sifat. Nah, ketika di bab nuzul ditanyakan oleh muridnya, "Kaifa yanzilubuna?" Ternyata Imam Malik tidak menjawab maklum padahal ada juga kan gitu kan. Kenapa kok gak bilang maklum maknanya juga? Kalau memang maklum kenapa semuanya tidak dijawab maklum? Tetapi Imam Malik mengatakan tursal kama jaat. Ya sudah pahami sesuai yang datang seperti itu lah. Memahami Imam Malik enggak bisa kita pakai satu riwayat itu, Ustaz. Gak bisa. Harus cek Imam Malik ketika memahami ayat-ayat sifat yang lain. Baru ulama akan menjam'u. Oh, berarti pemahamannya begini. Karena riwayat yang lebih sahih daripada istiwa maklum adalah riwayat kama wasofa nafsah. Sebagaimana Allah yang mensifati dirinya gitu lah. Kalau Al-Qur'an ini kan tujuannya untuk tadabbur. Ini gini ustaz. Terus ayat tentang mutasyabihat gimana? La yalamu takwilahu illallah itu gimana? Akhirnya kan dibatalkan berarti ayat itu. Tidak ada yang tahu artinya kecuali hanya Allah. Dan ulama sepakat sifat-sifat Allah itu termasuk ayat mutasyabihat. Termasuk awailus suar kayak nun, alif lam mim. Itu adalah ayat-ayat mutasyabihat. Kalau semuanya kita tahu maknanya, Ustaz, apa bedanya nanti Al-Qur'an sama komik, Naruto bisa dipahami secara bahasa Indonesia saja? Kan enggak ada keren-kerennya, gitu. Nah, Yahudi sama dengan antum. Jadi begini, orang Yahudi setelah membaca kitab-kitab Rabi Mus bin Maimun itu tobat yang awalnya nak menyamakan Allah dengan makhluk lalu tanzih membersihkan dari semua sifat-sifat makhluk. Saya sama ketika mereka sudah belajar kepada Islam yaitu Allah enggak boleh dengan makhluk. Kalau Allah sama dengan makhluk laisa kamlihi. Buat apa, Ustaz? Buat apa kita bahas laisa kamlihi? Ini kan kaifnya katanya. Mana kaifnya? Ulama salaf mana yang mengatakan kaifnya? Dari tadi enggak dijawab itu sama jenengan. Mana ulama salaf yang mengatakan yang enggak boleh sama itu kaifnya saja? Kan enggak ada, Ustaz. Hadis mana misalnya atau ayat mana atau ulama salaf mana yang enggak boleh sama itu kafnya saja. Makanya para ulama sepakat seperti Imam Albaihaqi, Imam Ahmad bin Hambal, kemudian para ulama yang lain amirruha kama jaat berlakukan ayat itu sesuai datangnya. Itu namanya tafwid, Ustaz. Sekian terima kasih. I terima kasih Gus Wafi. Silakan tanggapannya. Jadi gini ee pertanyaan saya justru kepada Gus Wafi begini. Apa maksud dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma mengatakan bahwasanya lillahi yadun hqatan? Itu pertanyaan saya. Coba Gus ya kan ee ee jelaskan kepada saya bahwasanya ee apa maksud dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang mengatakan bahwasanya lillahi yadun hqiqatan gitu. Baik. Sudah. Oke, silakan Gus Wafi. Bismillahirrahmanirrahim. Jadi begini, Ustaz. Banyak ayat-ayat yang dipaham atau riwayat-riwayat yang dipahami seolah-olah ini pro kepada makna zahir. Padahal enggak. Gini, Ibnu Umar mengatakan yadun hakih itu maksudnya bahwaiahnya zatiahnya Allah memiliki iat tapi bukan iyat yang dimaknai bahasa Indonesia, Ustaz. Bukan. Karena yadun kan musytarak, Ustaz. kayak istiwa. Istiwa kan lafaz musytarak, Ustaz. Kok bisa kita langsung menentukan ini maknanya tangan? Kenapa kok tidak makna yang lain? Jadi, Ibnu Umar pemahami tentang yat hakikah bahwa Allah memiliki yat hakikah itu bukan hakikat ini jisim a'd bukan. Tapi memang zatnya Allah miliki tapi kita enggak tahu maknanya gitu, Ustaz. Dan itu bukan juzun minadzat, bukan. Nanti dikatakan, "Oh, yadun ini kan juzun minadzat." Nanti tarkib nanti Allah akan murakab nanti kan akan punya kayak kata Imam Ibnu Taimiyah, Allah itu sisi kanannya lebih tinggi, sisi kirinya lebih lebih rendah. Kata Imam Ibnu Taimiyah enggak, enggak gitu. Atau ini seperti di layar saya tampilkan di layar Allah menganggap Allah memiliki volume. Faid qila innahu maaf minal arsi arbata asobi kanal makna maaf minhu wal maksud huna bayanallah wa akbar bukan. Bukan tentang volume, bukan tentang juz, tapi Allah memiliki sifat. Makanya ulama kita konsisten, Ustaz. Yadun dimaknai sifat, wajhun dimaknai sifat. Kita konsisten bahwa itu merupakan sifat, bukan a'd, bukan anggota badan. Maka kita bersih dari ee jisim, tidak menjisimkan Allah karena ada ayat laisa kamlihi syai. Begitu sekian. H. Baik, silakan Ustaz Toyib untuk menanggapi. Jadi gini ee ini sebelum closing akhir ya, ada berapa pertanyaan ke saya yang ini bebas karena ini 20 20 menit waktunya dan antum masih punya 15 menit dan Ustaz e dan itu sebelum akhir sebeluming statement. Jadi gini ee pertanyaan saya kepada Gus Wafi. Kenapa antum mentafwid makna secara lghatan sifat-sifat Allah atas dasar apa? Itu aja. Baik. Atas dasar surah Ali Imran ayat 7. Walamu tawilahu illallah. Dan pertanyaan saya kepada jenengan, Ustaz. Pertanyaan saya kepada antum di awal belum terjawab mana data dalil bahwa kaidah maklum fil makna wa majhul fil kaif itu datanya di mana, Ustaz? Karena begini, ulama salaf sunah atau Al-Qur'an karena begini, Ustaz. Kalau istiwa ini maklum mustahil. Karena istiwa punya 15 makna, Ustaz. Gitu loh. Kalau dibilang maklum itu mustahil. Makanya Imam Haramain dalam kitab ushulnya itu dibagi dua. Lafaz itu ada yang nas, ada yang zahir. Zahir itu ada yang zahir secara hakiki dimaknai lghatan. Ada yang zahir biddalil namanya takwil kan begitu. Nah, kalau istiwa ini dibilang maklum maknanya 15 Ustaz. Ada koher, ada gholabah, ada istila. Dan di sini saya bisa menampilkan 70 lebih para ulama memaknai istiwa itu maknanya istila, menguasai. Karena kata Imam Syafi'i, memahami ayat itu harus jangan sepotong-sepotong. Imam Syafi'i mengatakan memahami ayat itu lihat ayat sebelumnya, ayat setelahnya. Siakul kalamnya dilihat. Makanya ketika Allah mengatakan arrahmanu alal arsyistawa, ayat setelahnya mengatakan yudabbirul amroh. Dialah yang mengatur. Maka menguasai lebih bagus maknanya. cocok siakul kalamnya gitu loh. Kalau memaknai lughah ini ulama salaf mana yang memaknai harus lughah? Sekian. Silakan, Ustaz. Jadi ee secara dalil saya sudah menyampaikan Ibnu Umar radhiallahu anhuma ya hakikatan tadi ya kan. Jadi maklumatul makna hakikatan. Pertanyaan saya kepada Gus Wafi ya kan selanjutnya ya kan. Ketika ya kan istiwa itu kan istiwa kan muqayyad biala. Ya kan tummastawa ala bukan lepas mutlak begitu. Jadi ee istiwa Allah Subhanahu wa taala dalam ayat itu muqayyad. Muqayyad dengan ala bukan mutlak. Itu harus kita garis bawahi. Pertanyaan saya ya kan sesuai dengan kaidah Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala. Man har saian min sifat lazimahu fi tahrifihi. minhu. Pertanyaan saya gini, kenapa mentakwil istiwa dengan istila? Bukankah makhluk juga punya sifat istila? Silakan ditanggapi. Baik, silakan Gus ditanggapi. Oke, bismillahirrahmanentar ya. Baik. Bismillahirrahmanirrahim. Yang pertama antum mengatakan istiwa kan muqayyad biala ini menabrak antum sendiri Ustaz. Makanya ketika jenengan sudah punya pemaparan di awal itu harus antum catat Ustaz biar tidak menabrak. Akhirnya begini, Ustaz. Di awal antum mengatakan bahwa idza taar bainal lghah wasar faqudimat asyar. Kalau lghah bertentangan dengan syariat, maka jelas syariat yang dikedepankan. Lughah enggak dipakai kalau bertentangan. Lah kalau istiwa itu dimaknai duduk istaqarah julus kata ulama Wahabi ini bertentangan dengan laisa kamislihi saai bertentangan dengan walam yakun lahu kufuwan ahad bertentangan dengan banyak ayat nantinya karena Allah bertemu Nabi Ibrahim di Makkah Ustaz bukan di Arsy. Di dalam surah Assfat dikatakan waqala innihibun ilabbi sayahdin. Aku akan bertemu dengan Tuhanku yang akan memberi aku petunjuk. Berarti Allah di Makkah begitu. Wahua maakum ainama kuntum. Berarti Allah di mana-mana begitu. Wasjud waktarib. Berarti Allah di bawah karpet begitu. Ketika Allah bertemu Nabi Musa di Gunung Sinai. Bukan Gunung Bromo, Gunung Sinai. Ketika Allah e Nabi Musa mengatakan, "Wan taroni rbi arini anzur ilaik." Kata Allah, "Lan taroni." Berarti Allah orang Gunung Sinai. Bukan. Bukan gitu, Ustaz. akan bertentangan dengan banyak ayat kalau sampean pakai lughah. Ini ditentang sendiri oleh kaidah sampean sendiri di awal gitu loh. Di awal katanya kalau lughah bertentangan dengan syariat maka syariat yang didahulukan. Yang kedua, kenapa kok dimaknai istilah menguasai? Kan manusia juga menguasai. Kan biasa, Ustaz, kita baca Quran, kita kalau sering baca Quran, Ustaz, ada Nabi Isa disebut dengan ruhullah. Kan semua orang punya ruh. Kenapa kok Nabi Isa dikhususkan? Itu tasyrifan lahu untuk memuliakan Nabi Isa. Penyebutannya khusus. Arsy adalah aamul makhluk. Makhluk yang paling gede itu arsy. Maka wajar Allah mengkhususkannya. Istawa alal arsy. Tapi ala kalau dimaknai luguh duduk maka bertentangan dengan syariat. Maka Anda ustaz sedang bertentangan dengan kaidah Anda sendiri. jedir. Selamat datang di kebenaran saudara yang terkasih. Mohon maaf Gus kalau bisa jangan kata-kata yang provokatif. Enggak enggak ada apa-apa. Baik aman. Sudah, sudah Gus. Sudah, sudah, sudah. I silakan ee Ustaz Thayib untuk menanggapi apa yang dikatakan oleh Gus Wafi. Iya. Jadi, saya belum mendapat poin jawaban ya dari Gus Wafi. Kenapa lari dari istiwe kemudian lari ke istilah ya kan? Apa yang menyebabkan lari itu Gus? Kami kami punya kaidah tafsirusaii bilazimihi maal iqrori biaslihi itulah isa tahrifan. Maal inqari biaslihi tahrifun. Kita beriman bahwasanya dari lawazim istiwa itu istila. Kita beriman itu kami beriman saya beriman dari lawazim makna istawa itu istaula. Apakah kami mengingkari aslul istiwa? Jawabannya no. Ya kan? Kami beriman bahwasanya dari lawazim ee sifat istiwa itu istaula. Kita beriman itu. Tapi kami tidak mengingkari tapi kami tidak mengingkari aslul istiwa. Tapi Asyairah mohon maaf ya, kenapa Asyairah itu dia lari yakni farah gitu kan dari lafaz istiwa ke istila. Bukankah makhluk juga punya istila, sifat istilah gitu kan. Seperti kaidahnya Ibnu Taimiyah. Man har minat lazimahu firifi nadir mau. Wallahuam. Baik, silakan tanggapannya. Bismillahirrahmanirrahim. Yang lari siapa, Ustaz? Enggak lari saya, Ustaz. Makanya gini, ulama kita itu dibagi menjadi dua. Ada yang mentafwid, menyerahkan maknanya kepada Allah. Bukan taktil, bukan. Karena maknanya ada. Tapi di Allah gitu. Kalau taktil itu menafikan enggak ada sama sekali gitu. Nah, ada yang mentakwil. Nah, kalau mau takwil maka kan gini, Ustaz. Makanya di awal saya selalu menyematkan lghah dan saya yakin lughah itu enggak bertentangan dengan Al-Qur'an. Jadi, kaidah jenengan dari awal itu sudah ambadul. Sebenarnya lughah itu istiwa kan punya 15 makna, Ustaz. Heeh. Ada koher. Ada golabah, ada istilah. Banyak kan maknanya kan. Terserah kita mau memaknai yang bagaimana. Yang penting tidak menyematkan Allah. Menyamakan Allah seperti makhluk. Karena kalau kita menyamakan Allah kayak makhluk, Ustaz, istiwa julus. Ada saya punya data dari teman-teman ulama Wahabi. Julus memang benar-benar julus bersemayam. Jadi susahnya, Ustaz, Arsy ini ciptaan dulu. Saya ee gini, saya lihat video jenengan bahwa jenengan mengatakan sebelum ada arsy, Allah ada di mana? Jenengan pakai hadis kan. Innallaha fiama. He ya. Innallaha fiama lah. Innallaha fiama. Ini berarti berlaku sementara. Hadis ini berarti itu yang pertama berlaku sementara. Awalnya enggak enggak ada apa-apa di atasnya, di bawahnya, tiba-tiba ada arsy di bawahnya. Berarti berlaku sementara dong hadis itu. Padahal hadis ini muabbad loh sampai sekarang diamalkan. Nah, meyakini Allah enggak boleh ada di Arsy bertempat nantinya. Yang kedua, Ustaz, yang mengatakan Allah duduk di Arsy itu orang Yahudi. Enggak ada dalilnya. Enggak ada dalilnya. Di mana memaknai istiwa itu duduk itu ada enggak dalilnya? Enggak ada. Maka para ulama yang memilih metode takwil itu hanya semata-mata menyelamatkan Allah agar tidak sama seperti makhluk agar enggak nabrak ayat yang lain gitu loh, Ustaz. Sekian. Terima kasih. Iya, terima kasih, Gus Wafi. Silakan, Ustaz. Iya. Jadi apa namanya? Ee berarti antum mengatakan ya lari gitu kan. Lari agar supaya tidak sama dengan sifat makhluknya begitu kan ya kan? Paham ya begituus? Iya. Mohon maaf ee makna makna istiwa muqayyad biala itu di antaranya alulu wal istiqrar. Alulu wal istiqrar itu maknanya. Ya kalau julus wallahuam gitu kan. Saya enggak tahu makna julus di situ. Tapi begini intinya ya kan lari dari istiwa itu kepada istilah ya kan itu karena lari dari tasybih agar supaya tidak sama dengan sifat makhluknya begitu kan. Kemudian antum mengisbat sifat sami basir ya kan sami basir. Kenapa antum isbatkan itu sami basir? Bukankah makhluk juga sama memiliki sami dan basir? Sebagaimana makhluk juga memiliki sifat istila. Oke, sudah sudah silakanfi bisa ditampilkan di layar ini, Ustaz. Kita cek istidlalnya Imam Ibnu Taimiyah. WQola Ibnu Taimiyah an aksari ahlusunah bfhumihi qobula riwayati yaitu bihi. Nah, liwat riwayat Allah duduk di Arsy. Jadi, dalil Imam Ibnu Taimiyah ternyata pakai hadis diif yang mengatakan Allah duduk itu pakai hadis diif, Ustaz. Muthorib hadisnya ini. Muthorib, ittirab banyak pertentangan yaitu bihi. Sampai Allah itu seperti duduk di pelana ada suaranya atid atid begitu. Atitur rahil aljadid biqibihi. Ini kan hadis bermasalah nih. Dipermasalahkan sama para ulama ini dijadikan dalil oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu Fatawanya sebagai mengatakan Allah itu duduk di Arsy pakai hadis diif. Giliran kepentingan pribadi pakai hadis diif untuk membenarkan pemahamannya. Sedangkan kita yang ingin mentanzih Allah apakah kita lari? Kita bukan lari. Istilah itu musytarak, Ustaz. Lafal musytarak bukan lari, Ustaz. Istilah itu lafal musytarak. Dan yang mengatakan jelas duduk siapa lagi? Imam Ibnu Qayyim Aljauziyah di dalam kitab Anniyah. Beliau mengatakan, "Wa jalasta ala sariril mulki." Langsung jalasta Allah duduk. Seolah-olah ee arsy itu jadi tempat duduknya sarir. Kata Imam Ibnu Qayyim Aljauziyah dalam kitab Annuniah, Nuniah itu kitab ee saja yang bernun semua. Akhirnya Imam Ibnu Taimiyah pakai hadis diif, hadis bermasalah gitu loh. Ternyata sampai detik ini tidak pernah dibuktikan ada perkataan salaf yang sahih atau hadis sahih yang mengatakan Allah duduk. Kalau ulu, Ustaz, Imam Attahabari sudah menjelaskan ulu itu maksudnya uluu makanatihi derajat min ghair tagayyur wal intiqal. Itu datanya tanpa bergerak, tanpa berpindah. Begitu itu kata Imam Athabari. Jadi ulunya itu bukan ulu badan. Kenapa sih kok harus badan sih? Kayak kita kayak punya Tuhan dewa kalau kayak gitu. Uluu makanah derajatnya yang tinggi. Kita kayak punya dewa. Apa bedanya sama Zeus nanti, Ustaz? Kan begitu. Nah, kemudian kalau samiun basir kan gimana gini, Ustaz. Bedakan antara yadun wajahun dengan samiun bashir. Kalau samiun bashir kan mendengar, kan kita juga mendengar kan sama dong kan begitu. Gini, kalau yadun itu sudah dijawab kitabnya ada itu ya. Saya jelaskan ini ya. Kitab kenapa kok E sik entar saya cari kitabnya begini aja wis ini ada sebenarnya di awal cuma kalau ditampilin kitabnya kan lebih bagus ini ada di di awal ini ini ini nih saya tampilkan ya kenapa kalau samiun basir itu kita maknai Ya nih dalil akili Allah berada dengan makhluk. Nah, ini wal istiraq bainal khq wal makluqat fi jamiat ba'di manfun bil adillah anqliah naqliah wal aqliah almutakirah. Kalau isyt penyamaan Allah dengan makhluk dalam segi zatiah maka ini dinafikan oleh dalil-dalil yang sangat banyak sekali baik aqli maupun naqli. Banyak sekali dalilnya. Nah, walauabahal khq khq subhanahuaian minal makluq fi maknanin laha lara fima yajibu waajuzu waastahil. Kalau zatiahnya yang sama maka menyebabkan kesamaan itu menimbulkan perkara yang wajib, yang mustahil, yang yajuz. Nah, berbeda dengan sama. Kalau sama itu bukan zatiah, Ustaz. Itu adalah hasil. Misalnya, misalnya mendengar, mendengar kan gak butuh alat, Ustaz. Handphone ini kan gak punya telinga, bisa mendengar ucapan saya dan dia bisa jawab. Buktinya sekarang ada AI. Buktinya ada AI. Tanpa telinga dia bisa mendengarkan saya gak butuh telinga. Tapi kalau zatiah harus ada telinga Allah sama dengan telinga kita. Ah, ada gambaran langsung begitu. L. Itulah mengapa kita membedakan lah. Pertanyaan saya sekarang, Ustaz, kepada jenengan, kenapa Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim Aljauziyah menggunakan hadis difat Allah duduk di Arsy? Sekian dijawab, Ustaz. Silakan, Ustaz. Tayib. Iya. Jadi saya ya kan sepengetahuan saya sampai detik ini ya kan saya tidak memahami makna julus di situ dari makna istiwa tadi. Wallahualam ya. ee berkaitan dengan pendapat Ibnu Taimiyah itu bukan pendapat saya saat ini. Karena saya ee berargumen ya dialog dengan antum ini membawa ya kan ma'ani ee alulu wal istiqrar itu di antara makna istiwa bukan julus. Itu itu itu pendapat Ibnu Taimiyah rahimahullahu taala ya. Bukan pendapat saya saat ini dialog dengan antum. H. Jadi ee itu yang perlu digaris bawahi. Kemudian aduh saya lupa tadi ya menanggapi antum ee masih berapa sesi waktu pertama? Masih masih 10 menit. 10 menit ya. Iya. I mungkin mau diulang dari beliau ee penjelasan atau yang mana? Kan panjang tadi. Saya gak ingat juga saya itu. Iya. Jadi ee ini ada satu pertanyaan sebetulnya di supaya tapi pertanyaan ini saya nanti sampaikan di akhir di akhir sebetulnya gitu kan. Baik kalau untuk mohon maaf kalau untuk Gus Wafi tinggal 3 menit kalau antum masih 10 menit. Iya. Ee aduh saya wallahuam ya. Saya lupa tadi mau nanya ke antum qadrallah ya kan. Iya ya dijalanin aja dulu. Oh iya siap. Baik. Mungkin ada tanggapan lagi dari Gus Wafi tentang bahwa beliau itu ternyata tidak meyakini sebagaimana Ibnu Taimiyah yang mengatakan itu artinya julus gitu. Oke. Ya, inilah susahnya, Ustaz. Kaidahnya banyak dipakai. Giliran beliau terpojok antum bilang enggak ikut Ibnu Taimiyah. Jadi susah kan. Kaidah Ibnu Taimiyah antum pakai semua dari ee apa namanya itu memahami sifat sama seperti memahami sifat-sifat yang lain. Alqulu fi ba'di sifat kalquli fil ba'd. E alqu f sifat dipakai. Tetapi giliran nanti Imam Ibnu Taimiyah ketahuan nih pakai dalil hadis diif. Giliran Ibnu Taimiyah ketahuan pakai kitab orang Yahudi langsung mengatakan, "Oh, saya gak ikut Ibnu Taimiyyah." Kan susah akhirnya kan harus konsisten. Kalau saya konsisten, Ustaz. Saya mengikuti mazhab Asy'ari. Saya mengikuti mazhab ee para ulama-para ulama yang mentanzih, mentafwid ataupun yang mentakwil. Saya konsisten dan saya pelajari itu semua. Ketika nanti ada beberapa pemahaman yang seolah bertentangan dengan Al-Qur'an akan saya cari datanya. Tidak kemudian saya akan mengatakan, "Oh, gak wis saya ikut Imam Syafi'i karena dalam hal ini Imam Syafi'i salah." Gak. Saya yakin ulama ketika mengatakan sesuatu pasti ada dalilnya. Cuma kadang kita yang belum pernah baca begitu. Nah, pertanyaan saya untuk Ustaz Thayib tentang alquulu fis sifat kalquuli fidzat itu dalilnya di mana? di dalam Al-Qur'an atau di dalam sunah? Tafadol. Silakan, Ustaz. Iya. Gimana, Ustaz? Iya, silakan. Iya. Jadi ee ini adalah istilahat ya, hasil istiqra gitu. Kita tidak mengingkari itu ya kan. Kita beriman bahwasanya Allah azza waalla memiliki zat dan nafs. I kan sebagaimana yang telah sampaikan tadi dari zat dan nafas saya eh afwan ya dari zat dan nafas Allah azza waalla itu turun sifat. Turun sifat seperti i seperti ee bashar yang melihat ya samiun basir ya kan. Kemudian ee wajah ya kan kita ya itulah itulah zahirnya yang ada gitu tahu dalilnya gitu kan ya kan. Maka alquulu fis sifat kalquli fidzat ya kita ketika kita beriman bahwasanya Allah memiliki zat dan sifat kita sepakat di situ. Dan kita beriman bahwasanya sifat ee nafas dan zat Allah azza waalla itu tidak sama dengan ee ee nafas dan sifat dan zat makhluknya. gitu kan. Nah, ketika kita sepakati itu ya kan bahwasanya zat dan nafas Allah itu tidak beriman ee afwan ya. Ketika zat dan nafas Allah azza wa jalla itu tidak sama dengan zat dan nafas makhluknya. Kemudian sifatnya ya kita harusnya harusnya harusnya sifatnya tidak kita samakan ya kan harusnya kan saya telah mengatakan kaidahnya Ibnu Taimiyah di dalam Majmu Fatawa beliau, almuattil mumtil ya kan. Almuattil itu mumil ya. Kenapa? Menggeser dari apa namanya istiwa menjadi istaula. Karena di situ ada ee akal yang ee mentamsil di situ. Bagaimana mungkin masuk di situ iias yang mana sifat Allah azza waalla kamilatun min kulli dikiaskan dengan sifat makhluknya naqisatun min kulli. Ini namanya alqiyasum alfariq. Walqiasum alfariq dalam kaidahnya batil. Jadi begitu, Ustaz. Kami tidak mengkiaskan sifat Allah dengan sifat makhluknya. gitu kan. Karena kenapa? Karena berbeda asifatul kamilah dengan ee asifatun naqisah miliknya makhluk gitu kan. Itu berbeda sami ya kan. Ee sami Allah kan maha mendengar. Tapi apakah maha mendengar Allah azza waalla dengan ee kita samakan dengan mendengarnya makhluk? Ya kita tidak akan pernah samakan gitu kan. Sebagaimana iat gitu kan. Jadi gitu. Wallahuam. Sudah, Ustaz. Baik. Silakan Gus Wafi untuk menanggapi. Jadi simpel saja. Menurut antum kita yang mentafwid itu muattil apa bukan, Ustaz? Silakan dijawab. Ee apakah antum muatil apa tidak begitu ya? Iya. Saya mengikuti mazhab yang mentafwid. tidak memberi makna saya ini muattil apa tidak. I ee jadi ttil itu lahir dari tamsil. Til ya mengingkari atau takwil ya kan itu lahir dari tamsil. Justru pertanyaan saya kepada antum tadi makhluk ee memiliki istilah gitu kan dan digeser dari makna istiwa kepada istila. Bukankah makhluk juga sama memiliki istilah? Gak berarti saya ini muattil apa bukan? Iya apa bukan? Ee mumattil. Saya ini muil mumattil dulu. Mumil. Mumil saya kan tafwid nih. Tafwid kan enggak ngasih makna. Ini antum beriman sama iyat Allah miliki iyat. Enggak beriman tapi maknanya Allah. Zahirnya makna secara makna antum beriman apa gimana? Secara makna. Lafaznya saya beriman maknanya saya pasrahkan kepada Allah. Kira-kira secara makna iat apakah semakna dengan sepeda? Contoh nih ya, contoh kalau kita makhluk ya ee tangan budi misalkan ya, tangan budi. Apakah kita maknai sepeda budi? Kan enggak mungkin gitu. Pasti kita maklumatul makna di situ. Berarti saya mumattil dan muattil berarti ya. Betul. Saya muattil dan mumil berarti ya. Antum antum antum mentamsil enggak kan tahrif atau takwil itu lari dari tamsil karena sebab jangan takut santai gitu. Jangan terlalu takut. Santai aja. Saya muattil apa mumtil berarti ya? Hah? Muattil dan mumassil berarti saya ya. Ee saya ee jadi gini e jadi sebentar sebentar sebentar takut kaidah yang Ibnu Taimiyah tanamkan. Sebentar sebentar sebentar sebentar sebentar. Harus antum enggak perlu nanya Gus liannal almadilah gitu mumil gitu Gus ya kan. Berarti mungkin di ditegaskan aja gitu ustaz. Iya. Sudahlah itu aja apa yang saya sampaikan ee berkaitan dengan kaidah Ibnu ya itu gitu. Oh, baik baik baik. Sudah, Ustaz Tayyib. Apa ada tambahan lagi? Ee sudah masih 5 menit waktu untuk ini. Saya ada 5 menit tuh terakhir closing. Belum, belum, belum, belum. Enggak, enggak. Ini waktu antum yang 20 menit itu masih 50 masih 5 menit. Belum masih mampu ya? Iya, itu aja paling saya. Heeh. Gitu. Baik, Gus Wfi ada tanggapan atau masih mencari kitab belum? Bentar, saya punya kitab penting ini. Baik. Biar e beliau kan pakai kaidah Ibnu Taimiyah. Iya. Boleh. Ee kami tunggu sejenak, Ustaz Toyib. Enggak apa-apa. Iya, boleh. Boleh kalau ikut Imam Ibnu Taimiyah itu harus konsisten, Ustaz, semuanya gitu. Jangan giliran asma wa sifat ada beberapa yang ke pojok bilang enggak ikut Ibnu Taimiyyah. Ini Ibnu Taimiyyah mengatakan di dalam Majmuk Fatawanya juz halaman 432. Wasuk anisai ghairul jasmi binafyihi subutihi. Diam atas sesuatu bukan berarti kita menafikan, bukan berarti kita mengisbat. Jadi gak bisa saya dikatakan muattil, Ustaz menurut Imam Ibnu Taimiyah gak bisa diam atas lafaz asma wa sifat kita ya. Diam atas istiwa. dipasrahkan ke Allah kita diam la yalzamu al nafib walbat tidak menetapkan berarti saya menafikan tidak menetapkan berarti saya mengisbat kata Imam Ibnu Taimiyah satu yang kedua dalam kitab Majmu Fatawanya Ibnu Taimiyah itu mengatakan ya fayuqibah anna kilab wal asari wahwihima minalbitahisua Apa pemahaman muktazilah dan jahmiah? Fi bayani naf e mana tadi wis se sikayani liman nafaha. Jadi, Ibnu Taimiyah mengatakan Ibnu Killab mazhab Asy'ari itu beda sama Jahmiyah sama Muktazilah. Bahkan Asy'ari punya kitab-kitab untuk menger membantah karya-karya Jahmiyah dan Muktazilah dan kesesatan mereka yang telah menafikan. Menafikan apa? Sifat-sifat Allah. Berarti kita enggak termasuk gitu, Ustaz. Makanya yang tegas termasuk enggak kan gitu kan gitu. Sekian. Iya, terima kasih. Waktu antum masih 30 detik, Gus. Kalau nanti mau dipakai ee untuk Ustaz Tayyib masih 5 menit. Silakan untuk di sebaik mungkin. Ee apa namanya? Kalau salaf itu mentafwid ayat sifat, berarti ee sifat enggak bisa dijadikan hujah karena tidak punya makna. Karena tidak punya makna. Ya kan? Kita sepakat, Gus, bahwasanya kita dalam hal kaifiyatus sifat, kita muattilah di situ. Kaifiahnya, kaifiahnya, kaifiahnya ya kita sepakat di situ. Tapi maknanya, makna dari sifat Allah itu ya kan ee masa kita tafwid begitu kan. Atas dasar apa ee proses tafwid itu? Kenapa kok harus ditafwid gitu? Kan maklumatul makna. Itu aja F. Masih ada 25 detik, Gus untuk menanggapi pernyataan Ustaz Thyib. Mungkin atas dasar atas dasar apa tafwid itu? Ya, kita sepakat bahwa saya sudah jawab di awal atas dasar ayat la yalamuha takwilahu illallah. Adapun maklumatul makna, kita akan membantah kaidah itu di awal, Ustaz. Maklumatul makna itu kita bantah karena ada hadis yang lebih eh ada riwayat yang lebih sahih dari Imam Malik. Kama wasofa nafsa. Sudah, sudah saya jawab di awal. Sudah, Gus. Sudah 25 detik, Ustaz. Kecuali Ustaz Thyib mau mensedekahkan sebagian waktunya ke saya gitu. Enggak tadi masih 4 detik. Silakan, Ustaz Thyib kalau ingin menanggapi masih banyak waktu antum 4 menit. ee kita tahu ya bahwasanya Jahmiyah itu mengingkari asma was sifat ya nam dengan dalil qul huallahu ahad berdasarkan apa mereka berdasarkan akal ya oke sepakat di sit Jahmiah iya Jahmiyah mengingkari asma dan sifat Allah mereka ingkari itu berdasarkan apa akal kemudian saudaranya sedikit Ya, Muktazilah. Muktazilah mengisbat asma tapi sifatnya tidak ingkari semua. Samun apa? Sami bila sama gitu kan ya. Atas dasar apa? Atas dasar akal. Nah, kemudian Asyairah nih ya kan yang ketiga ee beriman bagi terhadap asma Allah dan beberapa sifat Allah gitu kan. Itu berdasarkan apa? berdasarkan akal ya. Karena kita berbicara di awal la majalqli gaib sifat Allah dari ee sifat-sifat Allah itu ghaibiyat gitu kan. La naamu kaifiyatiha gitu kan. Pertanyaan saya Gus gini akalnya mana yang betul? Jahmiyah ya kan mengingkari asma was sifat berdasarkan akal. Muktazilah mengingkari semua sifat mengisbatkan asma berdasarkan akal. dan asyairah mengisbat sabu sifat dan apa hanya sabat saja dan mengisbatkan semua asma berdasarkan akal. Pertanyaan saya akal mana yang betul? Itu saja balik sebentar ini e waktu antum masih 3 menit ya dan ee waktu Gus Wfi itu sudah selesai. Apakah mau waktu antum dijawab? Baik, silakan. Silakan sedekahkan 1 menit Ustaz. Iya. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, saya jawab pakai Imam Ibnu Taimiyah. Qala Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya Araddu alal mantiqiin. Apa kata beliau? W yajuzuq analillatah asohiatah anqliyatah tukaliful adillathihatal aqliyatah. Tidak boleh dalil-dalil sahih naqli yang bertentangan dengan dalil-dalil sahih aqli. Berarti apa? Akal boleh dipakai selagi sejalan dengan dalil-dalil naqli. Boleh kita menggunakan akal selama akal kita sesuai dengan dalil di dalam syariat. Kalau tidak sesuai maka tidak boleh kita menggunakan akal. Jadi Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani menguatkan juga pendapatnya di sebagian yang lain dengan pendapat para falasifah. Padahal beliau menentang falasifah tapi giliran beliau dapat poinnya beliau menggunakan penguat sebagai dalil falasifah agar dia bisa didukung oleh pendapat falasifah. Nah di sini beliau mengatakan dalam kitabnya Araddu alal Mantiqiyin, akal yang sahih gak boleh bertentangan dengan dalil yang sahih. Dalil syariat. Berarti akal boleh digunakan selama bersamaan dengan dalil yang sahih. Maksudnya tidak bertentangan. La tukhalif hak. Sekian terima kasih. Terima kasih. Masih ada 1 seteng menit ya. Itu jadi akal mana yang betul gitu kan antara Asyairah mengisbarkan sabus sifat dengan Muktazilah menafikan semua sifat dan Jahmiyah menafikan asmaabus sifat. Akal yang mana? Tiga-tiganya menggunakan akal tuh. Tapi tiga-tiganya berbeda dalam menetapkan. Tiga-tiganya, Gus. Antara Jahmiah, Muktazilah dan Asyairah. Tiga-tiganya menggunakan akal. Menggunakan akal. Jahmiyah menggunakan akal apa namanya? E mentil asma was sifat. Muktazilah mengisbat asma, mentak'til semua sifat. Asyairah hanya mengisbatkan beberapa sifat. Akal mana yang betul? harusnya tidak ada taarud kalau sama-sama menggunakan akal mereka gitu loh. Jadi pertanyaan saya akal yang mana yang betul? Antum kan menyampaikan akal-akal eql alql salim laarushihah kan gitu. Itu itu kita sepakat. Pertanyaan saya akal mana yang betul dari tiga firqah tadi? Wallahualam. Silakan saya kasih 1 menit. Baik. Masih 45 detik. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Sudah saya jawab, Ustaz. Jadi begini, jenengan seharusnya bisa membuktikan taarudnya di mana mazhab Asy'ari ini. Taarudnya di mana mazhab Asy'ari ini? Mazhab Asy'ari itu konsisten, Ustaz. Semua sifat-sifat Allah itu kita gak boleh sama dengan makhluk. Konsisten. Enggak kayak Imam Ibnu Taimiyah. Bahkan saya bisa membuktikan Imam Ibnu Qayyim Aljauziyah pernah berbohong atas ee pendapatnya memahami nas dengan zahir. Imam Ibnu Qayyim Aljauziyah dalam kitab ee Nuniah itu sampai sempat berbohong atas nama Imam Hanafi. Pernah saya bisa membuktikan jadi taarudnya apa? Kita itu konsisten. Semua sifat Allah enggak boleh sama dengan makhluk. Begitu konsisten kita. Karena ada dalil laisa kamli. Sekian cukup. Terima kasih. Alhamdulillah waktunya sudah selesai. Saya satu pertanyaan belum, Gus? Loh, ini sudah selesai tuh waktunya. Aduh, gimana Gus? Satu pertanyaan request satu 1 menit aja boleh enggak tak kasih 1 menitlah. Bagaimana ee persetujuan dari Gus Wafi dulu? Gimana? Jangankan 1 menit, Ustaz. Sampai subuh saya siap, Ustaz. Aman. Ya sudah. Nih terakhir nih, Gus. Ya, 1 menit. Bismillah. Bismillahirrahmanirrahim. Mana tadi ya? Ini e closing pertanyaan dari saya. Iya. mengambil mengimani zahirnya dalil di ranah sifat Allah niku Gus ya mengambil zahirnya dalil di ranah sifat Allah itu kafir dan sesat atau tidak yang antum klaim sebagai Wahabi Salafi ya karena kita beriman sama zahirun nusus dan hakikatnya nya dan hakiha ya kitab yang antum ee sampaikan salafi wahabi gitu kan ya ee apa beriman sama zahirun nusus ya saya pribadi beriman sama zahirun nusus ya kan apakah mengambil zahirnya dalil dan hakikatnya dalil di ranah sifat Allah itu kafir dan sesat atau tidak silakan berarti saya ee tabayun dulu ya berarti ketika yadullah Allah punya nya tangan kayak gini, tangan gini cuma beda kaif enggak? Enggak. Kaifiahnya kita mengingkari kaifiahnya. Maklumatul makna majhulatul kaif itu kami itu sudah maknanya pahami tapi kaifiahnya kita mengingkari sepakat kita. Oke, sudah oke sudah saya kasih 1 menit ya Gus ya. Bismillah. Oke. Ini gini ustaz. Perdebatan di antara kita selama 2 jam. Saya tidak pernah mengatakan dari saya pribadi. Kata Imam Thahawi, man wasofa man wasofallah bimnan min ma'anil basyar faqad kafaru. Orang yang memberikan makna dari sifat-sifat Allah dengan makna yang identik dengan manusia basyar, jisim. Kata Imam Thahawi kafir. Kalau kita melihat di dalam mazhab Hambali, Ustaz, ini mazhab Hambali ini, Ustaz, Nihayatul Mubtadiin fi Ushuliddin. Mazhab hambali. Imam Ibnu Taimiyyah kan mengatakan beliau mazhab Hambali. Nah, di dalam kitab ini jangankan memberikan makna secara ee zahir, maksudnya seperti jisim. Bilang jismun la ajsam itu langsung kafir. Kata mazhab Hambali, bukan kata saya, Ustaz, ya. Bukan kata saya. mengatakan jismun la kal ajsam saja itu sudah sampai kepada taraf kafir karena merendahkan Allah ustaz begitu karena merendahkan Allah jadi bukan kata saya ya kata para ulama ini dan ini juga kita punya mazhab hambali sudah selesai gus sudah selesai sudah selesai ok siap siap siap siap siap belum dijawab atuh antum mengkafirkan atau tidak secara secara pribadi gitu yang beriman sama zahirun khusus lah pribadi saya enggak ustaz enggak beran sudah selesai berarti selesai ya kan enggak berani saya ngomong pribadi kata para ulama seperti ini berarti iya berarti berarti yang beriman sama zahirun nusus ya tidak kafir dan sesat ya sepakat kita kata para ulama kafir ustaz heeh iya sampean gak ikut ulama ok risalahnya al Imam Syafi'i rahimahullahu taala mengatakan wal quranu alairrihi apa tuh maksudnya lah sebentar sebentar sebentar ini sudah memanjang sudah memanjang ee kalau semisal dalam risalah Imam Syafii rahimahullah memang sangat nanggung sekali ya. Kalau semisal ada waktu lebih panjang mungkin bisa kita ee bahas lebih panjang lagi gitu. Tapi karena waktu mungkin kita akan langsung ke closing statement. Bagaimana dari para narasumber? Silakan. Silakan. Ee setuju para narasumber? Heeh. Ya, boleh. Baik. Masyaallah. Terima kasih. Kita langsung ke closing statement. tentang ukhuwah dari Ustaz Thayib nanti 5 menit dan juga dari Ustaz atau Gus Wafi nanti juga 5 menit. Kami mulai dari Ustaz Thayib dulu 5 menit untuk menyampaikan closing statement ukhuwah islaminya. Silakan. Iya. Alhamdulillahiabbil alamin. Amma ba'd pemirsa di mana pun eh antum berada ya eh saya pribadi dengan buswafi ya kan memang secara zahir kita ikhtilaf gitu di diran asma wa sifat kita akan selalu berbeda ya itulah memang Allah takdirkan secara kauni kita akan selalu berbeda. Tapi perbedaan ini ya kan tidak serta-merta membuat permusuhan antara saya dengan Gus Wafi. Beliau adalah saudara saya seiman seislam. Wajib bagi saya menghormati beliau sebagaimana beliau juga menghormati saya. Itu aja. Jadi, alikhtilafu sunatun kauniah wf'uhu ya wful'ul ikhtilaf sunatun syariah. Memang memang secara kauni Allah takdirkan khilaf tapi apa khilaf ini akan menimbulkan permusuhan? Jawabannya tidak. Kita akan selalu bersaudara karena rabbuna wahid. Wallahuam. Silakan Gus. Masih masih 4 menit Ustaz. Kalau ingin cukup silakan Guusafi 5 menit waktunya mulai dari sekarang. Oke. Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Kita telah menyelesaikan diskusi dengan Ustaz Thayib. Sebagaimana apa yang telah beliau sampaikan bahwa diskusi itu hal biasa. Kita adu argumentasi. Bahkan yang pernah mondok di pondok pesantren pasti pernah ikut yang namanya bahsul masail. membahas sebuah masalah yang waqiiah itu sudah biasa. Jangan kemudian diklaim jangan duduk dengan ahli bidah. Jangan narasi-narasi yang membikin perpecahan itu jangan. Kenapa? Saya katakan kepada teman-teman, kekuatan Islam di negara kita ini cuma masyarakat. Kita gak punya kekuatan lagi di Indonesia ini. Makanya mereka di Barat ingin menghancurkan kita, memisahkan kita dengan berbagai hal. Dari pemahaman, dari cara makan, cara fashion. apa tontonan sehingga kita tidak lagi bersatu. Sehingga kita harus menekankan bahwa diskusi ini adalah antar saudara, bukan sedang gontok-gontokan. Makanya saya ketawa, saya santai dengan Ustaz Thayib. Berbeda ketika saya berdiskusi dengan nonmuslim. Saya kalau berdiskusi dengan nonmuslim yang menghina agama saya, maka saat itu saya harus tegas. Dalilnya di mana? Di dalam surah Alfathu. Muhammadur Rasulullah walladina maahu asid alal kuffar. Rasulullah dan orang-orang yang bersama beliau seharusnya ruhama bainahum dan asyiddaal kuffar tegas dengan orang kafir dan saling mengasihi kepada sesama umat Islam. Jangan dijadikan alasan diskusi sebagai pertengkaran. Jangan. Ini tradisi ulama kita Imam Ibnu Taimiyah Al-Harrani berapa kali diskusi dengan orang Jahmiyah, dengan orang Muktazilah, dengan Asy'ari. Apakah kemudian beliau tidak memuji Asy'ari? Beliau sering memuji Imam Asy'ari. Imam Asy'ari ini begini begini meskipun berbeda dalam berbagai pendapat begitu. Nah, maka pertemuan kali ini jadikan ukhuwah islamiah. Karena kata Imam Syafi'i, dosa yang paling besar, yang paling berat dibawa ke akhirat adalah adawah bainal muslimin. Dosa paling besar, yang paling berat dibawa ke akhirat adalah permusuhan sesama umat Islam. Mungkin itu yang bisa alfqir sampaikan. Ikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah para pemirsa sekalian, tidak terasa kita sudah sampai di penghujung dialog ukhuwah dan kita telah mendengarkan argumentasi-argumentasi seakan-akan kita ee mendengarkan kuliah pada malam hari ini dari Gus Wafi dan juga Ustaz Thayib. Masyaallah. Ee sungguh indah sekali kita melihat perbedaan ini. Namun di dalam hati kita terdapat mahabbah, saling cinta. Tidak ada sama sekali dari kita membenci satu sama lain. Karena itu akan menyebabkan perpecahan dan perpecahan itu akan membuat umat Islam lemah. Dan ketika umat Islam lemah, maka kita akan dikalahkan oleh orang-orang di luar Islam. Maka dari itu sangat indah sekali dialog seperti ini dan semoga kita bisa melestarikan dialog-dialog indah seperti ini dan semoga nanti juga ada dialog-dialog selanjutnya dan akan mendatangkan narasumber-narasumber yang lain. Ada beberapa pesan sebenarnya yang ingin ee moderator sampaikan. Terima kasih sekali kehadiran daripada Ustaz Thayib, kemudian dan kehadiran daripada Gus Waaf. Sungguh kami mengapresiasi dengan sangat tinggi kesediaan antum berdua untuk berdiskusi pada malam hari ini. Dan saya juga sebagai moderator pasti ada beberapa kesalahan yang saya lakukan. Saya mohon maaf sebesar-besarnya. Alhamdulillah kita sudah menyelesaikan semua dialog pada malam hari ini dan semoga kita ukhuwah kita semakin kuat dan kita sebagai orang Islam juga semakin kuat. Tidak ada lagi caci maki, tidak ada lagi perbedaan yang menjurus kepada merendahkan satu sama lain. Dan semoga kita menjadi umat yang kuat, umat yang satu, umat yang dibanggakan oleh Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Barakallahu fikum jamian. Terima kasih atas kesempatannya. Barakallahu fikum. Saya Ahmad Rajih selaku moderator memohon maaf atas segala kekurangan selama memandu jalannya diskusi. Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Eh sebelum ee beranjak akan ada penyerahan cendaramata dulu sebelum bersilakan. 1 2 Terima kasih. Selanjutnya mungkin ustaz bersalaman 1 2 3 1 sudah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar