[Judul Buku & Penulis] Bantahan Terhadap Pihak yang Mengingkari Huruf dan Suara Karya: Asy-Syaikh Al-Imam Al-Hafizh Abu Nasr Ubaidillah bin Sa'id bin Hatim Al-Wa'ili As-Sijzi (Wafat: 444 H)
[Teks Utama yang Diberi Ciri/Sorotan]
"Dan jika keadaannya demikian, maka setiap orang yang mengklaim (menisbatkan sesuatu) kepada As-Sunnah wajib dituntut untuk membawakan riwayat (naql) yang sahih atas apa yang diucapkannya. Jika ia membawakannya, maka ketahuilah kebenarannya dan ucapannya diterima. Namun jika ia tidak mampu meriwayatkan apa yang diucapkannya dari para pendahulu (salaf), maka ketahuilah bahwa ia adalah seorang pembuat kebid'ahan yang menyimpang, dan ia tidak berhak untuk didengarkan atau didebat dalam ucapannya.
Musuh-musuh kita dari kalangan mutakalimin (ahli kalam) telah diketahui bahwa mereka semua menjauhi riwayat dan pendapat yang berdasarkan riwayat. Bahkan, penghinaan mereka terhadap ahli riwayat sudah jelas, ketidakpastian mereka darinya sangat nyata, dan buku-buku mereka kosong dari sanad. Sebaliknya, mereka mengatakan: 'Al-Asy'ari berkata', 'Ibn Kullab berkata', 'Al-Qalanisi berkata', atau 'Al-Jubba'i berkata'. Maka hal minimal yang wajib bagi seseorang dalam urusan mereka adalah membandingkan apa yang mereka katakan dengan apa yang datang dari Nabi ﷺ. Jika ia mendapatinya sesuai dengan beliau dan dapat dikeluarkan dengannya (sebagai dalil), maka ia menerimanya. Namun jika ia mendapatinya menyelisihi beliau, maka ia membuangnya.
Dan tidak ada perselisihan pula bahwa umat ini dilarang dari membuat hal-hal baru dalam agama. Sudah dimaklumi bahwa orang yang mengatakan apa yang telah tetap melalui jalur riwayat yang sahih dari Rasul ﷺ tidak dinamakan pembuat bid'ah (muhdits), melainkan dinamakan seorang pengikut Sunnah (sunniyyan muttabi'an). Sedangkan orang yang mengatakan suatu pendapat dari dirinya sendiri dan mengklaim bahwa itu adalah konsekuensi dari akalnya, serta menganggap bahwa hadis yang menyelisihi pendapatnya tersebut tidak perlu dipedulikan karena statusnya sebagai kabar ahad—yang menurutnya tidak menghasilkan pengetahuan pasti yang diwajibkan oleh akal—maka ia berhak dinamakan pembuat bid'ah yang menyimpang (muhditsan mubtadi'an mukhalifan).
Barang siapa yang memiliki pemahaman paling dasar sekalipun, niscaya ia mampu membedakan antara kita dan musuh-musuh kita hanya dengan mencermati pasal ini sejak awal lirikan saja, dan ia akan mengetahui bahwa Ahlus Sunnah adalah kita (bukan mereka), sedangkan ahli bid'ah adalah musuh-musuh kita (bukan kita). Dan hanya kepada Allah-lah taufik itu memohon. Selesai."
Halaman: 100 Penerbit: Matabi' Al-Jami'ah Al-Islamiyyah bil Madinah Al-Munawwarah (Percetakan Universitas Islam Madinah)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar