Sabtu, 26 September 2026

Firqoh Al-ahbasy

 Firqoh Al-Ahbasy (atau kelompok Al-Ahbash) adalah sebuah gerakan keagamaan yang didirikan oleh Abdullah al-Harari al-Habasyi (1910–2008), seorang ulama asal Harar, Etiopia, yang kemudian pindah dan mengorganisir pengikutnya di Lebanon pada pertengahan abad ke-20. Di Lebanon, kelompok ini secara resmi bernaung di bawah Jam'iyyat al-Maswari' al-Khayriyyah al-Islamiyyah (Asosiasi Proyek Kebaikan Islam).

Secara umum, mayoritas lembaga ulama mainstream seperti Lajnah Da'imah Arab Saudi, Universitas Al-Azhar (dalam banyak pernyataan ulama seniornya), serta berbagai majelis ulama dunia menilai Al-Ahbasy memiliki berbagai pemikiran yang menyimpang dari arus utama Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Poin-Poin Penyimpangan dan Kritik Terhadap Al-Ahbasy

  1. Gampang Mengkafirkan Ulama dan Umat Islam (Takfir) Al-Ahbasy sangat ekstrem dalam memvonis kafir (takfir) kepada ulama-ulama besar dan kelompok yang berbeda pandangan dengan mereka. Beberapa tokoh yang kerap mereka kafirkan atau tuduh sesat meliputi Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin Abdul Wahhab, Sayyid Qutb, hingga ulama kontemporer seperti Syekh Al-Albani dan Syekh Bin Baz.
  2. Pemikiran Akidah yang Ekstrem (Perpaduan Jahmiyyah & Murji'ah)
    • Masalah Iman: Mereka cenderung mengadopsi paham Irja' (Murji'ah), yaitu menganggap amalan anggota badan bukan bagian inti dari iman, sehingga orang yang meninggalkan kewajiban agama tidak berkurang imannya selama meyakini di dalam hati.
    • Masalah Sifat Allah: Dalam mempraktekkan ilmu kalam, mereka melampaui batas hingga menyerupai paham Jahmiyyah/Mu'tazilah dalam menolak (ta'thil) beberapa sifat Allah yang tertera dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
  3. Penyimpangan dalam Praktik Tawassul dan Tabarruk Mereka membolehkan dan menggalakkan bentuk-bentuk tawassul dan istighatsah (meminta bantuan) kepada orang mati atau wali yang sudah wafat secara berlebihan, hingga pada batas yang dikritik oleh ulama sebagai perbuatan yang mendekati atau termasuk syirik (ghuluw).
  4. Sikap Politik dan Loyalitas yang Kontroversial Di Lebanon dan beberapa negara Barat, Al-Ahbasy dikenal sering bekerja sama dengan rezim politik atau otoritas sekuler untuk menekan kelompok-kelompok Islam lainnya. Mereka kerap dijadikan instrumen politik untuk memecah belah persatuan umat Islam setempat.
  5. Memecah Belah Barisan Umat Islam Di mana pun komunitas Al-Ahbasy berkembang (seperti di Eropa, Amerika, dan Australia), mereka sering membangun masjid tersendiri dan melarang pengikutnya bermakmum di belakang imam di luar kelompok mereka, karena menganggap orang di luar Al-Ahbasy sebagai ahli bid'ah atau kafir.
  6. Fatwa-Fatwa Fikih yang Membingungkan (Taysir al-Mufrith) Mereka memiliki sejumlah fatwa fikih yang mempermudah hal-hal yang dilarang secara melampaui batas demi menarik simpati di negara Barat, seperti membolehkan bertransaksi riba dalam kondisi tertentu di luar negeri Islam, atau kelonggaran berlebihan dalam aturan pergaulan laki-laki dan perempuan.

Lembaga fatwa Arab Saudi (Al-Lajnah ad-Da'imah) secara tegas telah mengeluarkan fatwa yang menyatakan bahwa firqoh Al-Ahbasy adalah kelompok sesat dan menyesatkan, serta mengimbau umat Islam untuk berhati-hati dari pemikiran dan propaganda mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar