Minggu, 27 September 2026

Asy-'ariyyah dan Maturidiyyah dalam Timbangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah 

 


Berikut adalah terjemahan langsung teks dari gambar tersebut ke dalam bahasa Indonesia:

[Bagian Atas]

6- Al-Amidi berkata seraya menguatkan pendapat lama Abu Al-Hasan Al-Asy'ari bahwa iman adalah pembenaran (at-tasdiq), dan mendiskusikan dalil-dalil pihak yang menyelisihi: (Kebenaran dalam masalah ini tidak keluar dari mazhab Syekh Abu Al-Hasan Al-Asy'ari, yaitu bahwa iman kepada Allah Ta'ala adalah pembenaran hati (tasdiq al-qalb)... Adapun sabda Nabi 'alaihissalam: "Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman", maka kita tidak menerima bahwa perkataan beliau "dalam keadaan beriman" di dalam hadis ini diambil dari kata al-iman [iman], melainkan dari kata al-amn [rasa aman], yang maknanya: Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina sedang ia merasa aman, yaitu: merasa aman dari azab Allah Ta'ala. Dan kalaupun kita menerima bahwa itu diambil dari kata al-iman, tetap wajib membawanya kepada makna iman dengan arti pembenaran (at-tasdiq); karena hal itu sesuai dengan penetapan bahasa. Dan sabda beliau "Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman" dibawa kepada kondisi menganggap halal zina tersebut, sehingga takdir/makna tersiratnya menjadi: Tidaklah seorang pezina berzina sedang ia menganggap halal zinanya dalam keadaan membenarkan [iman], yakni: orang yang membenarkan. Bisa pula maksud dari sabda beliau "Tidaklah seorang pezina berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman" adalah: berada di atas sifat-sifat orang mukmin berupa menjauhi hal-hal yang dilarang. Dan meskipun hal ini menuntut adanya takwil, namun jika kita tidak membawanya kepada hal tersebut, niscaya meniscayakan pembawaan kata iman kepada selain makna aslinya secara bahasa... Adapun perkataan mereka: Sekiranya iman itu adalah pembenaran (at-tasdiq), niscaya orang yang membunuh seorang nabi, atau menghina nabi, atau bersujud di hadapan berhala tidak menjadi kafir jika ia tetap membenarkan [dalam hatinya]! Maka kami katakan: Kami tidak memungkiri bahwa melakukan dosa-dosa besar ini dapat berjalan bersamaan dengan...)

[Catatan Kaki Bagian Atas]

(1) Lihat: ((Tafsir Ar-Razi)) (2/271). Lihat pula: ((Qawa'id Al-'Aqa'id)) karya Al-Ghazali (hal. 248). (2) Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (2475) dan Muslim (57) secara panjang dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

[Bagian Bawah]

Bab Pertama: Asy-'ariyah | Halaman 390

(...keberadaan iman secara akal, hanya saja umat telah sepakat (ijmak) atas kekafirannya. Maka kita mengetahui hilangnya pembenaran (at-tasdiq) saat berbarengan dengan keberadaan dosa-dosa besar ini secara dalil syariat (sam'an). Dan wajib untuk dikatakan hal itu sebagai bentuk penggabungan antara penetapan bahasa dan ijmak umat atas pengkafirannya, dan cara ini lebih utama daripada membatalkan salah satu dari keduanya).

[Catatan Kaki Bagian Bawah]

(1) Rujukan yang sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar