Ya, ada. Kutipan dalam foto menunjukkan argumen rasional (dalil 'aqli) dari Imam al-Baihaqi (seorang ulama Asy'ariyah) dalam kitab Al-I'tiqad bahwa Allah wajib berbeda dari makhluk (ilmu Kalam/Tauhid Asy'ariyah/Maturidiyah).
Prinsip dasar ini disetujui oleh seluruh ulama Islam (bahwa Allah tidak serupa dengan makhluk). Namun, metode pendalilan dan penyimpulan tauhid sebagaimana yang ditulis Imam al-Baihaqi tersebut dibantah oleh kelompok ulama Atsariyyah / Salaf / Hanabilah, antara lain:
1. Ibnu Taimiyah & Ibnul Qayyim
- Bantahan: Mereka mengkritik penggunaan dalil 'aqli (filsafat/kalam) yang terlalu mendalam untuk membuktikan perbedaan Pencipta dan makhluk.
- Menurut Ibnu Taimiyah (misalnya dalam Dar'u Ta'arudhal-'Aql wan-Naql dan Al-Hamawiyyah), prinsip Mukhalafatu lil-Hawaditsi cukup didasarkan pada dalil Naqli (Al-Qur'an dan Sunnah, seperti QS. Asy-Syura: 11). Penggunaan argumen pembagian "jihat" (arah), "huduts" (kebaruan), dan "qadim" (terdahulu) secara istilah kalam dipandang dapat menjebak seseorang pada penolakan (ta'thil) terhadap sifat-sifat Allah yang ditetapkan Al-Qur'an.
2. Ulama-ulama Ahlul Hadits & Hanabilah (misalnya Ibnu Qudamah, Ibnul Jauzi, Ibnu Rajab)
- Bantahan: Mereka menolak masuknya terminologi atau metode ilmu kalam (metode pembuktian rasional ala filsafat/mutakallimin) dalam bab penetapan Akidah.
- Menurut mereka, penetapan bahwa Allah berbeda dari makhluk cukup dengan menetapkan nama dan sifat Allah sebagaimana adanya (ithbat) tanpa menyamakan dengan makhluk (tasybih) dan tanpa membaginya dalam terminologi logika rasional yang berlebihan (takwil/ta'thil).
Inti Perbedaannya
- Imam al-Baihaqi (Asy'ariyah): Menggunakan argumen logika rasional untuk membuktikan secara pasti kepada akal bahwa Pencipta (Qadim) dan makhluk (Hadits) berada pada hakikat yang mutlak berbeda.
- Ulama Penentang (Atsari/Salafi): Menerima kesimpulannya (bahwa Allah tidak sama dengan makhluk), tetapi membantah dan menolak metode pembuktian rasionalnya, karena dinilai mengadopsi cara berpikir ahli kalam/filsafat dan dapat berujung pada penafsiran ulang (takwil) terhadap sifat-sifat Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar